|
Yogya-mu Pengantar Di Yogyakarta "ada banyak hal" yang bisa dilihat baik yang lucu, menjengkelkan, serius, aneh-aneh dan seterusnya. Oleh sebab itu, agar netter bisa menikmati "banyak hal" yang ada di Yogyakarta, TeMBI membidiknya melalui lensa kamera dan disajikan dalam rubrik "Yogya-mu". Jadi dalam rubrik ini siapapun bisa "melihat" Yogyakarta yang bersisi macam-macam. Dari tayangan yang tersedia memang hanya dihadirkan 3 edisi. Edisi sebelumnya tetap bisa dibuka dan dilihat tetapi menggunakan password. Kalau anda adalah netter setia dari tembi.org dan mendaftar serta mengirimkan biodata, secara gratis anda akan dikasih password dan bisa mengakses beberapa rubrik yang memang memerlukan password dalam membuka. Silahkan menikmati Yogya-mu untuk "mengenal" Yogya secara lebih jauh.
DESA WISATA SROWOLAN SLEMAN: Banyak pelaku wisata yang menginginkan keterlibatan langsung antara dirinya dengan masyarakat tempat wisata itu berada. Selain itu banyak juga pelaku wisata yang tidak memiliki banyak waktu untuk melakukan perjalanan wisata ke banyak lokasi wisata. Oleh karena itu pula kemudian muncul gagasan untuk menciptakan lokasi wisata yang di dalamnya hampir seluruh kebutuhan pelaku wisata tersedia. Desa wisata merupakan salah satu jawaban atau alternatifnya. Kini di Kabupaten Sleman terdapat sekitar 36 desa wisata. Salah satunya adalah desa wisata Srowolan. Desa wisata Srowolan sebenarnya terdiri atas tiga padukuhan, yakni Padukuhan Gatep Srowolan, Karanggeneng, dan Gandok Kadilobo. Semuanya masuk dalam wilayah Desa/Kalurahan Purwobinangun, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Desa wisata Srowolan memiliki latar belakang kesejarahan yang menarik. Desa wisata ini memiliki pasar yang dinamakan Pasar Perjuangan Srowolan. Pasar ini dinamakan pasar perjuangan karena memiliki peran yang besar di masa perjuangan fisik ketika Indonesia tengah merebut kedaulatan di tahun 1942-1945. Pada masa itu banyak pasar tradisional mati atau kosong karena ditinggalkan penduduk. Bahkan desa-desa atau dusun juga banyak yang kosong karena banyak ditinggalkan penduduk yang mengungsi menghindari peperangan. Dalam masa perjuangan seperti itulah Pasar Srowolan tetap beraktivitas. Di tempat ini tetap terjadi transaksi jual beli. Barangkali karena lokasi Pasar Srowolan yang cukup tersembunyi menyebabkannya relatif aman dari incaran kaum penjajah. Di pasar ini pulalah para pemuda meminta sumbangan kepada para bakul atau pedagang untuk membantu perjuangan. Dari tangan para bakul inilah pemuda pejuang memperoleh banyak bantuan baik berupa uang maupun bahan makanan sebagai bekal melawan penjajah di medan perang. Tidak aneh jika kemudian Pasar Srowolan ini dinamakan Pasar Perjuangan. Pasar yang didirikan sejak tahun 1921 dan menempati tanah kasultanan ini sampai sekarang masih menampakkan wujud ketradisionalannya. Kecuali aspek kesejarahannya, Srowolan sebagai desa wisata juga memiliki banyak kelebihan lain. Kelebihan-kelebihan tersebut di antaranya dengan terdapatnya Sanggar Budaya Sayuti Melik. Seperti diketahui Sayuti Melik adalah tokoh perjuangan yang mengetik naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Sayuti Melik lahir di desa ini. Desa Srowolan juga memiliki 3 sumber mata air alami yang dinamakan Belik Nyamplung, Belik Kepepet, dan Belik Kemantren. Ketiga belik ini merupakan sumber pengairan dan keperluan hidup masyarakat setempat. Desa ini juga kental dengan tradisi pertaniannya. Di tempat ini pula wisatawan dapat terlibat langsung dengan berbagai aktivitas petani seperti ngluku (membajak), tandur (menanam), dhangir (menyiangi), atau panen salak di perkebunan salak yang ada di tempat itu. Desa Srowolan juga masih melestarikan tradisi Jawa seperti kenduri, gotong royong, merti dusun, karawitan, dan sebagainya. Wisatawan pun dapat terlibat langsung dalam acara-acara tersebut. Di tempat ini pulalah cikal bakal Kecamatan Pakem terbentuk. Sebelum Kecamatan Pakem terbentuk seperti sekarang, Srowolan telah berdiri sebagai kemantren. Bangunan bekas kantor kemantren itu sampai sekarang juga masih dilestarikan di tempat ini. Berawal dari Kemantren Srowolan inilah kemudian berkembang menjadi Kecamatan Pakem. Desa wisata Srowolan juga dilengkapi dengan kawasan yang dinamakan Banyu Sumilir. Nama Banyu Sumilir diambilkan dari dua istilah yakni banyu dan sumilir. Banyu artinya air dan sumilir artinya bertiup sepoi-sepoi. Kedua istilah ini diambil berdasarkan kekayaan alam setempat. Seperti diketahui, lingkungan alam di Srowolan memang masih terbilang relatif asri, jauh dari kebisingan, jauh dari polusi. Air yang mengalir di saluran-saluran irigasi di tempat ini masih bening. Masyarakat setempat memiliki kesadaran kuat untuk tidak mencemari air karena air merupakan sarana utama bagi kehidupan mereka dan juga untuk pertanian serta perikanan di tempat itu. Kekayaan air yang melimpah dan bening di tempat inilah yang kemudian menumbuhkan ide untuk memberi nama Banyu Sumilir. Demikian seperti tutur H. Mardiono (65) selaku salah satu pengelola arena out bond di Banyu Sumilir. bersambung ..... foto dan teks : a sartono PESONA KEBUN BUAH NAGA DI LERENG MERAPI (II) Ketika tanamannya menghasilkan buahnya, Pak Topo merasa kesulitan untuk memasarkan hasil panennya. Ia mencoba turun tangan sendiri dengan membina 42 pedagang buah di kaki lima agar mau menyalurkan produknya. Jumlah pedagang sebanyak itu meliputi wilayah Yogyakarta dan Surakarta. Tidak semua penjual buah mau. Maklum, buah naga masih asing dan dianggap mahal harganya. Pak Topo pun mengamati pasar. Ia tahu bahwa orang yang mencari buah naga adalah orang yang mengerti kesehatan sekaligus mempunyai uang agak berlebih. Inilah yang dibidik oleh Pak Topo. Orang-orang ini akan menjadi bukan hanya pembeli, namun pelanggan. Lebih-lebih Pak Topo mampu menjamin kualitas buah naga organik dengan rasa yang lebih enak dan segar daripada buah naga impor. Buah naga dipercaya mampu mencegah asam urat, meningkatkan daya tahan atau semangat, memperlancar peredaran darah, menyeimbangkan kadar gula darah, menetralisir racun dalam darah, mencegah darah tinggi, mencegah kanker usus, mencegah kencing manis, menguatkan fungsi ginjal dan tulang, menurunkan kadar kolesterol jahat, menurunkan tekanan emosi, memperlancar buang air besar, merawat kulit dan kecantikan. Dengan sengaja Pak Topo menyalurkan buah naganya pada pedagang kaki lima karena ia memang ingin memberikan pendapatan lebih pada orang kebanyakan. Bukan pada pedagang besar dengan modal besar. Kualitas buah naga organiknya juga dijaganya dengan baik sehingga produknya memang terpercaya. Semua itu terjadi karena prinsip kejujuran telah menjadi filosofi hidupnya. Ia juga berpesan pada semua petani agar bisa bertani dengan jujur sebab ketidakjujuran hanya akan jadi bumerang bagi petani itu sendiri. Pak Topo juga memberikan secara gratis 3 tonggak beton plus benih buah naga kepada masing-masing warga di sebuah dusun. Satu tonggak beton ini digunakan untuk merambatkan 4 buah benih tanaman buah naga. Jadi, masing-masing warga mendapatkan 12 benih tanaman buah naga. Ia ingin warga tersebut dapat mengonsumsi buah naga sendiri sebagai buah yang menyehatkan. Kecuali itu jika ingin menjual produknya, mereka dapat menyalurkannya kepada Sabila Farm. Sebuah perusahaan salon kecantikan yang memiliki cabang cukup banyak di berbagai tempat juga mengandalkan buah naga dari Pak Topo atau Sabila Farm untuk perawatan kecantikan. Hal itu terjadi karena produk buah naga Pak Topo yang organik dan terjaga mutunya. Apa yang terjadi dengan hal ini merupakan salah satu keberhasilan cita-cita Pak Topo untuk mengurangi buah impor. Dalam perkembangannya, buah naga Sabila Farm telah merambah pasar di Bandung, Jakarta, Makasar, Medan, dan Surabaya. Pasar atau penyalur di wilayah-wilayah itu selalu minta dikirimi buah naga yang ditanam Pak Topo ini. Mereka percaya dengan khasiat buah naga produksinya karena mereka memang bisa merasakan peningkatan kesehatannya setelah mengkonsumsi buah naga ini. Kesuksesan yang mulai dipetik Pak Topo membuat ia menambahkan lahan baru bagi pertaniannya seluas 4 hektar di wilayah Turi. Total ia telah memiliki lahan jadi 5,7 hektar. Saat ini ia juga tengah menggarap lahan baru lagi yang menyatu dengan lahan Sabila Farm yang telah jadi dengan luasan sekitar 2 hektar. Jika dihitung-hitung dalam sekali panen Pak Topo dapat memetik hasil Rp 25.000,- x 5.700 = Rp 132.500.000,- Pak Topo masih mencita-citakan untuk dapat memiliki lahan seluas 300 hektar. Lahan seluas itu akan ditanaminya dengan berbagai macam tanaman buah-buahan. Di dalamnya akan didirikannya gazebo, arena bermain, arena outbond, game, tempat pelatihan, dan sebagainya. Sejak awal ia telah menerapkan konsep bertani yang disebutnya PAWITAN yang merupakan kependekan dari Pasar, Wisata, dan Tani. Ketiga hal itulah yang ingin dilakukan Pak Topo. Hal itu pun telah diterapkannya di Sabila Farm. Banyak investor ingin menanamkan modal kepadanya, namun hal itu tidak diterima Pak Topo. Ia tidak mau menerima dana investor karena ia memang ingin mandiri. Keberhasilan Pak Topo dengan Sabila Farm yang kondang dengan Merapi dragon fruit-nya ini akhirnya menjadikan banyak pihak ingin menimba ilmu kepadanya. Orang yang datang ke tempat ini bisa perorangan maupun kelompok. Untuk urusan ini ia tidak memasang tarif yang baku. Semuanya disesuaikan dengan sikon. Bagi anak-anak sekolah (SD-SMP) bahkan diterapkan tarif yang sangat murah. Kini kebun buah Merapi dragon fruit ini menjadi salah satu ikon baru wisata lereng Merapi. Di sini Anda akan melihat betapa suburnya tanaman buah naga yang bergelantungan buahnya di bulan Oktober-April. Anda bisa menikmati manis dan segarnya buah naga organik di tempat ini sambil menikmati indahnya panorama lereng Merapi dan sejuk segarnya hawa pegunungan. Anda bisa bersantai, bercengkerama, makan, minum di gazebo-gazebo yang dibuat dari bambu dan kayu di tengah-tengah kebuh buah naga. sartono PESONA KEBUN BUAH NAGA DI LERENG MERAPI (I) Hadirnya buah naga di Indonesia masih merupakan sesuatu yang baru. Buah ini mulai umum dikenal di Indonesia pada sekitar tahun 2000-an. Belum banyak orang yang paham dalam pembudidayaan buah naga ini. Maklum, jenis tanaman buah naga memang bukan tanaman asli Indonesia. Tanaman ini masih satu keluarga dengan kaktus-kaktusan dan umum dijumpai di Mexico dan Costa Rica. Pendeknya, tanaman ini berhabitat di daerah panas (gurun). Di tangan Ir. H. MG. Sutopo (51) mitos buah gurun ini bisa dipecahkannya dengan menanamnya di lereng Gunung Merapi yang berhawa sejuk dengan curah hujan yang lumayan tinggi. Kebun buah naga yang dikembangkan menjadi agrowisata ini beralamat lengkap di Jl. Kaliurang Km 18,5 Ngangkruk, Kertodadi, Pakembinangun, Pakem, Sleman. Lokasinya amat mudah dijangkau. Baik dengan kendaraan roda 4 maupun roda 2. Gagasan untuk menanam buah naga muncul dalam diri Pak Topo pada tahun 2004 ketika ia tengah menunaikan ibadah haji bersama istri tercintanya, Ir. Hj. Elly Mulyati (51). Setelah sebelumnya sempat bergelut dengan aneka tanaman buah seperti melon dan semangka. Sebelum itu ia juga pernah menjadi PNS, namun hanya kuat bertahan selama 2 tahun. Ketika ia menemukan tanah yang menjadi lahan perkebunan buah naga yang sekarang menjadi Sabila Farm pun ia merasakan tanah tersebut sudah rusak dan bercadas. Maklum, ia memang ahli untuk urusan tanah. Selain itu letak tanahnya miring-miring tidak teratur. Ia pun berpikir keras untuk mengolah tanah seluas 1,7 hektar ini. Ketika ia mulai mengolah tanah pada tahun 2005, orang-orang di sekitar tempat itu juga merasa heran. Warga setempat mengatakan bahwa lahan yang digarapnya merupakan tanah yang wingit atau angker. Pak Topo tidak mempedulikannya. Prinsipnya karena ia memang bertujuan baik. Ia ingin mengolah lahan tersebut menjadi lahan yang dapat memberikan kehidupan tidak saja bagi dirinya sendiri, namun juga bagi banyak orang. Bibit buah naga dari Taiwan pun mulai ditanamnya setelah terlebih dulu ia belajar banyak dari instruktur pertanian buah naga dari Taiwan tersebut. Instruktur dari Taiwan itu bahkan menertawakan tindakan Pak Topo. Pasalnya lahan yang ditanami buah naga oleh Pak Topo ini berada 500 meter dpl. Sedangkan buah naga yang dikenal selama ini hidup pada lahan yang terletak 200 meter dpl. Selain itu buah naga dikenal membutuhkan iklim yang cenderung panas. Apa yang dilakukan Pak Topo berkebalikan dengan konsep atau teori yang selama ini dikenal. Bahkan selain berhawa sejuk, wilayah Pakem juga dikenal memiliki curah hujan yang cukup tinggi. Semuanya itu bertentangan dengan konsep pertanian buah naga yang selama ini dikenal. Apa yang dilakukan Pak Topo ini dicibir banyak orang termasuk PPL. Pak Topo yang lulusan IPB dan ahli pertanahan ini tetap bertekun dengan usahanya yang bertentangan dengan teori itu. Banyak kegagalan yang dia dapatkan karena waktu itu ia memang belum mengenal betul karakter tanaman buah naga. Literatur dan sumber-sumber lain tentang teknologi pertanian buah naga sendiri pada waktu itu nyaris tidak ada. Pak Topo berusaha mencari dengn percobaannya sendiri. Tidak mudah memang. Pak Topo mengistilahkan sampai berdarah-darah dalam menjalani proses pertanian buah naganya. Jenis tanaman ini jika kurang air akan layu. Jika kebanyakan air akan membusuk. Selain itu jenis tanaman ini juga tidak bebas hama. Hama bekicot, belalang, dan semut adalah ancaman serius terhadap tanaman ini. Belum lagi jamur, virus, dan bakteri. Semua kesulitan itu dihadapi dengan tabah oleh Pak Topo yang selalu didampingi istri tercintanya. Tekad bertani buan naga secara organik tetap dilakukannya dengan penuh cinta. bersambung sartono |