Yogya-mu

Pengantar

Di Yogyakarta "ada banyak hal" yang bisa dilihat baik yang lucu, menjengkelkan, serius, aneh-aneh dan seterusnya. Oleh sebab itu, agar netter bisa menikmati "banyak hal" yang ada di Yogyakarta, TeMBI membidiknya melalui lensa kamera dan disajikan dalam rubrik "Yogya-mu". Jadi dalam rubrik ini siapapun bisa "melihat" Yogyakarta yang bersisi macam-macam. Dari tayangan yang tersedia memang hanya dihadirkan 3 edisi. Edisi sebelumnya tetap bisa dibuka dan dilihat tetapi menggunakan password. Kalau anda adalah netter setia dari tembi.org dan mendaftar serta mengirimkan biodata, secara gratis anda akan dikasih password dan bisa mengakses beberapa rubrik yang memang memerlukan password dalam membuka.

Silahkan menikmati Yogya-mu untuk "mengenal" Yogya secara lebih jauh.


SADAPAN AIR KAMIJORO, SENDANGSARI, PAJANGAN, BANTUL:
SALURAN IRIGASI BESAR DI JOGJA SELAIN SELOKAN MATARAM

Persoalan air merupakan persoalan yang amit vital bagi kehidupan seluruh makhluk hidup. Tidak aneh jika ada pepatah yang mengatakan bahwa di mana ada air di situ terdapat kehidupan. Untuk itu pulalah manusia di atas bumi ini selalu berusaha mengelola keberadaan air untuk menunjang dan mensejahterakan kehidupannya.

Sungai Progo yang berhulu di Jawa Tengah dan mengalir ke selatan kemudian menjadi batas wilayah Kabupaten Sleman dan Bantul di sisi timur dan Kulon Progo di sisi barat telah lama dimanfaatkan airnya untuk kehidupan manusia. Entah itu untuk sarana transportasi, irigasi sawah dan kolam, maupun untuk keperluan lain. Keberadaannya telah menginspirasi banyak pemikir untuk menyadap airnya guna memberikan kehidupan yang lebih baik bagi wilayah-wilayah yang membutuhkan banyak pasokan air.

Tidak mengherankan jika Sungai Progo disadap airnya di daerah Bligo, Ngluwar, Magelang, Jawa Tengah untuk kemudian airnya dialirkan ke timur (Sleman) dan berakhir di Sungai Opak. Sebelum itu dilaksanakan, ada semacam kepercayaan yang beredar di masyarakat Yogyakarta (atau Jawa) yang menyatakan bahwa jika Sungai Progo dan Sungai Opak dapat dikawinkan, maka rakyat Yogyakarta akan makmur. Pada waktu itu hal semacam itu dirasa mustahil terjadi mengingat jarak kedua sungai itu cukup jauh (27-kilometeran). Akan tetapi ketika hal itu diwujudkan dengan pembuatan saluran atau Selokan Mataram, warga Yogyakarta pun akhirnya tersadarkan, kemakmuran akan segera terwujud. Buktinya, sekian ribu hektar sawah atau lahan bisa terairi dengan baik. Debit air tanah di sekitar aliran Selokan Mataram juga meningkat. Itulah kemakmuran.

Hal yang sama terjadi juga dengan dibangunnya selokan, intake, atau penyadapan air di bagian hilir Sungai Progo, yakni di Kamijoro, Sendangsari, Pajangan, Bantul. Penyadapan air di wilayah ini mampu menyuplai irigasi pada 11 kecamatan di wilayah Kabupaten Bantul. Sedangkan jumlah kecamatan di Kabupaten Bantul ada 17. Itu artinya hampir 80 prosen kecamatan di Bantul bisa diairi melalui penyadapan atau intake di Kamijoro ini. Penyadapan air di Kamijoro ini dilengkapi dengan gejlig atau pintu air yang dapat diatur dengan sistem buka-tutup dengan menggunakan sistem ulir pada poros besi yang disambungkan daun pintu air gejlig. Dengan demikian, distribusi air ke wilayah hilir dapat diatur dari tempat ini.

Sungai Progo dipilih untuk disadap airnya karena sungai ini dianggap memiliki debit air normal, yakni debit air rata-rata yang dihitung di musim kemarau. Selain itu, Sungai Progo juga mempunyai keletakan yang dekat dengan Kabupaten bantul. Sungai ini di bagian selatan memang menjadi pembatas wilayah Kabupaten Bantul dan Kabupaten Kulon Progo. Selain itu penyadapan dilakukan di Kamijoro karena Kamijoro memiliki posisi lebih tinggi dari kecamatan-kecamatan (11 kecamatan) lain di Bantul. Dengan demikian telah diperhitungkan bahwa air yang berasal dari Kamijoro akan mampu menjangkau 11 kecamatan tersebut.

Jika kita simak saat ini pada sadapan Sungai Progo di Kamijoro ini terdapat onggokan besi yang jika dilihat bentuknya menunjukkan bahwa onggokan besi-besi tua itu dulunya merupakan mesin pompa air. Onggokan mesin pompa yang tidak lagi berfungsi ini memiliki merk Ruston Lincoln, England. Menurut sumber setempat mesin pompa ini dulunya berfungsi untuk mengaduk dan menyedot endapan lumpur di mulut saluran penyadapan yang dilengkapai semacam kolam untuk pengendapan lumpur atau material lain.

Selain berfungsi untuk penyuplai air di wilayah Bantul, penyadapan air Sungai Progo di Kamijoro ini juga sering digunakan untuk tempat bersantai dengan memancing atau sekadar duduk-duduk menikmati keindahan Sungai Progo atau alam sekitar.

Pada sadapan Kamijoro ini juga terdapat prasasti peletakan batu pertama yang ditandatangani oleh Sri Sultan Hamengku Buwana VIII dan Residen Jogja yang bernama P.W. Jonquiere. Peletakan batu pertama itu terjadi tanggal 28 Februari 1924. Bunyi prasasti tersebut adalah sebagai berikut.

Op den 28 sten Februari 1924
weerd deze eerste steen gelegd door
Z.H. den Sultan van Djokdjakarta HB VIII
En
Den Resident van Djokdjakarta
P.W. Jonquiere

Foto dan teks: a. sartono


MINGGIR: SENTRA PENGRAJIN BESEK DI SLEMAN

Minggir merupakan salah satu nama kecamatan di Kabupaten Sleman. Kecamatan ini merupakan kecamatan di Kabupaten Sleman dengan keletakan di sisi barat dan berbatasan langsung dengan Sungai Progo yang memisahkannya dengan wilayah Kabupaten Kulon Progo. Minggir sejak dulu terkenal sebagai wilayah di Sleman bagian barat dengan hasil pertanian utama berupa padi. Orang sering juga menyebutkannya sebagai gudang beras Kabupaten Sleman.

Kecuali sebagai penghasil beras, kecamatan Minggir juga terkenal sebagai penghasil kerajinan anyaman bambu, utamanya besek dan tenggok (keranjang). Tidak ada catatan yang akurat kapan kerajinan semacam itu mulai ada di wilayah Minggir. Menurut salah seorang penduduk setempat yang bernama Darmo Sutrisno (72) yang beralamatkan di Sragan, Sendangmulyo, Minggir, Sleman, kerajinan besek di wilayahnya telah berlangsung sejak nenek moyang yang ia sendiri tidak tahu kapan persisnya. Hal yang sama juga diakui oleh Supardi (54) yang tinggal di Pranan, Sendangsari, Minggir, Sleman. Menurut pengakuannya, kerajinan besek itu telah berjalan dari generasi ke generasi. Semuanya berjalan begitu saja.

Tidak mengherankan jika hampir semua orang di kedua wilayah itu bisa menganyam (membuat) besek sejak mereka masih berusia kanak-kanak sebab hampir semua orang dewasa di tempat itu memang pengrajin besek atau tenggok. Bagi mereka kegiatan tersebut merupakan kegiatan yang sudah mendarah daging. Sulit dilepaskan dari keseharian mereka. Kerajinan itu pulalah yang turut menghidupi mereka. Bahkan tidak jarang kerajinan semacam itu menjadi mata pencaharian pokok bagi mereka yang tidak punya pekerjaan entah sebagai petani atau karyawan, baik PNS maupun swasta.

Bahan baku anyaman besek dan tenggok adalah bambu apus. Bambu jenis inilah yang paling baik, paling ulet, sekaligus paling lemas jika digunakan sebagai anyaman. Sedangkan bambu jenis lainnya agak sulit digunakan sebagai bahan baku karena di samping keras, kaku, dan getas (mudah patah), bambu jenis lain juga memiliki karakter relatif mudah dimakan ngengat. Sayangnya, bambu apus dan bahkan bambu jenis lain di wilayah ini sekarang relatif sukar didapatkan. Setidaknya hal itu terjadi di Pranan dan Sragan. Untuk itulah mereka terpaksa membeli bambu dari luar wilayah mereka. Untuk satu batang bambu apus ukuran sedang mereka harus mengeluarkan uang sebesar Rp 10.000,- sedangkan untuk bambu ukuran relatif besar dan panjang bisa mencapai Rp 12.000,- sampai Rp 15.000,-.

Untuk satu batang bambu ukuran sedang mereka bisa menghasilkan 40 besek (20 tangkep atau 20 stel-wadah dan tutupnya). Sedangkan untuk bambu ukuran relatif tebal, besal, dan panjang bisa menghasilkan 60-80 besek (30-40 tangkep). Sedangkan untuk satu tangkep besek biasanya dihargai sekitar Rp 600,- - Rp 700,-. Artinya, jika mereka mampu menghasilkan 20 tangkep dari 1 batang bambu, mereka bisa meraup uang sebesar 20 x Rp 700,- = Rp 14.000,-. Itu artinya untung yang mereka dapatkan adalah Rp 4.000,- (setelah dikurangi harga bambu senilai Rp 10.000,-). Jika bambu tersebut merupakan hasil tanaman mereka sendiri tentu keuntungannya bisa jauh lebih berlipat. Jika satu keluarga beranggotakan 4 orang dan masing-masingnya bisa menghasilkan 20 tangkep, maka dalam sehari mereka bisa menghasilkan 20 x 4 = 80 tangkep. Artinya, keuntungan dalam satu keluarga bisa mencapai 4 x Rp 4.000,- = Rp 16.000,-.

Salah satu kemudahan atau keuntungan para pengrajin ini adalah bahwa mereka tidak perlu lagi menjual produknya ke kota atau keluar dusun sebab setiap sore sudah ada pengepul yang datang ke kampung-kampung mereka untuk menampung produk mereka. Selain itu ada pula orang-orang yang secara rutin datang yang menawarkan bambu apus untuk bahan kerajinan mereka. Hal itu tentu saja mengurangi biaya transportasi para pengrajin.

Ada hal yang patut dicatat dari kebiasaan pengrajin ini, yakni sampai saat ini mereka tidak begitu suka menggunakan kotak atau tempat makan yang terbuat dari kertas (dos atau plastik). Di samping hal itu menjadi pesaing bagi produk mereka, mereka terlanjur menikmati dan mencintai wadah yang terbuat dari bambu ini. Bagi mereka wadah dari bambu dirasakan lebih awet, elastis, tahan air, tidak kedap udara, dan aroma yang dikeluarkan oleh bambu membuat aroma makanan yang diwadahinya terasa lebih sedap dan alamiah. Tidak mengherankan jika mereka mengadakan hajatan, hantaran yang dinamakan ulih-ulih atau kenduri selalu mereka wadahi dalam wadah yang terbuat dari bambu (besek/tenggok).

Jika Anda berkunjung ke wilayah-wilayah tersebut Anda akan dapat segera menangkap suasana desa yang tenang. Jauh dari hiruk pikuk. Orang-orangnya tampak saling akrab dan rukun. Mereka menganyam dan menganyam untuk mengisi waktu senggangnya. Sambil menganyam itu mereka bisa berbincang, bercanda, atau ngobrol mengenai apa saja.

Terhamparnya bilah-bilah bambu dalam ukuran tertentu yang sering kelihatan di kiri kanan jalan dusun atau pekarangan merupakan pemandangan yang sangat biasa di wilayah ini. Itu adalah bahan anyaman untuk besek atau tenggok.

Sampai kapankah wadah yang terbuat dari bahan baku bambu ini mampu bertahan menghadapi pesaingnya yang terbuat dari kertas, plastik, atau logam? Kita tidak bisa menjawabnya dengan kepastian.

Foto dan teks: a sartono


RUMAH DOME: HUNIAN BARU YANG MENJADI OBJEK WISATA BARU DI PRAMBANAN, SLEMAN

Gempa yang menghancurkan Bantul, sebagian Sleman, Yogya, Klaten, dan Kulon Progo pada 27 Mei 2006 telah meninggalkan luka batin dan fisik yang traumatik. Salah satu wilayah yang dinyatakan tidak lagi layak dan aman untuk dihuni adalah Dusun Nglepen, Sumberharjo, Prambanan, Sleman. Dusun ini berada di lereng sebuah bukit (hingga puncak). Bukit tersebut merupakan rangkaian dari Perbukitan Seribu yang menyambung hingga Gunung Kidul-Klaten-Wonogiri. Jika dilihat pada keletakannya, Perbukitan Nglepen ini sangat dekat dengan batas wilayah Kabupaten Bantul di bagian timur-utara (Piyungan). Lokasi ini merupakan lokasi yang dilalui sesar Opak-Oya.

Oleh karena keletakan Dusun Nglepen yang demikian itu, maka posisinya menjadi demikian rawan oleh guncangan gempa. Tidak mengherankan ketika terjadi gempa, Nglepen bisa dikatakan hancur lebur. Bahkan ada sebagian tanahnya yang amblas sedalam 10 meter dengan rekahan selebar 12 meter. Selain itu ada juga rumah yang bergeser keletakannya hingga sejauh 30-an meter dari tempatnya semula. Bayangkan sendiri bagaimana tingkat kengerian yang terjadi sewaktu gempa itu terjadi.

Menurut penelitian, lapisan tanah di Nglepen hanya memiliki ketebalan rata-rata 2,5 meter saja. Sementara lapisan di bawahnya berupa batuan keras. Jadi, lapisan tanah setebal itu tidak akan mungkin mampu meredam hentakan gempa dan ancaman bahaya longsor. Berdasarkan hal itu, maka kemudian diputuskan untuk relokasi bagi warga Nglepen. Pilihan pun dijatuhkan pada sebidang tanah kas milik desa/kelurahan Sumberharjo. Tanah ini berada di bagian bawah (lembah) Dusun Nglepen yang semula disewakan untuk lahan tanaman tebu seluas 2,5 hektar dengan luas tanah rata-rata per unit rumah sekitar 40-an meter persegi.

Bekas lahan tebu itu kemudian disulap menjadi area pemukiman dengan unit-unit rumah yang dibangun seperti kubah. Unit-unit rumah dengan bentuk seperti kubah ini kemudian dikenal sebagai Rumah Dome, namun masyarakat setempat sering menamakannya Rumah Teletubbies, atau Rumah Eskimo (Iglo). Bangunan rumah-rumah sebanyak 80 unit ini demikian kelihatan mencolok jika dibandingkan dengan rumah-rumah di sekitarnya karena bentuknya yang cukup aneh atau asing bagi masyarakat setempat.

Delapan puluh unit bangunan itu terdiri atas 71 unit bangunan rumah hunian untuk 71 KK, 6 unit bangunan untuk MCK komunal, 1 unit bangunan masjid, 1 unit bangunan TK, dan 1 unit bangunan untuk Polindes. Unit-unit rumah ini dibangun atas bantuan dari DFTW (Domes for The World), Texas, Amerika Serikat yang bekerjasama dengan WANGO (World Association of The Non-Government Organization).

Menurut Darmorejo (60), salah satu penghuni Rumah Dome di Blok E No. 1, Rumah Dome pada mulanya memang dirasakannya sebagai asing. Maklum bangunan semacam itu memang tidak lazim di Indonesia. Akan tetapi setelah beberapa lama ia dan keluarga menghuni rumah ini ia merasa mulai bisa berdaptasi. Rasanya tidak berbeda jauh dengan rumah biasa. Dulu, jika hujan Rumah Dome mudah terkena tampias air karena ventilasi dan pintunya yang tanpa emper (pelindung air) di bagian atasnya. Namun dengan berbagai perbaikan hal itu tidak lagi terjadi.

Tembi yang menyempatkan diri untuk masuk, melihat-lihat, dan memotret ruang dalam Rumah Dome ini merasakan bahwa sistem rumah bundar seperti kubah ini terasa mengaburkan orientasi kita terhadap arah mata angin. Maklum rumah berbentuk kubah ini memang tidak menekankan orientasi arah hadap dan pembagian ruangnya pada konsepsi arah mata angin. Rumah dua lantai yang pembangunannya dikonstruksi untuk tahan gempa ini memiliki dua lantai. Dua kamar tidur, 1 kamar tamu merangkap kamar keluarga, dan 1 ruang dapur ditempatkan di lantai pertama. Sedangkan lantai kedua (atas) merupakan ruang yang difungsikan untuk multi guna (tanpa sekat). Ruang di lantai dua ini bisa difungsikan untuk gudang, ruang santai, ruang baca, dan lain-lain. Tinggi rumah ini tiga meter dengan diameter sepanjang tujuh meter.

Satu hal yang mungkin agak menyulitkan warga yang tinggal di Rumah Dome adalah karena mereka tidak bisa lagi dekat ternaknya. Tidak bisa lagi dekat dengan kebun dan halamannya yang luas karena semua sudah dikapling dengan ukuran tertentu (sempit), demi pembagian ruang serta lahan yang adil. Akibatnya, banyak juga warga yang masih sering bolak-balik dari Kompleks Rumah Dome (New Nglepen) ke rumah/pekarangan lamanya (Nglepen Lama) untuk mengurus ternak atau tanamannya.

Kini kompleks Rumah Dome ini menjadi salah satu objek wisata yang cukup menarik karena bentuknya yang unik. Kehadirannya mungkin menjadi semacam kelengkapan atau variasi objek wisata di kawasan Prambanan yang terkenal karena kekayaan kandungan BCB-nya.

Rumah Dome bagaimanapun juga telah sangat membantu kehidupan warga Nglepen yang di kala gempa sudah kehabisan harapan hidup. Kehadiran Rumah Dome mampu membangun harapan-harapan hidup warga Nglepen sehingga mereka mampu bertahan menjalani rentang kehidupan yang masih panjang.

a sartono dan a barata


Edisi Sebelumnya ...