|
Yogya-mu Pengantar Di Yogyakarta "ada banyak hal" yang bisa dilihat baik yang lucu, menjengkelkan, serius, aneh-aneh dan seterusnya. Oleh sebab itu, agar netter bisa menikmati "banyak hal" yang ada di Yogyakarta, TeMBI membidiknya melalui lensa kamera dan disajikan dalam rubrik "Yogya-mu". Jadi dalam rubrik ini siapapun bisa "melihat" Yogyakarta yang bersisi macam-macam. Dari tayangan yang tersedia memang hanya dihadirkan 3 edisi. Edisi sebelumnya tetap bisa dibuka dan dilihat tetapi menggunakan password. Kalau anda adalah netter setia dari tembi.org dan mendaftar serta mengirimkan biodata, secara gratis anda akan dikasih password dan bisa mengakses beberapa rubrik yang memang memerlukan password dalam membuka. Silahkan menikmati Yogya-mu untuk "mengenal" Yogya secara lebih jauh. MAKAM PAHLAWAN DI LUAR TAMAN MAKAM PAHLAWAN Istilah pahlawan tanpa tanda jasa tentu kita kenal, yakni yang disebut sebagai guru. Mungkin agak lain dengan dosen sekalipun keduanya memiliki kewajiban dan tugas yang sama: mentransfer ilmu pengetahuan kepada peserta didik dan sekaligus mengajarkan budi pekerti yang baik. Jika nasib guru banyak yang kapiran, maka nasib dosen bisa dibilang justru sebaliknya. Pahlawan tanpa tanda jasa sesungguhnya juga bukan hanya guru. Banyak orang-orang yang memiliki dedikasi tinggi terhadap tugasnya dan tanpa pamrih layak disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Bahkan orang-orang semacam itu juga tidak dibuatkan lagu, tidak dipublikasikan, bahkan tidak pernah hinggap dalam memori orang lain sebagai sosok yang memiliki jasa. Orang semacam itu memang tidak memiliki tendensi supaya dianggap, dihormati, dikenang, apalagi di-kathok-i Pahlawan tanpa tanda jasa juga bisa dipakai sebagai predikat bagi para pejuang kemerdekaan yang jasadnya bergelimpangan begitu saja di medan laga. Banyak dari mereka yang gugur begitu saja tanpa pernah diketahui asal-usulnya, namanya, keluarganya, dan sebagainya. Orang-orang semacam ini datang ke medan laga dengan suka rela, bahkan dengan modal seadanya: keberanian thok ! Kadang mereka maju ke medan laga hanya bersenjatakan bambu runcing atau senjata tajam yang notabene pasti kalah dengan senjata lawan yang sudah modern dan otomatis. Ada begitu banyak pahlawan jenis di atas dan ketika mereka berguguran di medan perang, tidak ada satu orang pun yang mengenalnya. Padahal jasa mereka begitu besar. Mereka dengan rela mengorbankan nyawanya untuk dapat mengusir penjajah. Membendung serbuan musuh. Mereka maju ke medan perang tidak dengan pikiran agar mendapatkan imbalan, sanjungan, penghormatan, ucapan terima kasih, dan seterusnya. Mereka maju perang ya maju perang begitu saja. Kalaupun toh harus gugur di medan perang, itu adalah resiko yang sudah mereka perhitungkan dan akan mereka terima dengan lapang dada. Dalam Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta, kontak senjata antara Belanda dan masyarakat Yogyakarta telah mengakibatkan jatuhnya korban jiwa di kedua belah pihak. Jasad-jasad dari para pejuang yang bergelimpangan akhirnya dikuburkan secara serempak dalam suatu tempat. Salah satunya yang terdapat di kota Yogyakarta adalah kuburan pahlawan tak dikenal di pemakaman umum Kintelan, Dipowinatan, Mergangsan, Yogyakarta. Di kompleks makam ini dimakamkan 24 jasad pahlawan tak dikenal dalam perang Serangan Umum 1 Maret 1949. Jasad sebanyak itu dikuburkan dalam 20 lubang kubur. Jadi, ada dua atau lebih jasad yang dikuburkan dalam satu lubang kubur. Kini kuburan para pahlawan tak dikenal itu nyaris tidak pernah dikunjungi atau diziarahi. Akibatnya, deretan gundukan atau nisan sebanyak itu agak terbengkelai. Maklum kesemuanya bisa dikatakan tidak mempunyai ahli waris dari keluarga masing-masing. Kita yang masih hidup mungkin bisa memberikan penghormatan dan penghargaan kepada mereka dengan membuatkan kuburan semacam itu. Sedangkan generasi yang lebih kemudian bisa memberikan penghargaan kepada mereka dengan mendoakan arwah mereka agar arwah mereka diterima untuk hidup langgeng di Surga. Deretan makam pahlawan tak dikenal di tengah perkampungan dan kompleks kuburan umum ini tentu berbeda dengan makam pahlawan tak dikenal di kompleks taman makam pahlawan yang dibuat oleh pemerintah. Makam pahlawan di taman makam pahlawan cenedrung lebih terawat serta lebih sering diziarahi dan didoakan. Sementara makam pahlawan tak dikenal di kompleks-kompleks pemakaman umum cenderung terlupakan. Melalui jasa mereka itu kita bisa menikmati alam kemerdekaan. Kita bisa mengisi kemerdekaan itu dengan pembangunan demi kesejahteraan lahir batin. Bukan dengan korupsi, manipulasi, kebohongan, intrik, serta jual tampang dan omong doang. Barangkali kita memang lupa pada jasa para pahlawan atau melupa-lupakannya. a. sartono BONG SUPIT, LARIS MANIS DI KALA LIBURAN Hampir dipastikan, setiap memasuki liburan sekolah seperti sekarang ini, bong supit atau sering disebut juru khitan kebanjiran pasien. Setiap kota yang mempunyai juru supit, seperti di Rumah Sakit, Puskesmas, maupun Klinik, setiap harinya tidak pernah sepi dari praktik ”mutilasi” burung yang hanya dikhususkan bagi pasien laki-laki ini. Tidak terkecuali dengan Yogyakarta yang sudah terkenal sejak dulu kala, sebagai primadonanya ”potong burung” seperti Bogem dan anak buahnya yang sudah praktik mandiri, selalu disibukkan dengan kehadiran para pasien. Mereka umumnya hanya menjadi pasien sekali seumur hidup dan rata-rata adalah anak-anak yang menginjak remaja (akil balig). Memang ada satu dua yang terkadang sudah memasuki usia muda atau bahkan stw alias setengah tua. Klinik ”mutilasi” burung di Yogyakarta memang ada beberapa tempat yang terkenal. Selain salah satu tempat yang sudah terkenal, yaitu daerah Bogem, Kalasan, Sleman, daerah lain yang sekarang mulai ngetren adalah daerah Pundong, Tirtoadi, Mlati, Sleman. Jika di Bogem pada awalnya terkenal dengan model supit tradisional, maka supit atau orang Jawa mengistilahkan dengan sunat (tetak), di daerah Dusun Pundong ini terkenal dengan model sunat laser atau cotery. Sunat model baru yang hanya memakan waktu sekitar 5 menit ini ternyata salah satunya dipelopori oleh Suryono Suryo Husodo (45). Walaupun begitu, sunat model tradisional di tempat ini juga dilayani. Seorang bapak berputra 3 orang ini berkisah kepada Tembi ketika sempat mewawancarainya, bahwa sunat model laser ini dikembangkan setelah beberapa kali mengikuti pelatihan sunat dengan berbagai model. Lalu ia berniat mengembangkan sunat model laser ini, karena memiliki beberapa keunggulan, seperti pengerjaan cepat (sekitar 5 menit), tidak berdarah, tidak sakit, dan cepat sembuh (sekitar 3-5 hari). Karena sedikit risiko inilah yang kemudian banyak orang tua yang memilih menyunatkan anak laki-lakinya kepadanya. Masih menurut penjelasannya, anak-anak yang habis disunat akan semakin cepat sembuh, apabila sering mengonsumsi telur ayam kampung karena banyak mengandung protein. Para orang tua pasien jangan berpikir bahwa sunat model laser itu berbiaya tinggi yang mencapai jutaan rupiah. Sunat di Klinik Suryono Suryo Husodo ini relatif murah, karena tarifnya hanya sekitar Rp 250.000—Rp 350.000,- tergantung kelasnya. Tarif itu dipajang jelas di ruang tunggu dan dinding depan klinik. Di sana tertera jelas tarifnya, kelas I Rp 350.000,-, kelas II Rp 300.000,- dan kelas III Rp 250.000,-. Tidak ada biaya tambahan lain. Kejelasan tarif ini mungkin sebagai salah satu bentuk transparansi. Ternyata pembedaan tarif ini hanya berpengaruh terhadap jenis obat yang diberikan kepada pasien. Sementara jenis penanganan terhadap pasien yang sedang sunat adalah sama. Jenis obat yang diberikan kepada pasien, setidaknya ada 2 macam, yakni jenis anti biotik dan anti inflamasi. Lelaki yang setiap hari bertugas di RSUD Morangan Sleman Bagian Bedah ini kembali menuturkan, bahwa beliau sudah melakoni menjadi bong supit sekitar 21 tahun lamanya. Sebelum membuka praktik sendiri, ia juga mengaku pernah ikut bergabung dengan Bong Supit Bogem (Bilal Suyaroh) selama 2 tahun. Sementara praktik di kliniknya ini buka setiap hari Senin—Sabtu mulai pagi jam 06.00—08.00 WIB dan sore jam 15.00—21.00 WIB. Pada hari Minggu buka non stop mulai pagi hingga malam. Di Kliniknya (yang sebentar lagi akan berpindah ke alamat baru di Dusun Bedingin, Desa Sumberadi, Mlati, Sleman) ini, ia dibantu oleh 2 dokter dan beberapa perawat. Pada hari-hari biasa, ia hanya menerima pasien rata-rata sehari 2 orang. Namun, apabila memasuki liburan sekolah (seperti tahun ajaran baru, Lebaran, Natal dan Tahun Baru) minggu pertama liburan, pasien sehari rata-rata mencapai 20 anak. Kebanyakan pasien berasal dari wilayah Yogyakarta. Namun kadang-kadang ada pasien luar kota saat berlibur ke Yogyakarta menyempatkan diri untuk sunat. Menurut pengalaman Pak Suryono, begitu panggilannya, yang pernah menjadi Juara II sebagai tenaga teknis pada tahun 1998 ini, ia juga pernah menangani pasien yang usianya sudah menginjak dewasa atau setengah tua. Umumnya mereka adalah dari Persatuan Tionghoa Muslim Indonesia (PTMI), dan beberapa pasien luar negeri seperti dari Jepang dan Pilipina. Jadi, memasuki liburan sekolah seperti sekarang ini, jangan heran apabila kliniknya selalu dipenuhi pasien, baik pagi, siang atau malam, silih berganti, seperti ketika Tembi datang ke tempat praktiknya. Anda ingin mengitankan putra Anda ke Klinik Suryono Suryo Husodo? Alamatnya mudah dijangkau, yakni di Dusun Pundong II, Desa Tirtoadi, Kecamatan Mlati, Kabupaten Sleman, dengan nomor telpon (0274) 7400 949/436 4195. Jika Anda hendak ke sana, bisa ditempuh lewat jalur Ring Road Utara Yogyakarta, tepatnya utara perempatan Jalan Magelang Ringroad Utara sebelum Terminal Jombor ada jalan aspal kecil ke arah barat hingga perempatan pasar Cebongan. Dari perempatan ini, terus ke barat hingga pertigaan yang di tengahnya ada pohon beringin, lalu ke arah selatan (ke kiri) hingga pertigaan lagi (juga ada pohon beringin). Dari pertigaan ini ke arah kanan sekitar 500 meter, kemudian tibalah ke Dusun Pundong II. ZEBRA CROSS GAMBAR ORANG DI YOGYAKARTA Keberadaan jalan raya selalu dilengkapi dengan rambu-rambu lalu lintas. Kelengkapan ini diperlukan untuk mengelola kesibukan jalan raya sehingga jalan raya bisa digunakan dengan aman, tertib, lancar, dan nyaman. Namun demikian, hampir semua jalan raya (terutama di Indonesia) kondisinya masih kurang dari cita-cita tersebut. Semua bermuara pada perilaku para pengendara kendaraan yang masih relatif kurang tertib dalam berkendara. Selain itu banyak juga jalan raya yang relatif kurang kelengkapan sarana atau rambu-rambu lalu lintasnya, kurang memadai lapisan aspalnya, kurang memadai penerangannya, dan sebagainya. Di Yogyakarta, khususnya pada ujung ruang Jalan P. Mangkubumi (selatan Tugu) terdapat sebuah zebra cross (tempat penyeberangan) yang tidak hanya berupa garis-garis putih yang melintang di atas jalan. Zebra cross ini digambarkan seperti orang yang menyeberang secara bersamaan (bergandengan). Gambar postur orang yang berderet melintang di atas jalan ini sekilas memang agak mengejutkan bagi setiap pengendara yang melintasinya. Mengejutkan karena bentuk gambar zebra crossnya tidak lazim. Tidak umum. Sebagai pengganti gambar zebra cross di situ digambarkan deretan gambar orang (wanita). Hal yang relatif sama juga dibuat di ruas Jl. Robert Wolter Monginsidi (di sisi selatan kampus SMK 2 Jetisharjo). Jika zebra cross di Jl. P. Mangkubumi digambarkan berbentuk deretan wanita yang sedang menyeberang, maka di Jl. RW. Monginsidi digambarkan seperti deretan anak pria remaja yang tengah menyeberang jalan. Dua contoh zebra cross bergambar deretan orang/manusia di Yogyakarta ini mungkin ingin menandaskan atau menegaskan bahwa zebra cross memang diperuntukkan bagi orang untuk menyeberang jalan. Jadi, para pengendara kendaraan harap mengerti bahwa jika ada orang berjalan di atas zebra cross kendaraan yang dikendarai wajib diperlambat lajunya. Wajib memberikan kesempatan pada orang untuk menyeberang. Wajib menghargai keselamatan dan kenyamanan orang lain. Jangan berpikir tentang diri sendiri, melulu untuk keegoisan dan kemenangan diri sendiri. Demikian pun para penyeberang jalan, jangan menyeberang jalan seenak udelnya. Semau-maunya. Jalan raya adalah jalan perlintasan kendaraan dengan kecepatan yang relatif tinggi. Jika memang hendak menyeberang jalan sebaiknya gunakan zebra cross. Gambar orang yang berderet di atas jalan di kedua jalan di Yogyakarta itu menegaskan bahwa zebra cross tersebut diperuntukkan bagi penyebarang jalan. Gunakan ruang yang telah dibuat itu demi keamanan, kelancaran, kenyamanan, dan ketertiban bersama. Jika orang menyeberang jalan di sembarang tempat, maka keselamatan orang tersebut tidak akan terjamin. Kecuali itu, aktivitas penyeberangan yang dilakukan demikian juga akan mengganggu pengendara kendaraan. Bahkan juga bisa menimbulkan bahaya bagi para pengendara kendaraan. Dua buah zebra cross bergambar orang di Yogyakarta seolah ingin mengingatkan kita semua (terutama yang tinggal atau sedang berada di Yogyakarta) untuk semakin tertib dalam berkendara. Maklum orang kita memang masih relatif susah diajak berbudaya tertib dan sopan. Mungkin ada anggapan bahwa santun di jalan justru dianggap kampungan, penakut, tidak jagoan, sok alim, dan sebagainya. Tampaknya tertib di jalan bagi bangsa kita belum dianggap sebagai sikap yang jempolan. a. sartono |