Yogya-mu

Pengantar

Di Yogyakarta "ada banyak hal" yang bisa dilihat baik yang lucu, menjengkelkan, serius, aneh-aneh dan seterusnya. Oleh sebab itu, agar netter bisa menikmati "banyak hal" yang ada di Yogyakarta, TeMBI membidiknya melalui lensa kamera dan disajikan dalam rubrik "Yogya-mu". Jadi dalam rubrik ini siapapun bisa "melihat" Yogyakarta yang bersisi macam-macam. Dari tayangan yang tersedia memang hanya dihadirkan 3 edisi. Edisi sebelumnya tetap bisa dibuka dan dilihat tetapi menggunakan password. Kalau anda adalah netter setia dari tembi.org dan mendaftar serta mengirimkan biodata, secara gratis anda akan dikasih password dan bisa mengakses beberapa rubrik yang memang memerlukan password dalam membuka.

Silahkan menikmati Yogya-mu untuk "mengenal" Yogya secara lebih jauh.


IKLAN-IKLAN LUCU, WAGU, NYLENEH DI JOGJA

Di Jogja ada begitu banyak papan, spanduk, baliho, neon boks, poster, leaflet, selebaran lepas, dan lain-lain yang berisi iklan atau promosi. Jadi, tidak aneh jika kita berjalan di sepanjang ruas-ruas jalan di Jogja mata atau pandangan kita akan segera disergap oleh ribuan atau bahkan jutaan tulisan dan gambar yang berisi iklan atau promosi tersebut. Saking banyaknya iklan yang mengisi ruang-ruang di sepanjang jalan di Jogja maka jalan-jalan di Jogja seperti dihiasi tarub iklan.

Dari sekian banyak iklan itu jika kita cermati ada juga iklan yang dituliskan dengan serampangan. Ada juga yang sama sekali tidak mempedulikan kaidah kebahasaan, bahasa Indonesia. Entah sadar atau tidak sadar hal-hal demikian bisa menimbulkan kesan lucu, unik, tidak masuk akal, bahkan asal-asalan.

Apa kesan Anda jika mendapati iklan (baik dituliskan di spanduk, baliho, atau yang lain) yang jika dibaca akan berbunyi: Belum Bertanya Sudah Dijawab. Iklan ini dibuat oleh seorang penghusada. Ada pula iklan yang berbunyi: Anu Motor lalu di sebelah tulisan Anu Motor itu diterakan tulisan Bikin Gigi sehingga jika dibaca secara urut akan berbunyi Anu Motor Bikin Gigi. Apa tumon ? Tampaknya bengkel motor itu memiliki tempat usaha yang bersebelahan dengan tukang bikin gigi. Untuk menghemat ruang iklan di tempat usaha mereka itu mereka membuat satu lembar spanduk saja yang berisi dua iklan sekaligus. Tampaknya mereka tidak sadar bahwa tulisan anu motor dan bikin gigi menimbulkan kesan bahwa bengkel motornya bisa bikin gigi.

Ada lagi iklan yang berbunyi Soto Bakso atau Sate Gule. Bagaimana mungkin ada menu masakan bernama Soto Bakso. Apakah ini maskudnya Soto dicampur Bakso atau Soto berasa Bakso. Apakah ada Sate Gule. Apakah Satenya digule atau Sate rasa Gule, entahlah. Lain lagi iklan yang berbunyi Sedia Empal Gentong. Lho, memangnya gentong bisa dibuat menjadi empal. Iklan lain lagi berbunyi Martabak Ala San Fransisco. Lho apakah menu martabak merupakan menu khas di sana. Bukankah martabak lebih lazim di negara India, Pakistan, dan Banglades.

Ada pula penjual makanan yang menuliskan promosinya dengan menambahi kata-kata atau istilah Mak Nyosss.... Tampaknya penjual makanan tersebut tidak mengerti bahwa kata atau istilah mak nyosss berbeda makna atau artinya dengan istilah mak nyusss. Istilah mak nyosss digunakan untuik merujuk pada pengertian benda panas yang dimasukkan ke air atau disundutkan ke kulit. Sedangkan istilah mak nyusss mengacu pada pengertian makanan yang berasa sangat enak atau sangat nikmat. Kecuali sangat enak makanan tersebut juga tidak keras ketika digigit. Ada nuansa keempukan di sana. Ada paduan atau harmoni rasa yang demikian menyatu sehingga menumbuhkan sesuatu yang sensional dan sangat mengesan di dalam indra pengecapan.

Begitu banyak iklan di Jogja dengan berbagai gaya tulisan, gambar atau lukisan, serta warna-warni yang bermacam-macam. Jika kita cermati, ada beberapa dari iklan tersebut memiliki struktur kebahasaan yang mungkin membingungkan, rancu, serampangan, dan lain-lain. Barangkali semuanya itu dibuat dengan tanpa kesadaran tinggi akan struktur kebahasaan. Barangkali juga bahas iklan memang memiliki loginya sendiri. Tidak perlu tepat atau benar dari kaidah kebahasaan. Persoalan yang hendak dicapai oleh bahasa iklan adalah pesannya sampai dan dimengerti oleh penerima pesan (konsumen/calon konsumen). Mungkin juga karena memburu ruang atau bidang iklan sehingga pesan sesingkat mungkin bisa disampaikan kepada pembaca (calon konsumen). Hal yang paling penting adalah calon konsumen tahu maksud dan tujuannya (ngerti karepe). Mungkin demikian salah satu alasan yang dapat daijukan dalam pembuatan iklan semacam itu.

a. sartono


GEROBAK: KENDARAAN LANGKA DI JOGJA

Gerobak adalah kendaraan tradisional yang dulunya cukup banyak dapat ditemukan di seluruh Jawa. Pada masa lalu raja Hayam Wuruk pun sering menggunakan kendaraan berupa gerobag yang ditarik oleh dua ekor kerbau. Mungkin pada zaman itu gerobag merupakan salah satu kendaraan tradisional yang cukup mewah. Maklum, tidak setiap orang mampu membeli gerobak maupun binatang penariknya. Pada gilirannya gerobak menjadi kendaraan yang cukup diandalkan di Jawa di samping tentu saja, pedati, cikar, delman, atau andong.

Mungkin dulunya kendaraan yang ditarik oleh binatang dan memiliki sepasang roda disebut juga gerobak. Seperti halnya pada saat ini semua alat angkut beroda dua yang ditarik oleh tenaga manusia juga sering disebut gerobak. Entah itu gerobak pengangkut sampah, gerobak pengangkut barang bekas, dan sebagainya.

Entah mulai kapan pengertian alat angkut yang bernama gerobak itu mulai mengkhusus mengacu pada pengertian sebuah kendaraan beroda dua yang bodinya terbuat dari beberapa batang balok kayu, berdinding anyaman kulit bambu dengan bentuk seperti trapesium, atap umumnya terbuat dari anyaman bambu yang ditumpuk berlapis dengan lapisan paling atas berupa seng.

Selain itu terdapat juga tirai yang terbuat dari karung goni yang berfungsi untuk menahan terpaan sinar matahari dan tampias air hujan. Tirai ini disangkutkan pada atap dan tiang atap gerobak. Terdapat juga rem yang terbuat dari balok atau gelondongan batang kayu, kusir selalu memegang cemeti, sepasang kuk dengan tangkai balok kayu yang menyambung ke bodi kendaraan, serta sepasang hewan penarik kendaraan yang umumnya berupa dua ekor sapi atau kerbau dengan kalung lonceng yang selalu berbunyi kelonengan atau keluntungan.

Gerobak semacam itu pada masa lalu sempat menjadi raja jalanan di samping pedati atau andong. Pasalnya pada masa lalu kendaraan ini menjadi alat angkut yang vital bagi hasil-hasil bumi pedalaman Tanah Jawa. Bukan hanya hasil bumi dari para petani di Jawa, melainkan juga hasil-hsail perkebunan milik Belanda yang memberikan hasil berkelimpahan pada zaman Tanam Paksa.

Oleh karena di masa lalu gerobak merupakan kendaraan yang cukup mahal juga harganya, maka kendaraan ini juga menjadi semacam tanda bahwa orang yang memilikinya merupakan orang yang lumayan juga kedudukan ekonominya. Lebih-lebih pada masa lampau pesanan akan jasa gerobak ini cukup sering terjadi sehingga pemasukan bagi pemiliki gerobak relatif cukup terjamin, setidaknya dibandingkan kehidupan para petani penggarap atau petani kecil pada masa lalu.

Kini kendaraan bernama gerobak seperti gambaran di atas sudah sangat sulit ditemukan di Jogja. Kalaupun ada kemungkinan besar jenis kendaraan ini tidak akan pernah masuk ke kota karena akan sangat merepotkan lalu lintas kota Jogja yang sudah super padat itu. Bayangkan, di tengah lalu lintas kota yang padat tiba-tiba ada gerobak yang ditarik sapi ikutan melintas. Sudah bodinya besar dan panjang, jalannya lambat, sapinya kencing bahkan buang air besar. Dahsyat bukan ?!

Sekalipun sudah sulit ditemukan, secara tidak sengaja Tembi melihatnya di Jalan Palagan Tentara Pelajar pada sekitar bulan Agustus 2009. Dengan cepat Tembi mengabadikannya, cepret-cepret-cepret. Sebenarnya Tembi mau mewawancarainya, namun kusir gerobak itu hanya tersenyum sambil melambaikan tangan tanda menolak. Yo uwis lah.

Gerobak yang difoto Tembi ini masih kelihatan baru. Hal itu bisa ditandai dari catnya yang masih kinclong. Kayu-kayu sebagai kerangka bodinya juga masih kelihatan baru (bekas serutan-halus). Demikian ula roda dan asnya juga kelihatan masih baru. Sapi yang digunakan untuk menarik gerobak ini juga kelihatan muda dan gagah. Menilik wujudnya sapi yang digunakan untuk menarik gerobak ini adalah jenis sapi brahman. Sapi unggul dari India yang oleh orang Jawa disebut sebagai sapi benggala. Mungkin orang Jawa memang mengidentifikasi sapi brahman ini sebagai sapi yang berasal dari Benggala yang identik pula dengan India. Sapi brahman dikenal berpostur gagah, tinggi, berpunuk besar, bergelambir lebar di leher bagian bawah.

Kemungkinan besar pemilik gerobak tersebut adalah orang yang memang mencintai model alat angkut tradisional. Pasalnya di zaman sekarang orang memiliki gerobak justru lebih banyak tomboknya daripada untungnya karena alat angkut telah tergantikan dengan kendaraan bermesin. Entah itu truk, pick up, colt box, kereta api, maupun truk kontainer.

Gerobak sapi mungkin hanya bertahan di tangan para penggemar fanatiknya. Gerak atau aktivitasnya pun jelas terbatas. Mungkin jenis alat angkut ini kelak hanya akan tinggal sebagai kenangan sejarah. Untunglah Tembi masih bisa menikmatinya. Berikut ini foto-fotonya. Silakan menikmati wujud gerobak sapi.

a. sartono


MELONGOK ANCOLNYA JOGJA

Ancol adalah nama yang tidak asing bagi telinga masyarakat Indonesia. Tempat wisata yang berada di wilayah utara Jakarta ini hampir tidak pernah sepi. Nama ancol konon mengandung makna sebagai tanah mendidih yang berpaya-paya. Entahlah, apa makna dari istilah mendidih dalam pengertian itu. Pengertian berpaya-paya jelas mengindikasikan bahwa wilayah itu dulunya memang berupa rawa. Maklum karena keletakannya yang begitu dekat dengan Laut Jawa, tanahnya melandai dan berlumpur. Dalam bahasa Belanda wilayah ini dulunya dikenal dengan nama Zotelande yang artinya adalah tanah asin. Ancol di Jakarta telah menjadi objek wisata laris yang bisa menghasilkan banyak uang. Ancol Jakarta telah memberikan penghiburan bagi banyak orang Jakarta dan sekitarnya.

Jogja pun ternyata memiliki Ancol juga. Ancol di Jogja sebenarnya terletak Kecamatan Ngluwar, Magelang. Akan tetapi karena keletakannya yang begitu mepet dengan wilayah Jogja, maka orang sering menganggap bahwa Ancol yang berada di ujung (hulu) Selokan Mataram itu masuk di wilayah Jogja juga. Selain itu, di seberang intake Selokan Mataram (Van der Wijck) adalah wilayah Kulon Progo yang secara administratif masuk wilayah Propinsi DIY. Wilayah seberang intake Selokan Mataram ini juga disebut sebagai Ancol. Dengan demikian, Ancol ini masuk dalam dua wilayah administratif. Ancol di Kulon Progo masuk wilayah Jogja, sedangkan Ancol di timur Sungai Progo masuk wilayah Magelang (sekalipun sering diidentifikasikan secara keliru sebagai wilayah Jogja).

Baik Ancol di timur Sungai Progo ataupun di sebelah barat Sungai Progo keduanya menggunakan Sungai Progo sebagai basisnya. Kedua sisi ini memiliki tempat yang berupa taman. Hanya di sisi timur dilengkapi dengan pemandangan intake saluran Selokan Mataram. Sementara di sisi barat sungai hanya berupa taman dengan keletakan yang tinggi dari permukaan air sungai. Dari sisi barat ini akan terlihat satu alur tembok panjang melintang di tengah sungai yang berfungsi untuk sedikit menaikkan permukaan air sehingga air bisa masuk ke intake Selokan Mataram.

Pada sekitar alur beton inilah kegiatan olahraga berupa dayung atau latihan arung jeram sering dilakukan. Sedangkan pada sisi timur alur beton yang kenampakannya samar-samar karena hampir selalu tertutup aliran air, kedalaman airnya relatif lebih dalam daripada sisi barat. Pada sisi timur ini pumpunan air masuk ke intake dan disalurkan melalui saluran Selokan Mataram dan Van der Wijck. Pada bagian ini pula kegiatan memancing sering dilakukan oleh pehobi mancing.

Secara keseluruhan pemandangan di Ancol cukup bagus. Aliran sungai yang besar dengan pemandangan perbukitan di sisi barat menjadi pemandangan yang menakjubkan. Kecuali itu keletakannya yang jauh dari keramaian menjadikan kawasan ini relatif sunyi dan memunculkan nuansa alamiah yang romantis.

Keletakan Ancol Jogja (Magelang) yang cukup jauh dari kota (Jogja maupun Magelang) ini menyebabkan wilayah yang pernah diharapkan menjadi tempat wisata ini tidak segera cepat berkembang. Tempat ini hanya kelihatan agak hidup pada waktu libur. Di luar itu bisa dikatakan sepenuhnya sepi.

Barangkali kawasan Ancol ini bisa dikelola secara lebih baik, baik oleh Jogja maupun Magelang sehingga menjadi tempat yang diminati orang untuk berkunjung. Sebenarnya akses jalan ke lokasi ini telah cukup baik. Akan tetapi keindahan alam Ancol tanpa atraksi dan aksi lain menyebabkan kawasan ini hanya terkesan begitu-begitu saja. Orang yang pernah satu dua kali datang ke tempat ini mungkin akan segera dihinggapi rasa bosan karena selain pemandangan yang itu-itu juga, tidak ada pemandangan/kegiatan/suasana lain yang lebih menantang atau inspiratif.

a. sartono


Edisi Sebelumnya ...