| Yogya-mu
PENGRAJIN
WAYANG KULIT DI YOGYAKARTA
Orang
Jawa dan kesenian wayang seperti tidak dapat dipisahkan. Kesenian
wayang ini telah menginspirasi banyak orang untuk berkreasi. Mulai
dari penata gendhing, pesinden, dalang, bahkan sastrawan dan senirupawan
serta tentu saja para pengrajin gamelan dan pengrajin wayang. Orang-orang
yang bergelut dengan seluk beluk dunia wayang itu baik secara berkelompok
maupun individual tersebar di segenap pelosok wilayah kebudayaan
Jawa bahkan di luar itu.
Yogyakarta
dan Surakarta yang selalu disebut-sebut sebagai pusat kebudayaan
Jawa tentu juga tidak lepas dari pertautannya dengan dunia wayang.
Oleh karena itu di kedua wilayah ini banyak terdapat seniman atau
pengrajin yang berkaitan dengan wayang. Di Yogyakarta sendiri hasil
kerajinan wayang dapat ditemukan di berbagai tempat. Bahkan di Malioboro
dapat ditemukan berbagai jenis wayang yang diperjualbelikan. Baik
itu wayang kulit, wayang klitik, maupun wayang golek.
Pada
era tahun 1970-1980-an dan jauh sebelum itu ketika dunia pertelevisian
belum semaju sekarang, pentas kesenian wayang bersama kesenian tradisional
yang lain dapat dikatakan merupakan alternatif utama untuk sebuah
hiburan bagi masyarakat. Akan tetapi setelah benda elektronik yang
bernama televisi itu mulai hadir di tengah masyarakat, maka lambat
laun pentas kesenian tradisional tergeser oleh kehadiran televisi.
Dalam kotak elektronik ini dapat divisualisasikan aneka macam bentuk
pementasan. Baik pementasan kesenian tradisional maupun modern atau
bahkan segala hal apa pun dapat ditampilkan di dalamnya. Lagi pula
harga kotak elektronik ini dapat dikatakan jauh lebih murah daripada
bentuk pementasan langsung (live).
Dalam
pementasan kesenian langsung di dusun-dusun, kecuali biaya untuk
pementasan itu sendiri ada pula biaya-biaya lain seperti biaya gotong
royong, biaya untuk suguhan para tamu/kerabat/anggota grup yang
sedang berpentas, di samping tentu saja, harus melibatkan banyak
orang/tenaga dan waktu. Dalam era elektronik yang berkembang demikian
pesat, hal ini dipandang tidak praktis dan efisien. Hal seperti
tersebut di atas dipandang sebagai pemborosan dan kesia-sian. Oleh
karenanya masyarakat pun beralih kepada benda-benda elektronik ini
dan praktis kesenian tardisional seperti wayang kulit tergeser peranannya.
Sekalipun
demikian, kesenian wayang kulit di Jawa, khususnya di Yogyakarta
dan Surakarta tampaknya tidak dapat dikatakan tamat riwayatnya.
Hal ini terbukti dengan masih banyaknya pementasan wayang kulit
di wilayah ini. Di samping itu, pengrajin wayang kulit juga masih
tetap eksis. Khusus untuk pengrajin wayang kulit mereka dapat memasarkan
produknya tidak hanya kepada para dalang. Sasaran dari produk mereka
dapat menembus ke berbagai lingkungan. Tidak aneh kalau kemudian
mereka membuka show room atau toko sendiri bagi produk-produknya
di samping memasarkannya langsung kepada toko/pedagang lain.
Keunikan
dan kerumitan bentuk wayang kulit ini ternyata banyak menarik wisatwan
mancanegara maupun domestik. Barangkali dua faktor ini menjadi baterai
bagi semangat produksi wayang kulit di Yogyakarta. Lebih-lebih kota
ini menjadi kota pariwisata yang cukup terkenal di antara sederet
tujuan wisata lain di Indonesia selain Pulau Bali. Berikut ini TeMBI
menyajikan hasil bidikannya berkenaan dengan tempat-tempat pengrajin
wayang di wilayah Yogyakarta. Simak dan nikmati hasil budaya dari
negeri sendiri. Dengan demikian, Anda akan lebih mengenal jati diri
Anda sendiri.
Teks:
Sartono Kusumaningrat
Foto: Didit Priyo Daladi
   
|