| Yogya-mu
Warung
Trotoar
Salah satu ciri
pertumbuhan ekonomi dari suatu kota adalah adanya tempat-tempat
penjualan/perbelanjaan. Banyaknya tempat perbelanjaan menandakan
bahwa di daerah tersebut terdapat perputaran uang yang cukup baik.
Salah satu tempat penjualan/perbelanjaan adalah pedagang kaki lima.
Pedagang kaki lima yang nota bene tempat penjualannya tidak pernah
permanen sering dengan serta merta menempati suatu ruang yang ada
di kota tanpa pertimbangan apa pun kecuali pertimbangan laku. Faktor
ini sering menjadikan pemerintah kota beserta masyarakat penghuninya
merasa gerah. Kegerahan karena keberadaan pedagang kaki lima sangat
sering bertumbuhan begitu saja dengan menempati jengkal-jengkal
ruang yang dianggap sebagai kosong.
Faktor laku
demi kepentingan perut ini sangat sering mengabaikan kepentingan
orang banyak/umum. Salah satu contoh yang sangat sering didapatkan
adalah tersitanya trotoar hanya demi pendirian tempat penjualan
oleh pedagang kaki lima. Fenomena ini terjadi pada hampir semua
kota di Indonesia. Dengan demikian, para pejalan kaki yang semestinya
bisa berjalan-jalan dengan napas lega di sepanjang trotoar terpaksa
harus berjalan kaki beriringan dengan kendaraan pada ruas jalan
beraspal Hal ini jelas tidak memberikan kenyamanan pada pejalan
kaki maupun pengendara kendaraan.
Sekalipun pedagang
kaki lima sering menempati ruang-ruang kota tidak secara permanen,
tetapi keberadaannya yang kurang tertib ini jelas sangat mengganggu
kepentingan orang lain yang juga membutuhkan ruang untuk aktivitasnya.
Di samping itu, pedagang kaki lima juga sering meninggalkan limbah
entah dalam prosentasi besar maupun kecil. Keberadaan mereka jelas
tidak bisa begitu saja disalahkan. Akan tetapi keberadaan mereka
ini semestinya bisa menata dan ditata demi kenyamanan hidup serta
aktivitas bersama. Apabila trotoar jalan dianggap sebagai lantai
tempat pendirian bangunan/tenda untuk berjualan, maka pejalan kaki
tidak diberi tempat lagi. Bayangkan saja kalau sepanjang trotoar
itu ditempati pedagang kaki lima kenyamanan apa yang bisa didapatkan
dari situ ? Pedagang kaki lima, pejalan kaki, dan pengendara kendaraan
seperti berebut ruang untuk meng-ada.
Berikut ini
TeMBI menyajikan beberapa contoh pedagang kaki lima di Yogyakarta
yang keberadaannya menyita atau bahkan menelan trotoar jalan.
Teks:
Sartono Kusumaningrat
Foto: Didit Priya Daladi
  
  
|