| Yogya-mu
NAMA-NAMA
WARUNG, KIOS, TOKO
YANG BERBAU JAWA DI YOGYAKARTA
Di Yogyakarta
ada banyak kios, toko, restoran, warung, dan nama-nama tempat yang
menggunakan banyak nama berbaau asing. Nama-nama ini sering dibuat/dibangun
untuk membangun citra modern, berkesan elitis, dan seolah memberikan
kelas tertentu bagi konsumen atau produsennya sendiri. Tidak aneh
nama-nama yang demikian itu mampu membius banyak konsumen. Keterbiusan
konsumen ini seringkali tidak didasarkan pada pertimbangan realistis,
misalnya pertimbangan nilai produksi/ kualitas produksi, ragam,
atau nilai artistik, dan sebagainya. Para konsumen lebih sering
terbius oleh nama-nama yang dibuat seakan-akan mengesankan kelas
sosial tertentu. Artinya, produk yang menggunakan atau keluaran
dari nama yang dimaksud itu hanya digunakan oleh kelas tertentu.
Kelas yang hebat, kelas yang elit, kelas yang tidak semua orang
bisa mencapainya.
Dari sekian
nama yang berbau asing atau yang dibuat mengesankan diri asing,
ternyata masih banyak juga nama-nama kios, warung, toko, restoran,
dan tempat-tempat tertentu yang setia menggunakan nama Indonesia
atau bahkan nama yang berbau Jawa. Bila dicermati nama-nama yang
berbau Jawa ini ternyata masih cukup banyak ditemukan di sudut-sudut
kota Yogyakarta.
Ada beberapa
alasan mengapa mereka justru menggunakan nama-nama yang njawani
daripada nama-nama yang berbau barat/asing. Alasan yang dapat dikemukakan
di antaranya adalah: mereka ingin beda, eksentrik, dan ingin menunjukkan
keberpihakannya pada lokalitas. Sekalipun demikian, banyak nama-nama
yang njawani ini dalam visualisasinya tidak kalah menarik dengan
visualisasi nama-nama yang berbau asing. Pada sisi ini sesungguhnya
nampak bahwa nama-nama yang njawani ini merupakan bentuk-bentuk
perlawanan atau dapat juga dikatakan sebagai sinisme bagi membanjirnya
nama-nama yang berbau asing.
Hal tersebut
dapat juga dimengerti sebagai suatu bentuk kegelisahan lokalitas
yang tersembunyi akibat derasnya pengaruh asing yang melanda hampir
semua sudut kehidupan. Banjirnya pengaruh asing termasuk pada penamaan
dan penggunaan istilah-istilah yang dapat dikatakan menjadi sesuatu
yang biasa secara diam-diam menggelisahkan hal-hal yang berbau lokal.
Istilah dan nama-nama lokal seolah menjadi tenggelam, ketinggalan
zaman, tidak elit, tidak mencerminkan kelas sosial yang tinggi,
dan sebagainya. Hal serupa dapat dicermati juga dalam penamaan nama-nama
bayi di Indonesia/Jawa. Banyak orang Jawa sudah merasa enggan atau
malu menamai anak-anaknya dengan nama-nama Jawa yang selama ini
lazim digunakan. Padahal nama-nama Jawa tersebut banyak yang mengandungi
makna/pesan yang baik.
Di antara sekian
nama-nama/istilah asing yang bertebaran di sudut-sudut kota Yogyakarta,
masih ada nama-nama lokal yang tetap digunakan untuk berbagai nama
tempat (warung, kios, toko, restoran, dan sebagainya). Bila dicermati
dan dicerna maknanya mungkin akan terasa unik. Berikut ini TeMBI
menyajikan beberapa hasil bidikannya berkaitan dengan nama-nama
lokal tersebut. Bila Anda memang sedang berada di Yogyakarta, nikmati
salah satu keunikan Yogyakarta ini.
Teks: Sartono
Kusumaningrat
Foto: Didit Priyo Daladi
   
|