|
Yogya-mu
DARI
BILIK WARTEL:
MENYAPA DUNIA DARI YOGYAKARTA
Yogyakarta
yang disebut orang sebagai kota budaya, memang tidak membiarkan
warganya, baik pendatang maupun warga menetap, kesepian tinggal
-meski sejenak-di Yogyakarta. Dari Yogyakarta pula orang bisa saling
berkabar kepada orang lain di tempat yang berbeda.
Dalam perkembangan komunikasi, Yogyakarta memang tidak ketinggalan
menyangkut perihal alat komunikasi yang berupa telpon. Karena proses
pemasangan telpon amat rumit dan tidak mampu menjangkau seluruh
lapisan masyarakat, dan ini merupakan problem PT Telkom yang hingga
kini tidak kunjung bisa teratasi, ada cara lain yang di tempuh,
dan bisa juga di temui di kota-kota lain, yakni tersedianya wartel
-warung telekomunikasi-baik di tengah kota maupun di sudut kampung
dan di desa-desa. Pendeknya, wartel mudah di jumpai di kota Yogyakarta,
di manapun tempat itu.
Fenomena wartel muncul di Yogyakarta awal tahun 1990-an. Pada awal
kemunculannya, wartel memang hanya terdapat di tengah kota dan pengusaha
wartel memiliki beberapa bilik, yang disebut KBU -kamar bicara umum--.
Namun pada perkembangan berikutnya wartel menjadi usaha bisnis rumah
tangga, sehingga ada wartel yang hanya menyediakan satu KBU dan
itu pun di taruh di ruang garasi mobil misalnya, atau di teras rumah.
Sarana komuniaksi telpon rumah , di tengah semaraknya telpon seluler,
memang tidak dimiliki oleh setiap rumah tangga, bukan yang utama
karena warga tidak mampu memasang telpon rumah, meski hal seperti
itu bisa juga terjadi, hal yang paling parah adalah dari pihak penyelenggara
telekomunikasi dalam hal ini PT Telkom, tidak mampu melayani seluruh
lapisan masyarakat, oleh sebab itu tidak sedikit rumah tangga yang
membutuhkan fasilitas telpon, tetapi tidak memiliki, karena jaringannya
belum masuk dan seterusnya. Biasanya, keluarga yang tidak mendapat
fasilitas pemasangan telpon rumah, dia telah memiliki HP. Yang paling
parah, seperti beberapa hari lalu seorang kepala rumah tangga didatangi
pekerja lepas telkom, kepala keluarga itu ditawari membayar uang
sebesar Rp. 2,5 juta dan segera akan di pasang. Padahal harga pasangnya
hanya Rp. 500.000,-. Alasan yang diberikan khas: nomor sudah habis,
yang ada tinggal untuk di jual. Pekerja lepas telkom tersebut, agaknya,
merupakan representasi dari mentalitas karyawan telkom.
Tetapi baiklah, kalau tak ada telpon rumah dan tak ada pula HP masih
tersedia wartel di banyak tempat. Di wartel ini, seperti juga sering
bisa di lihat, terutama malam hari selepas pukul 21.00, ada warga
asing menggunakan fasilitas wartel. Begitulah, dari bilik wartel,
tidak harus orang asing, siapapun bisa menyapa dunia dari Yogyakarta,
dan hanya dari ruang kecil yang disebut KBU dalam usaha jasa wartel.
Begitulah, sebagai kota kecil Yogyakarta tidak meninggalkan dunia.
"Yogyakarta Never Ending Asia" kata Slogan. Itulah mimpi.
Teks:
Ons Untoro
Foto-foto: Didit Priyo Daladi.
   
   
|