|
Yogya-mu
KESENIAN-KESENIAN
TRADISIONAL
DI YOGYAKARTA
Orang
menyebut dan mengenal Yogyakarta sebagai kota budaya. Dari sebutan
ini setidaknya bisa ditunjuk simbol-simbol kebudayaan yang ada di
Yogyakarta. Salah satu simbol budaya Yogyakarta, dari beragam simbol
yang ada, adalah kesenian tradisional. Yogyakarta yang terdiri dari
empat Kabupaten dan satu Kotamadya dan disebut sebagai Propinsi
Daerah Istimewa Yogyakarta, setidaknya di empat kabupaten terdapat
beragam kesenian tradisional yang masih hidup. Kesenian-kesenian
itu ada yang dikenal dengan nama Angguk dari Kulonpogo, ada Kethoprak
baik dari Bantul maupun Sleman atau dari kota Yogyakarta, bahkan
disetiap daerah ada group kesenian kethoprak. Ada Tayub dari Gunung
Kidul, ada Langen Mandrawanara dari Bantul, ada Keroncong tradisional
dari Kotamadya Yogyakarta dan seterusnya.
Beragam kesenian tradisioanl yang ada di Yogyakarta, apapun jenis
dan namanya adalah menunjukkan, bahwa masyarakat Yogyakarta terbukti
menjaga kelangsungan hidup kesenian tradisional, meskipun dari segi
ekonomis tidak menghasilkan untung. Kalaupun ada jenis kesenian
tradisional yang bisa mendatangkan uang adalah wayang kulit. Namun
hanya dalang-dalang tertentu yang, biasa disebut sudah "peye"
alias payu yang bisa mengenyam keuntungan ekonomis.
Kesenian tradisioanl memang tidak harus ditaruh dalam perspektif
ekonomis, yang agak lebih tepat agaknya, diletakan pada kultur kekerabatan.
Dari kultur ini bisa dilihat, orang dalam jumlah yang cukup banyak
terlibat dalam jenis kesenian tradisional. Jumlahnya bisa lebih
dari 30 orang dalam satu group, belum dilengkapi perangkat yang
lain. Dari jumlah yang cukup banyak itu dan masing-masing individu
menyalurkan energi serta kreativitasnya untuk kelompoknya, yang
berupa kesenian tradisional.
Berpijak dari kultur kekerabatan itu pula yang membuat kesenian
tradisional bisa tetap terjaga kehidupannya meskipun tidak mendatangkan
keuntungan secara ekonomis. Tampaknya, pelaku kesenian tradisional
tidak terlalu begitu "ngotot" soal uang, karena bisa dicari
dengan cara kerja yang lain. Biasanya, di desa para pelaku kesenian
tradisional sekaligus adalah petani, baik buruh tani maupun petani
penggarap. Ada juga, anggota group kesenian -atau bahkan pemimpinnya-adalah
pegawai negeri di Kabupaten atau di Kecamatan, yang di tempat tinggalnya
menerusnya jenis kesenian tradisional yang ditinggalkan leluhurnya.
Tampaknya, dari kata "leluhur" inilah spirit pelaku kesenian
tradisional bisa dikenali. Sebab, seperti selalu dikatakan oleh
hampir banyak pelaku kesenian tradisional, apa yang dilakukan berkait
kesenian tradisional adalah upaya meneruskan apa yang telah dilakukan
leluhurnya.
Mari kita lihat beberapa foto kesenian tradisional sambil melihat
"leluhur" yang ada di sana. Foto-Foto ini hanyalah contoh
dari jenis kesenian tradisional yang jumlahnya ada lebih banyak
dan beragam jenis. (*)
   
  
|