| Yogya-mu
WARGA
YOGYA CINTAILAH SELOKAN MATARAMU
Bulan-bulan
Juli-pertengahan Agustus 2003 ini Selokan Mataram yang melintas
mulai dari Sungai Progo sampai dengan Sungai Opak tampak kering.
Hal ini bukan lantaran Selokan Mataram benar-benar sedang tidak
disuplai air dari Sungai Progo. Selokan Mataram pada bulan-bulan
di atas nampak kering karena memang sengaja dikeringkan. Setelah
kering, maka endapan yang ada di dasar Selokan Mataram kemudian
dikeruk. Di samping itu, dinding dan dasar Selokan Mataram juga
diperbaiki/dibangun. Dengan demikian, suplai air dari Sungai Progo
diharapkan tidak banyak meresap ke dalam tanah.
Hasil pengerukan
selokan ini nampak beronggok-onggok di bibir sepanjang Selokan Mataram.
Bila dicermati, maka onggokan tanah dan sampah hasil pengerukan
ini biasanya berisi antara lain: plastik, batu, kerikil, lumpur,
ban bekas, kaleng, pecahan kaca, gombal, potongan kayu, kereweng,
potongan balok cor, batu bata, dan sebagainya.
Pada dasar selokan
yang dikeringkan itu sebenarnya tidak dapat dikatakan benar-benar
kering. Dasar selokan ini tidak dapat benar-benar kering karena
di sepanjang dinding dalam Selokan Mataram ini telah dibuat begitu
banyak lubang saluran pembuangan limbah dari rumah tangga yang bertengger
di sepanjang aliran Selokan Mataram. Limbah-limbah cair yang berwarna
dan berbau mengerikan ini saat Selokan Mataram dikeringkan tampak
seperti mata air yang pada gilirannya menggantikan air bersih Selokan
Mataram yang selama ini mengalir, sungguhpun debitnya dapat dikatakan
masih terbilang relatif kecil. Akan tetapi sekecil apa pun limbah
tersebut sesungguhnya menjadi agen bagi berkembangnya berbagai penyakit
dan juga bagi pemusnahan daya hidup hayati.
Penduduk yang
bermukim di sepanjang aliran Selokan Matarm pun nampaknya masih
juga kurang peduli pada kondisi dan fungsi selokan tersebut. Baik
itu kondisi dan fungsi pengairan/pengoncoran areal persawahan, kesehatan,
kebersihan, maupun kenyamanan dan keindahan Selokan Mataram secara
keseluruhan. Apabila pemukim di sepanjang aliran Selokan Mataram
peduli terhadap kelestarian dan fungsi selokan, tidak mungkin akan
terjadi penumpukan sampah di sepanjang aliran selokan ini. Plastik
(kebanyakan berupa tas kantong/tas kresek), ban bekas, kereweng,
kaleng, pecahan kaca, potongan besi, pecahan batu bata, potongan
kayu, dan limbah cair yang berasal dari rumah-rumah penduduk atau
pabrik adalah sampah yang jelas-jelas dibuat oleh manusia. Hal itu
berarti bahwa sebenarnya manusialah yang seharusnya membatasi dirinya
untuk tidak membuang sampah di sepanjang aliran selokan ini. Manusia
yang bermukim di sepanjang aliran selokan ini mestinya bisa menahan
diri untuk tidak memberati Selokan Mataram dengan timbunan limbah.
Apa pun wujud limbah itu. Sebab limbah-limbah tersebut pada gilirannya
akan menjadi menyebar dan meracuni banyak daya hidup hayati di sepanjang
aliran selokan tersebut. Bagi Anda yang merasa sebagai penduduk/pemukim
di Yogyakarta sebaiknya mempelopori untuk tidak membuang sampah
di Selokan Mataram atau di lain tempat secara sembarangan. Tidak
berat kan ?
Teks
dan foto: Sartono Kusumaningrat
   
|