| Yogya-mu
DARI
LAGU, BERITA, SAMPAI GOSIP ITULAH RADIO
Kiranya orang
belum lupa atas lagu Gombloh yang ada kalimatnya "Di Radio,
aku dengar…….". Judulnya, kalau tidak salah ingat
"Di Radio".
Di Yogyakarta,
selain terdapat media masa cetak dan media audio visual, tidak sedikit
bisa dijumpai media audio, yang lebih dikenal dengan nama "Radio".
Ada nama-nama radio, yang paling lama dan dikenal publik secara
luas adalag RRI Yogyakarta -Radio Republik Indonesia-- Ini adalah
radio milik pemerintah, karena itu esksitensinya sepenuhnya di topang
oleh pemerintah, dulu di bawah naungan Departemen Penerangan sebagaimana
TVRI Yogya. Tetapi setelah Deppen dihapuskan, secara kelembagaan
RRI juga ikut berubah. Okeylah, kita memang tidak akan membahas
kelembagaan RRI, tetapi lebih sekedar untuk menunjukkan media audio
yang disebut radio yang berada di Yogyakarta.
Selain RRI di
Yogyakarta ada banyak radio swasta lain, misalnya ada Radio Retjo
Buntung, yang sejak dulu beralamatkan di Jagalan, Beji, yang sekarang
dikenal sebagai radio keluarga yang ada di Yogyakarta. Selain itu
masih ada Rasialima, yang tempatnya berpindah-pindah, pernah di
Jl. Sultan Agung, di Jl. Taman Sari, sekarang di Sono Sewu. Ada
lagi radio Bikima, kependekan dari Bintaran Kidul Lima, memang,
dulu, bertempat di Bintaran Kidul Lima, sekarang bertempat di Kalasan
dan belum lama telah berubah menjadi radio Sonora. Ada lagi radio
Rakosa, MBS di Kotagede, radio Persatuan di Bantul.
Beberapa nama
yang disebut di atas sekadar sebagai contoh, bahwa udara Yogya tidak
pernah sepi dari musik dan berita serta informasi-informasi lain.
Radio adalah satu tanda, bahwa industri informasi memang telah kuat
tumbuh di Yogyakarta, karena stasiun radio memang tidak hanya menyajikan
lagu-lagu, tetapi dia menyediakan ruang news yang bisa diakses oleh
setiap pendengar, Bahkan telah padatnya frekuensi, terutama pada
gelombang FM, kapan orang memutar jarum penunjuk radio pada satu
gelombang, bergeser sedikit saja, gelombang radio tertentu itu akan
berpindah pada gelombang radio lainnya, sehingga bisa pula dijumpai,
karena tidak pas posisi jarum radio diletakkan, terdengar dua suara
dari gelombang yang berbeda, akibatnya suara keduanya menjadi pecah
dan tidak nyaman dinikmati.
Dalam kata lain,
untuk menikmati media di Yogya, memang tersedia bermacam jenis.
Kalau orang hanya ingin mendengarkan suara sambil membayangkan orang
yang ngomong, putarlah radio dan cari bermacam stasiun yang tersedia.
Dari yang bermnoto "Radionya keluarga Yogya" sampai "Radionya
Intelektual muda Yogya" dan "Female Radio" dan seterusnya.
Di radio-radio itu, orang bisa berdendang lagu-lagu lama sampai
lagu-lagu masa kini. Untuk mendengarkan gosip-gosip yang lucu-lucu,
di radio bisa pula ditemukan. Gosip-gosip lucu itu biasanya berupa
anekdot dan sejenisnya.
Dengarkan radio
di Yogya, orang akan bisa menemukan plesetan sekaligus bisa mengerti
bahwa lalu lintas gelombang udara telah cukup padat.
Teks: Ons Untoro
Foto-foto: Didit Priyo Daladi
  
  
|