|
Yogya-mu
UPACARA REBO PUNGKASAN
WONOKROMO, PLERET, BANTUL, YOGYAKARTA
Latar
Belakang
Pada masa lalu
penduduk Kalurahan Wonokromo banyak yang terserang penyakit. Bahkan
sakit ini menyerang hampir seluruh penduduk Wonokromo sehingga
peristiwa itu disebut pageblug. Pada masa itu pula terdapat seorang
kyai yang bernama Kyai Abdullah Fakih yang populer pula dengan nama
Mbah Fakih atau Kyai Welit. Demikian menurut Bapak Gunawan (43)
selaku Sekretaris BPD Desa Wonokromo dan Koordinator Kirab pada
Upacara Adat Rebo Pungkasan yang dalam pembicaraannya dengan Tembi
(27 Maret 2006) didampingi Bapak Haji Ishkak (51) 0selaku Ketua I
Panitia Upacara Adat Rebo Pungkasan.
Kyai ini juga
terkenal mampu mengobati berbagai penyakit. Tidak mengherankan jika
banyak orang berdatangan di tempat Kyai Welit untuk meminta sarana
bagi kesembuhannya. Dalam penyembuhan itu Kyai Welit biasanya
memberikan rajah yang kemudian dimasukkan ke dalam air dalam wadah
gelas. Air yang telah diberi rajah inilah kemudian digunakan untuk
cuci tangan dan muka bagi si sakit. Tidak jarang pula air ini
kemudian diminum. Biasanya setelah menggunakan air itu si sakit
kemudian sembuh.
Akan tetapi
ketika pasien yang datang kepadanya begitu banyak, maka Kyai Welit
merasa kuwalahan. Untuk mengatasi hal itu ia mengambil ember yang
diisi air. Rajah kemudian dimasukkan ke dalam air dalam ember
tersebut. Air yang telah diberi rajah ini kemudian dituang di
tempuran Sungai Opak dan Sungai Gajah Wong yang letaknya di sisi
timur Masjid Wonokromo. Air yang telah diberi rajah dan telah
dituang di dalam tempuran sungai itu kemudian digunakan untuk mandi
atau cuci bagi orang-orang yang menderita sakit tersebut.
Orang-orang atau penduduk Wonokromo yang terkena wabah itu pun
sembuh dari sakitnya.
Kirab Lemper
Sebagai
ungkapan rasa syukur karena masyarakat Wonokromo telah dibebaskan
dari pageblug, masyarakat pun membuat makanan yang waktu itu
termasuk jenis makanan andalan dalam hajatan masyarakat Jawa, yakni
lemper. Bahkan sampai sekarang jenis makanan lemper ini seperti
makanan wajib dalam setiap hajatan masyarakat Jawa, khususnya di
desa-desa. Lemper yang dibuat masyarakat ini kemudian dibagikan
kepada orang lain sebagai bentuk ucapan syukur dan suka cita. Pada
masa lalu setiap menjelang Upacara Rebo Pungkasan ini masyarakat di
sekitar jalan raya Wonokromo-Pleret banyak orang membuat kue lemper.
Hal ini sebagai ungkapan rasa syukur dan bentuk penghormatan kepada
Kyai Welit yang kemudian dikemas dalam acara Upacara Adat Rebo
Pungkasan ini.
Peristiwa di
atas kemudian dilanjutkan atau diteruskan oleh masyarakat Wonokromo
hingga sekarang. Dalam perkembangan selanjutnya peristiwa itu
kemudian dikemas dalam serangkaian peristiwa yang dipandang lebih
menarik. Pada saat sekarang Upacara Rebo Pungkasan ini dimeriahkan
pula dengan pasar malam yang bertempat di lapangan Desa Wonokromo.
Pasar malam ini biasanya berlangsung seminggu sebelum dan setelah
Kirab Lemper. Kecuali itu, kirab lemper ini pada akhirnya juga
ditambahi berbagai acara lain yang dirasakan cukup menghibur dan
memberikan manfaat bagi banyak orang, di antaranya adalah aneka
perlombaan, donor darah, pengajian, dan sebagainya.
Perlu diketahui
pula bahwa lemper raksasa yang dibuat itu membutuhkan 10 kilogram
bersa ketan, 10 butir kelapa, daging sapi 2 kilogram plus
bumbu-bumbu. Lemper raksasa ini berukuran panjang sekitar 2,5 meter
dan berdiameter 60 cm.
Urutan Kirab
Lemper
Mula-mula
lempewr raksasa, lemper kecil, dan gunungan disemayamkan di Masjid
Al Huda, Karanganom, Wonokoromo. Di tempat ini seluruh peserta kirab
berdoa memohon perlindungan dan kemurahan Tuhan. Setelah serangkaian
pidato sambutan lemper mulai disiapkan untuk dikirab dengan cara
dipikul. Urutan prosesi kirab ini yang paling depan adalah dua orang
penunggang kuda dengan pakaian tradisional Jawa, kereta yang
ditumpangi pejabat tinggi Bantul (Bupati atau wakilnya) dan Camat
Pleret, barisan musik, lemper raksasa, lemper kecil, barisan pembawa
umbul-umbul, dan masyarakat.
Rute perjalanan
ditempuh mulai dari halaman Masjid Al Huda Karanganom-Jalan Imogiri
Timur-Jalan Wonokromo-Pleret, dan terakhir adalah di halaman Balai
Desa Wonokromo. Di Balai Desa Wonokromo inilah lemper raksasa ini
dipotong dan dibagi-bagikan kepada para pengunjung. Di samping itu,
lemper-lemper ukuran biasa juga dibagi-bagikan dengan cara
dilemparkan dari atas panggung. Di tempat inilah pengunjung yang
jumlahnya dibuan memperebutkan lemper. Menurut kepercayaan siapa pun
yang mendapatkan lemper ini akan berhasil dalam meraih cita-cita,
sembuh dari sakit, gampang jodoh, dan sebagainya.
Tim Tembi:
Agus Doni P, Didit Priyo P, Agus P Herjaka, Sartono K.
     
|