| Yogya-mu
PERUMAHAN
DI YOGYAKARTA
Sudah
menjadi rahasia umum bahwa pemukiman di Yogyakarta, menjadi hunian
yang diidamkan oleh banyak orang. Fenomena ini dengan sigap ditangkap
oleh para pengembang properti/developer dan kontraktor bangunan.
Tidak mustahil kalau kemudian di wilayah Yogyakarta ini bertumbuhan
kompleks-kompleks perumahan baru dari berbagai tipe, harga, ukuran,
dan gaya. Pergerakan atau pertumbuhan perumahan ini kalau dicermati
seperti tidak pernah berhenti. Di Yogyakarta pertumbuhan perumahan
ini bisa dicermati terutama di Kabupaten Sleman dan kabupaten-kabupaten
lain pada umumnya.
Wilayah
Sleman nampaknya merupakan wilayah yang paling diminati oleh pemukim
baru yang ingin tingal di Yogyakarta. Hal ini dapat dimaklumi karena
wilayah Sleman merupakan wilayah yang relatif lebih pesat perkembangannya
dibandingkan kabupaten-kabupaten lain di wilayah Propinsi Yogyakarta.
Di samping itu, kondisi air tanah di Sleman dapat dikatakan merupakan
yang paling baik di wilayah Yogyakarta. Baik dalam pengertian bahwa
air di wilayah Sleman relatif lebih bening, bersih, dan dalam tingkat
pencemaran yang relatif masih dapat ditolerir. Kondisi udara di
wilayah ini pun relatif lebih bersih. Setidaknya bila dibandingkan
dengan Kotamadia Yogyakarta. Adanya universitas negeri tertua dan
besar di wilayah ini, kondisi jalan yang demikian beraspal mulus
sampai ke pelosok-pelosok desa, tersedianya sekolahan-sekolahan,
pasar, rumah sakit, kompleks pertokoan, warung-warung, terminal,
dan berbagai prasarana umum lain di wilayah ini juga turut memacu
Sleman untuk melesat dalam perkembangannya baik itu berakibat positif
maupun negatif.
Salah
satu hal yang cukup mencemaskan berkenaan dengan pertumbuhan perumahan
ini adalah tergusurnya lahan-lahan subur demi kepentingan pemukiman.
Sudah amat banyak lahan subur yang ditelan perumahan. Akibatnya
ruang terbuka hijau dan lahan subur sumber pangan terkurangi luasnya.
Apa yang disebut sebagai kantung-kantung beras mulai kehilangan
fungsi. Demikian juga apa yang disebut daerah hijau atau daerah
sejuk dan teduh mulai menjadi daerah batu bata dan beton. Daerah
teduh menjadi daerah panas, pengap, ibarat paru-paru yang terikat.
Daerah-daerah
yang penuh dengan perumahan ini berkembang menjadi dusun-dusun baru
dengan lahan terbuka hijau yang dapat dikatakan amat sangat minim.
Daerah-daerah semacam ini juga telah menutup permukaan tanah yang
berfungsi menangkap dan menyerapkan air ke dalam kedalaman tanah.
Akibat lebih jauhnya adalah banjir dan tidak terserapnya air hujan
ke dalam tanah. Di amping tentu saja, apa yang disebut sebagai kantung
beras, kantung hasil bumi, dan cadangan bahan pangan menjadi kehilangan
nilainya.
Pertumbuhan
atau perkembangan perumahan ini nampaknya akan semakin terus meluas
dengan menempati berbagai lahan. Tidak peduli apakah itu lahan subur
atau tidak, sejauh pemilik tanah melepaskan dan tanah itu menjanjikan
keuntungan bagi pengembang, hal yang demikian nampaknya akan terus
dilakukan. Bukan tidak mungkin lahan subur di Yogyakarta kelak akan
habis ditelan perumahan. Perhatikan saja pemukiman dan lahan di
sekitar Anda. Apakah pemukiman Anda kelihatan bergerak mendesak
semakin menyesaki ruang terbuka ? Bersiaplah untuk tidak menginjakkan
kaki di atas tanah, tetapi di atas ubin, aspal, keramik, atau beton
sebagai akibat dari pergerakan perkembangan perumahan yang tidak
mungkin lagi akan surut ke belakang, tetapi berkembang, berkembang,
dan berkembang. Silakan nikmati sajian TeMBI berkaitan dengan pertumbuhan
perumahan dalam kaitannya dengan semakin sempitnya lahan subur di
wilayah Propinsi DIY.
Teks:
Sartono Kusumaningrat
Foto: Didit Priya Daladi
   
   
|