|
Yogya-mu
PEREMPUAN-PEREMPUAN
PERKASA DARI YOGYAKARTA
Dunia
perkulian hampir selalu didominasi oleh laki-laki. Dalam bayangan
banyak orang, hampir mustahil digambarkan bahwa dunia kuli dimasuki
juga oleh kaum perempuan. Hal ini barangkali berkait erat dengan
anggapan bahwa kaum perempuan adalah kaum yang lemah dan lembut
sehingga urusan pengerahan kinerja otot/fisik yang berlebihan identik
dengan urusan laki-laki. Pandangan semacam ini dapat dipastikan
hampir selalu memustahilkan pandangan bahwa dunia perkulian yang
keras dengan urusan otot dimasuki oleh kaum perempuan.
Sekalipun
demikian, apabila kita menengok ke belakang sebentar, setidaknya
di Jawa, peranan wanita di luar sektor domestik sebetulnya sudah
banyak terjadi termasuk dalam urusan yang menyangkut kinerja otot.
Kaum perempuan di desa-desa banyak pula yang harus membantu kaum
laki-laki untuk memenuhi kebutuhan ekonomi rumah tangganya. Bantuan
dari kaum perempuan bisa merambah ke sektor-sektor yang dikerjakan
kaum laki-laki. Contoh untuk kasus tersebut dapat dilihat misalnya
perempuan turut memproduksi dan menjual kayu bakar, arang, batu
bata, tempe, dan sebagainya. Bahkan banyak juga kasus yang menunjukkan
bahwa kaum perempuan juga terlibat dalam pekerjaan sebagai buruh
di lokasi penambangan pasir, proyek pembangunan prasaran fisik,
dan sebagainya.
Dunia
kuli yang identik dengan otot, kasar, dan identik dengan sifat-sifat
maskulin hampir-hampir mustahil menempatkan perempuan di dalamnya.
Akan tetapi tekanan ekonomi sering menjadi alasan yang sangat kuat
untuk tidak memberlakukan pernyataan yang dipandang sebagai keumuman
semacam itu. Nampaknya hal ini berlaku di berbagai tempat di Indonesia
bahkan di dunia, lebih-lebih di negara-negara yang tergolong miskin/berkembang.
Di
Yogyakarta sendiri kuli perempuan barangkali bukan lagi dipandang
sebagai fenomena yang aneh. Fenomena perempuan menggendong kayu,
tempe, hasil bumi, dan lain-lain sambil menggandeng anak menuju
ke pasar bukanlah fenomena yang asing di Yogyakarta lebih-lebih
pada zaman transportasi belum maju seperti sekarang. Hal seperti
ini barangkali juga bukan fenomena yang aneh di tempat lain. Bahkan
kuli angkut barang perempuan di Yogyakarta pun bukan merupakan fenomena
yang aneh. Di Pasar Beringharjo, pasar terbesar di Yogyakarta, kuli
angkut barang yang dijalani kaum perempuan sudah menjadi fenomena
sehari-hari yang tidak asing lagi. Dari sebagian kuli perempuan
itu bahkan terdiri atas ibu-ibu yang usianya sudah paro baya dan
mereka mengangkut barang dengan pakaian tradisional (kebaya/kain)
yang bagi orang modern mungkin dipandang tidak praktis. Untuk dapat
melihat bagaimana kiprah perempuan-perempuan perkasa itu TeMBI menyajikan
hasil buruannya sebagai berikut. Silakan menikmati.
Teks:
Sartono Kusumaningrat
Foto: Didit Priya Daladi
    
|