|
Yogya-mu
PASAR
SINGKONG DI YOGYAKARTA
Singkong
sering diidentikkan sebagai jenis bahan makanan ndesa, kampungan,
tidak bergengsi, dan dekat dengan kemiskinan. Padahal jenis umbi
ini sebenarnya disadari atau tidak telah banyak memberikan andil
dalam urusan mulut dan perut bagi banyak orang di Indonesia. Ketika
bangsa Indonesia ditimpa kesulitan ekonomi yang sangat parah di
tahun-tahun 1930, 1960-an, singkong mau tidak mau menjadi pengganti
makanan pokok padi. Orang tidak lagi berpikir soal padi atau beras
ketika ekonomi demikian parah. Singkong adalah alternatif lain yang
murah, mudah, dan dan terjangkau.
Tanaman
singkong yang relatif mudah tumbuh ini cukup beragam jenisnya. Sekalipun
singkong identik dengan ndesa, namun makanan yang terbuat dari bahan
baku singkong sebenarnya sudah menembus ke berbagai lapisan atau
kelas sosial masyarakat. Dengan berbagai perpaduan makanan yang
berasal dari bahan baku singkong dapat berubah wujud dan rasa menjadi
makanan yang sering disebut-sebut cukup berkelas. Sebut saja kroket,
gethuk goreng, gethuk lindri, kerupuk, keripik adalah jenis-jenis
makanan yang dapat mengubah citra ndesa singkong menjadi makanan
yang cukup mempunyai gengsi.
Singkong
dapat ditemukan di hampir semua pasar tradisional di Jawa, khususnya
Yogyakarta. Melihat ketersediaannya yang cukup tersebar luas, maka
dapat disimpulkan bahwa sekalipun sering diremehkan, singkong merupakan
jenis bahan makanan yang banyak dibutuhkan.
Kecuali
mudah ditemukan di pasar-pasar tradisional singkong dan jenis umbi
lain yakni ubi dapat ditemukan dalam jumlah besar di Yogyakarta,
khususnya di Pasar Tela, Karangkajen, Mergangsan, Yogyakarta. Di
Pasar Tela ini orang tidak akan menemukan komoditas lain kecuali
singkong dan ubi. Bagi masyarakat Yogyakarta tela dan ubi ini semuanya
disebut dengan istilah tela. Hanya saja dalam bahasa lisan masyarakat
Yogyakarta tela dibedakan menjadi dua, yakni tela kaspa ‘singkong’
dan tela pendhem ‘ubi jalar’. Pasar tela ini merupakan
pusat perkulakan tela di Yogyakarta. Jadi, hampir semua pedagang
pengecer singkong dan umbi mengambil atau mengkulaknya di Pasar
Tela ini di samping mereka membelinya langsung dari petani. Hanya
saja pembelian langsung kepada petani ini relatif jarang dilakukan
mengingat sekarang petani singkong di Yogyakarta bisa dikatakan
sudah tidak begitu banyak.
Singkong
dan ubi yang disetorkan ke Pasar Tela Karangkajen ini tidak hanya
berasal dari Yogyakarta saja, tetapi banyak yang berasal dari daerah
Temanggung, Magelang, Muntilan, Wanagiri, dan sekitar daerah-daerah
itu.
Berikut
Tembi menyajikan hasil bidikannya berkenaan dengan keberadaan Pasa
Tela, Karangkajen. Selamat menikmati.
Teks:
Sartono K.
Foto: Didit PD.
   
|