| Yogya-mu
PESTA
OBOR:
TRADISI LEBARAN DUSUN DERESAN, KALURAHAN RINGINHARJO,
KECAMATAN BANTUL, KABUPATEN BANTUL, YOGYAKARTA
Di
berbagai wilayah di Yogyakarta ada banyak tradisi yang sampai sekarang
masih berlangsung. Salah satu tradisi yang ada di Yogyakarta, khususnya
yang berlangsung di Dusun Deresan, Kalurahan Ringinharjo, Kecamatan,
Bantul, Kabupaten Bantul adalah tradisi Pesta Obor. Menurut sumber
setempat tradisi Pesta Obor itu berlangsung sejak 1930-an. Menurut
Yuniarto (27 taun) yang menjadi ketua pemuda Dusun Deresan, Ringinharjo,
Pesta Obor ini dimulai dari jam 19.00 sampai selesai. Pesta ini
dimulai satu hari menjelang shalat Idul Fditri sampai dua-tiga hari
berikutnya. Jadi, bertepatan dengan waktu takbiran keliling sampai
dengan tiga hari setelah Hari Raya Idul Fitri. Pesta Obor ini sebenarnya
merupakan wujud dari rasa syukur warga Ringinharjo kepada Tuhan
karena mereka telah selesai melaksanakan ibadah puasa selama sebublan
penuh. Puncak dari kegembiraan dan syukur itu diwujudkan dengan
pesta obor yang dilanjutkan dengan kegiatan jual beli seperti pasar
malam.
Pesta
Obor ini dimulai dengan perarakan. Pesta Obor dimulai dari suatu
tempat yang telah ditentukan kemudian dilanjutkan dengan perarakan
menuju tempat atraksi api obor di sebuah tanah terbuka di bawah
pohon beringin yang besar dan rindang. Pohon beringin yang menjadi
tempat atraksi Pesta Obor di Deresan ini sampai sekarang masih terlestarikan.
Nama Kalurahan Ringinharjo konon sering dihubung-hubungkan dengan
keberadaan dua pohon beringin tersebut di atas. Diameter pohon beringin
tersebut untuk saat sekarang (Oktober 2003) 70 sentimeter, sedang
ketinggiannya ada sekitar 15 meter.
Perarakan
obor itu sendiri hanya diikuti oleh kaum laki-laki (biasanya pemuda)
dengan jumlah antara 30-40-an orang. Sedangkan kaum wanitanya lebih
banyak terlibat sebagai penonton dan penjual aneka makanan serta
mainan di lokasi atraksi obor. Perarakan obor itu juga diiringi
dengan alat musik berupa rebana dan bedug sarta nyanyian shalawat.
Wujud
obor dalam Pesta Obor ini juga bermacam-macam. Sebagian bersar memang
hanya berupa obor biasa (terbuat dari bambu dengan sumbu kain pada
ujung obor). Akan tetapi ada juga obor dalam bentuk lain seperti
obor yang memiliki sumbu pada kedua ujung obornya. Ada pula obor
yang dibuat berbentuk bundar seperti roda tana ruji-ruji, obor yang
terbuat dari tali panjang dan direntangkan, obor dengan empat sumbu,
obor renteng (obor dengan banyak sumbu), dan sebagainya.
Cara
memainkan obor pun dengan cara bermacam-macam. Obor dengan sumbu
pada bagian pucuk dan pangkalnya biasanya dengan cara diputar-putar
baik dengan kedua tangan maupun kaki. Orang yang membawa obor dengan
wujud tali biasanya dimainkan dengan meloncat-loncat dan obor tali
tersebut diputar-putarkan oleh dua orang yang masing-masing memegang
ujung tali. Sedangkan yang membawa obor berbentuk bundar seperti
roda cara memainkannya dengan meloncati lubang obor. Ada pula atraksi
lain dari pesta obor ini misalnya dengan menyemburkan minyak tanah
dari dalam mulut ke dalam nyala obor, dan sebagainya.
Menurut
keterangan Yuniarto, ketua pemuda Dusun Deresan, Ringinharjo, setiap
kali Pesta Obor ini berlangsung penonton yang menyaksikannya dapat
mencapai jumlah 2000-an orang. Sekalipun demikian tradisi Pesta
Obor ini pernah terhenti sekitar 3 tahun berturut-turut karena pernah
ada orang yang terbakar akibat mengikuti atraksi obor.
Sejarah
Pesta Obor Ringinharjo
Menurut
keterangan penduduk setempat Pesta Obor ini terjadi sejak tahun
1930-an. Konon pada tahun tersebut di Ringinharjo tinggal seorang
ulama bernama KH. Kholil. KH. Kholil tersebut giat menyiarkan agama
Islam di Ringinharjo dan sekitarnya. Kholil. Ulama ini terkenal
karena kedermawanannya, khususnya pada hari raya Idul Fitri. Pada
hari raya Idul Fitri ini KH. Kholil membagi-bagikan makanan berwujud
sate daging dan minuman yang terbuat dari kelapa muda dan sirup
gula jawa (juruh) dan aneka macam makanan kecil lain. Sekalipun
ada makanan lain, tetapi dua jenis makanan yakni sate daging dan
minuman dari kelapa muda tersebut selalu disajikan oleh KH. Kholil
untuk sedekah bagi warga Ringinharjo dan sekitarnya. Oleh karena
itu pula, maka sampai sekarang setiap kali tradisi Pesta Obor dilakukan
kedua jenis makanan tersebut pasti disajikan/dijual di Ringinharjo.
Dua jenis makanan tersebut di atas menjadi menu khas dalam Pesta
Obor di Ringinharjo. Masyarakat Ringinharjo menginginkan tradisi
Pesta Obor dapat dijadikan aset wisata.
Foto:
Dokumentasi Pemuda Ringinharjo dan Sartono K
Teks: Sartono K
 
|