| Yogya-mu
SENI
MURAL DI YOGYAKARTA (BAG. 2)
Mural
dan graffiti sekalipun menggunakan media maupun material yang relatif
sama, keduanya tetap dibedakan. Graffiti lebih menekankan diri stilisasi
rangkaian huruf yang biasanya dikerjakan dengan cat semprot. Sedangkan
mural adalah pelukisan realis atau ekspresif dari peristiwa keseharian
yang dapat dikerjakan dengan berbagai macam teknik: kuas, mosaik,
atau fresco.
Piramid-piramid
besar di Mesir sampai sekarang masih menyimpan karya-karya mural
zaman kuno. Lukisan mural penuh warna di dalam piramid-piramid tersebut
pada intinya menggambarkan orang mati yang ditempatkan di dalam
piramid serta keadaan masyarakat waktu itu. Bangsa Romawi mengadopsi
seni mosaik bangsa Yunani dan kemudian mengembangkna mural-mural
realis yang menggambarkan taman-taman dan desain-desain perkotaan
pada dinding-dinding rumah-rumah mewah bangsa Pompeii dan Herculaneum.
Mural
modern dimulai pada awal abad ke-20 dan dipelopori oleh Diego Rivera
(1886-1957), seoranng seniman besar dari Mexico. Rivera-lah yang
memperkenalkan mural ke ruang-ruang aktivitas publik serta menjadikannya
sebagai medium untuk menyampaikan idiom-idiom perjuangan, nasionalisme
dan realitas sosial politik. Karya-karya Rivera banyak membuahkan
kontroversi sekaligus juga banyak melahirkan inspirasi bagi para
seniman sesudahnya. Seniman-seniman mural abad ke-20 yang cukup
berperangaruh selain Rivera adalah Keith Haring (1959-1990) dan
Jean-Michel Basquait.
(bersambung)
Sumber:
Gambar/Foto: Koleksi Apotik Komik (Samuel Indratma)
Tabloid Dipublik, 2002 + Omong-omong dengan Samuel Indratma
   
|