|
Yogya-mu
MELIHAT
MONUMEN-MONUMEN DI YOGYAKARTA
Monumen
menjadi simbol kenangan akan sesuatu. Kenangan itu bisa akibat jasa
atau ikatan tali cinta kasih seseorang/kelompok pada orang per orang,
dusun, kelurahan, negara atau masyarakat. Monumen juga melambangkan
rasa hormat dan cinta dari orang kepada orang, dari masyarakat kepada
masyarakat, dari masyarakat kepada orang per orang/kelompok. Di
samping itu, monumen juga sering digunakan untuk memberikan tekanan
makna pada sesuatu. Tekanan itu bisa sekadar sebagai cara untuk
mengenang sesuatu yang sudah tidak ada lagi, tetapi juga sebagai
penyimbolisasian dari berbagai harapan.
Ada
banyak monumen dalam skala besar maupun kecil. Besar/kecil dalam
pengertian ukuran/areal fisiknya atau besar/kecil dalam pengertian
peristiwa yang hendak dikenangkan. Monumen-monumen yang besar dalam
ukuran fisik atau arealnya pada umumnya juga dimaksudkan untuk mengenang
peristiwa-peristiwa yang besar juga. Demikian pula sebaliknya.
Monumen
Pancasila Sakti adalah monumen yang cukup besar, baik areal maupun
bangunannya. Monumen ini didirikan untuk mengenang peristiwa besar
pembunuhan para jenderal menjelang meletusnya G 30 S PKI. Monumen
Yogya Kembali pun demikian pula. Monumen ini juga menempati areal
yang luas dan bangunannya pun besar dan megah. Monumen ini didirikan
untuk mengenang peristiwa besar kembalinya Yogyakarta ke pangkuan
ibu pertiwi.
Di
samping monumen-monumen besar dan megah itu ternyata di Yogyakarta
juga banyak ditemukan monumen-monumen kecil (areal maupun wujud
bangunannya). Monumen-monumen kecil ini banyak tersebar di berbagai
pelosok kota Yogyakarta. Ada monumen yang digunakan untuk mengenang
cikal bakal kampungnya, ada monumen yang digunakan untuk mengenang
pahlawan desanya, ada monumen yang digunakan untuk mengenang kelompok/seseorang
yang pernah dianggap berjasa terhadap desanya, dan sebagainya.
Monumen-monumen
di Yogyakarta dan Indonesia pada umumnya, hampir selalu didirikan
untuk mengenang pejuang-pejuang revolusi fisik. Monumen yang didirikan
untuk mengenang pejuang ilmu (ilmuwan), pejuang-pejuang intelektual,
orang-orang yang berjasa di luar kefisikan, jarang ditemukan di
Yogyakarta atau Indonesia. Seolah-olah yang layak mendapat penghargaan
dalam bentuk monumen adalah mereka yang berjuang untuk memerdekakan
negara dari penjajahan bangsa asing.
Berikut
ini TeMBI menyajikan hasil bidikannya mengenai berbagai macam monumen
yang bertebaran di kota Yogyakarta.
Naskah:
Sartono Kusumaningrat
Foto: Didit Priya Daladi
  
|