|
Yogya-mu
MODEL
POTONG RAMBUT: TIDAK LENYAP SETELAH ADA SALON
Di
Yogyakarta dulu ada sebutan "ngisor ringin" untuk menunjuk
tukang potong rambut yang membuka jasanya di bawah pohon ringin
yang ada dipinggir alun-alun utara Yogyakarta. Potong rambut "ngisor
ringin" ini memang dikenal oleh masyarakat Yogyakarta, karena
jasa potong dilakukan secara terbuka dan setiap orang yang lewat
di alun-alun utara bisa melihatnya. Kadang juga, sering untuk ledekan,
kalau ada jenis rambut yang teknis pangkasnya jelek, sering dikatain
sebagai potonge ning ngisor ringin (pangkasnya di bawah pohon beringin).
Di
Yogyakarta, setidaknya sebelum menjamurnya salon, ada banyak tempat
untuk pangkas rambut. Jenis pekerjaan ini dilakukan oleh laki-laki
dan biasanya buka pada malam hari. Tapi ada juga yang anytime: sewaktu-waktu
ada relasi yang akan pangkas selalu siap. Ada tukang potong rambut
yang membuka jasanya di rumah tinggalnya, namun ada juga yang menyewa
satu tempat dan dipakai untuk tempat jasa potong rambut.
Sebagai
contoh kasus, di kampung Kadipaten Kidul, di wilayah njeron beteng
Kraton, yang tidak jauh dari alun-alun utara, pada tahun 1980-an
ada tukang potong rambut yang cukup dikenal dan setiap hari selalu
saja orang yang ngantri untuk potong. Setiap malam -tukang potong
rambut ini buka pkl 19.00 wib-tidak kurang 10 orang selalu menanti
giliran.
Begitulah
potong rambut tradisional. Sampai sekarang jenis potong rambut seperti
itu tidak lenyap, meskipun di Yogya ada banyak salon sebagai jenis/model
potong rambut yang modern, dan tukang jasa potongnya perempuan.
Jenis potong salon ini, sebagaimana dulu tukang potong rambut, juga
mudah di jumpai di sembarang tempat, selain di pusat-pusat perbelanjaan,
salon juga bisa ditemui di dalam perkampungan.
Begitulah
jasa potong rambut di Yogyakarta, meskipun telah muncul teknologi
potong rambut, yang disebut sebagai salon, tetapi jenis potong rambut
tradisional masih tetap hidup dan mempunyai tidak sedikit konsumen.
Potong rambut, pada akhirnya bukan sekedar proses menata dan merapikan
rambut yang sudah panjang, tetapi lebih dari itu telah menjadi simbol
status sosial. Salon sebagai wujud dari status sosial itu.
Namun
tidak semua masyarakat menerima salon dan menolak jasa potong tradisional.
Buktinya masih ada tempat jasa potong tradisional, yang laik disebut
tukang potong, bukan salon, meskipun sama-sama mamangkas rambut.
Perubahan
wacana dari tukang potong ke salon memberi implikasi sosial dan
ekonomis.
Apakah
anda ingin potong? Silahkan ke Yogya. Jika mau di gundul
..
Teks:
Ons Untoro. Foto-foto Didit Priyo Daladi.
    
    
|