|
Yogya-mu
GUNUNG MERAPI:
PESONANYA MENYIHIR SIAPA SAJA
Gunung Merapi tentu bukanlah gunung yang asing lagi
bagi masyarakat Yogyakarta dan Jawa Tengah. Gunung yang menjadi
pembatas antara Kabupten Sleman, Kabupaten Magelang, Kabutapen
Boyolali, dan Kabupaten Klaten ini merupakan salah satu gunung yang
paling aktif di Indonesia.
Gunung yang memiliki
ketinggian 2.911 meter ini telah berulang kali meletus. Bahkan
letusannya telah banyak merenggut korban nyawa maupaun harta benda.
Pada sekitar abad ke-10 gunung ini menglami letusan yang besar
sehingga mengubur ibukota Kerajaan Mataram Kuno. Peristiwa ini dalam
catatan sejarah sering disebut dengan peristiwa pralaya.
Pralaya dapat diartikan sebagai kematian atau bahkan kiamat.
Peristiwa ini mengakibatkan eksodus penduduk Mataram Kuno sehingga
pusat pemerintaan di Jawa waktu itu berpindah ke Jawa Timur.
Tidak mengherankan
bahwa begitu banyak candi yang berada di kaki-kaki gunung ini ikut
terkubur dan sebagian baru ditemukan beberapa abad kemudian. Gunung
ini begitu potensial dengan muntahan laharnya yang menjadi sumber
utama material kerikil, pasir, dan batu. Muntahan material ini
banyak terbawa arus air kali yang berhulu di gunung ini. Material
inilah yang kemudian menjadi salah satu bahan tambang galian yang
banyak dimanfaatkan orang untuk bahan bangunan. Tidak aneh jika ada
begitu banyak penambang yang berdatangan di kaki-kaki Gunung Merapi
untuk mengais rejeki. Sayangnya pula kerakusan manusia menyebabkan
penggalian tambang tersebut sering dilakukan dengan semena-mena
tanpa mempertimbangkan keselamatan dirinya sendiri, orang lain, dan
lingkungan alam itu sendiri.
Pada sisi lain Gunung
Merapi juga membentuk kontur tanah dan komposisi alam yang indah dan
sejuk. Komposisi alam yang demikian inilah yang kemudian banyak
dimanfaatkan manusia untuk tempat wisata. Tidak aneh kalau kemudian
muncul tempat-tempat wisata seperti Kaliurang, Deles Indah, Jurang
Jero, Ketep, Plawangan, dan Selo.
Merapi dengan
lingkungan vegetasinya juga telah menyumbang pasokan air jernih pada
wilayah-wilayah di bawahnya. Pembangunan perumahan atau pemukiman,
terutama di Sleman yang terus mengarah ke utara sampai di sekitar
kaki Merapi ini lambat laun dapat menjadi bencana bagi penyediaan
air tanah di wilayah tersebut. Barangkali juga hal itu menjadi
ancaman bagi struktur tanahnya yang memiliki kemiringan bervariasi.
Longsor adalah ancaman yang patut diwaspadai di daerah ini.
Teks dan Foto: Sartono K

|