|
Yogya-mu
SEGA GENENG: MASAKAN KHAS LAIN DARI BANTUL
Berbicara tentang menu
masakan atau aneka jenis masakan di Jogja, maka dapat diceritakan
pula jenis masakan yang cukup terkenal di Bantul yakni Sega Geneng.
Disebut Sega Geneng karena masakan ini berupa nasi dengan lauk pauk
sejenis gudeg dan ikan lele. Yang paling khas dari Sega Geneng ini
adalah lauknya yang berupa ikan lele bakar yang kemudian dimasak
dengan bumbu-bumbu tertentu. Hanya saja bumbu yang digunakan di sini
lebih dominan rasa pedas atau cabainya. Tidak mengherankan jika
tampilan masakan lelenya tampak mengkilat dengan kuah warna merah.
Bagi yang tidak tahan pada rasa pedas, dijamin orang tersebut bakal
megap-megap dengan air mata bercucuran dan air liur berleleran.
Cara membakar ikan lele ini
pun menggunakan cara-cara yang khas yang mungkin tidak didapati di
daerah lain. Langkah pertama untuk mengolah ikan lele ini tentu saja
dengan membersihkannya. Setelah itu ikan lele ditusuk sesuai dengan
panjang ikan. Alat untuk menusuk itu pun bukan sebangsa lidi atau
kayu biasa melainkan tusuk yang dibuat dari bongkok ‘tulang daun
kelapa’. Hal ini akan memberikan aroma dan rasa yang khas. Demikian
kiat Mbok Marto mengolah lele. Selain itu lele ini pun tidak dibakar
di atas bara arang melainkan bara api yang dibuat dari pembakaran
sepet (sambuk) kelapa yang telah kering. Hal ini juga dilakukan Mbok
Marto karena dampak pembakaran ikan lele dengan sepet dan arang
biasa menghasilkan aroma ikan lele bakar yang berbeda pula. Yang
jelas pembakaran dengan sepet ini juga memberikan dampak pada ikan
lele untuk tidak cepat gosong namun matang secara pelan dan aromanya
demikian harum.
Aroma sangit ikan lele bakar
ini sangat khas dan mengundang selera. Kuah santan kental dengan
rempah-rempah dan gerusan cabai yang demikian banyak yang kemudian
dimasak hingga kuah mengering menyebabkan rasa daging lelenya
demikian gurih dan kenyal.
Di samping itu, lauklain
dari rangkaian Sega Geneng adalah gudeg lengkap dengan telur, daging
ayam, tahu, tempe, dan sambal doreng krecek melengkapi sajian Sega
Geneng. Yang istimewa pula harga satu porsi Sega Geneng dengan lauk
satu ekor ikan lele, tahu, krecek, gudeg, dan satu taeh panas manis
tidak lebih dari Rp 8.000,-. Itu pun pembeli dipersilakan mengambil
nasi sendiri sesuai dengan kemampuan kantung perutnya masing-masing.
Sega Geneng memang bukanlah
menu direstorankan. Sega Geneng adalah masakan kelas rumah makan
biasa. Bahkan sangat sederhana. Penjualnya yang bernama Mbok Marto
yang semula menjajakan masakannya dengan cara berkeliling, setelah
cukup umur lantas melanjutkan usahanya dengan membuka warung di
rumah. Ia tetap setia memasak masakannya dengan cara-cara ndesa.
Kayu bakar adalah bahan bakar utamanya. Oleh karena itu dapur
rumahnya juga kelihatan hitam legam karena asap dari kayu bakarnya.
Ia juga menyajikan masakannya dengan menaruh begitu saja di dalam
panci-panci sederhana. Lantas panci-panci tersebut diletakkan begitu
saja di atas dipan bambu (lincak) lebar yang hanya dialasi sepotong
tikar mendong. Benar-benar sederhana. Tanpa polesan atau gaya tata
boga yang aduhai seperti restoran.
Sekalipun demikian, jangan
ditanya soal pelanggan yang mendatangi tempat ini. Sekalipun rumah
Mbok Marto berada di jantung dusun dengan gang yang sempit bahkan
boleh dibilang nylempit, banyak orang memburunya. Tidak mengherankan
jika dalam seharti ia mampu menghabiskan ikan lele sebanyak 10
kilogram. Ayam empat ekor dan beras sampai lebih dari lima kilogram.
Teks: Sartono K.
Foto: Didit PD.
   
|