|
Yogya-mu
PASAR-PASAR
LOAK DI YOGYAKARTA
Pada
awal Krisis Moneter 1997, bangsa Indonesia seperti tenggelam dalam
bencana yang tidak bertepi sampai sekarang. Pada masa-masa itulah
harga-harga melambung naik sementara daya beli masyarakat merosot
turun. Di mana-mana orang bingung, frustrasi, gusar, dan marah.
Orang menjadi sensitif dan mudah sekali meledak dalam amuk. Orang
tidak tahu lagi bagaimana keluar dari belitan krisis bak lilitan
ular pyton ini. Tidak terkecuali masyarakat Yogyakarta juga sakit
mengalami hantaman krisis itu.
Orang
lantas berhitung betul-betul untuk mengeluarkan uangnya. Hal yang
tidak penting tidak dibeli. Uang sedapat mungkin dibelanjakan untuk
kepentingan nasi. Selain itu, nanti dulu. Dalam kondisi semacam
ini barang-barang seperti barang elektronik, suku cadang kendaraan,
pakaian, obat-obatan, dan semua barang import menjadi demikian mahal,
nyaris tidak terjangkau. Tidak aneh kalau kemudian orang berusaha
mencari harga-harga murah untuk keperluan itu. Akibtanya, barang-barang
bekas yang istilah kerennya second hand menjadi begitu diminati
karena harganya jelas lebih rendah dari harga barang-barang yang
masih baru.
Kondisi
semacam itu membangkitkan tumbuhnya aktivitas jual beli barang bekas
secara meluas di Yogyakarta (sekalipun pada masa sebelum krisis
aktivitas semacam ini juga sudah ada) . Kondisi semaca itu telah
memicu tumbuhnya pasar-pasar loak di Yogyakarta. Bahkan pasar ini
menjadi sasaran utama para pencari suku cadang kendaraan, kunci,
barang elektronik, pakaian, sepatu, bahkan sampai pada urusan alat
tulis. Jika kita keliling Yogyakarta kita akan menemukan pusat-pusat
penjualan barang bekas itu, di antaranya; Alun-alun Selatan, Pasar
Kranggan, Jalan Pangeran Mangkubumi, Jalan Wanasari (Sekar Suli),
Jejeran (Plered), Pasar Beringharjo, Paku Alaman, Depan Pasar Gampingan,
Tamansari, dan mungkin juga di tempat-tempat lain dalam skala besar
maupn kecil. Berikut ini TeMBI menyajikan tempat-tempat penjualan
barang bekas yang sering disebut sebagai pasar klithikan oleh masyarakat
Yogyakarta. Klithikan dalam bahasa Jawa dikonotasikan sebagai sesuatu
yang kecil, remeh, dan murah. Silakan simak.
Naskah:
Sartono Kusumaningrat
Foto: Didit Priya Daladi
    

  
|