|
Yogya-mu
YOGYAKARTA
DIBANGUN UNTUK BEBAS DARI BANJIR ?
Kota
Yogyakarta didirikan dengan sebuah perhitungan yang cukup baik.
Mendiang Sultan Hamengku Buwana I yang waktu itu masih bernama Pangeran
Mangkubumi telah memperhitungkan bahwa Keraton Yogyakarta harus
didirikan di atas tanah yang baik dan aman. Salah satu tindakan
pencegahan demi keamanan dan keselamatan Keraton dari ancaman bencana
alam letusan Gunung Merapi adalah dengan meletakkan keraton jauh
di selatan "benteng" berupa bukit, yakni Bukit Plawangan
dan Kaliurang di sisi utara. Dengan demikian, aliran lahar atau
letusan gunung ini dapat dicegat oleh bukit-bukit tersebut. Sedangkan
untuk menghindari banjir yang dapat melanda keraton, maka keraton
didirikan di antara jalur-jalur sungai bertebing cukup tinggi. Sungai-sungai
yang sekarang melintasi wilayah Kotamadia Yogyakarta adalah Sungai
Code, Sungai Winanga, dan Sungai Gajah Wong.
Melalui
ketiga sungai ini limpahan air hujan yang mengguyur kota Yogyakarta
dapat dialirkan ke dalamnya. Dengan demikian, debit air yang tinggi
yang memasuki kota Yogyakarta dapat dengan cepat dipindahtempatkan
pada lokasi yang lebih aman. Di samping itu, dengan ketiga sungai
yang memasuki kotamadia itu Yogyakarta akan relatif lebih terjaga
cadangan air bersihnya. Setidaknya ketiga sungai tersebut dapat
difungsikan untuk menggelontor limbah di tengah kota Yogyakarta
sehingga endapan limbah dapat segera tersingkirkan. Oleh karena
itu pula penggelontoran kota salah satunya dilakukan dengan memasukkan
air ke suplesi Code melalu I saluran bawah tanah menuju ke arah
Jl. Malioboro terus ke selatan masuk ke kawasan Keraton Yogyakarta.
Dari Keraton Yogyakarta air terus menuju ke selatan dan dipecah
ke arah barat dan timur. Ke barat sampai ke Sungai Winanga dan ke
arah timur sampai ke Sungai Code. Sedangkan buangan lainnya digunakan
untuk mengoncori daerah pertanian di sekitar Krapyak-Mantrijeron
dan juga Sewon bagian utara.
Hanya
saja sungai-sungai yang melintasi wilayah kotamadia ini pada saat
sekarang relatif tidak terjaga kehidupannya, utamanya pada sisi
kebersihannya. Akibatnya air dari ketiga sungai ini tidak lagi layak
digunakan untuk mandi maupun mencuci. Hal yang demikian pada tahun
tujuh puluhan dapat dikatakan belum begitu nampak. Pada tahun-tahun
tersebut orang-orang di sekitar aliran ketiga sungai tersebut masih
sangat lazim menikmati kejernihan air ketiga sungai untuk mandi
dan mencuci. Pad tahun-tahun tersebut habitat ikan yang hidup di
dalamnya pun masih relatif lengkap dan dalam jumlah yang cukup banyak.
Yogyakarta
yang pada awalnya dirancang untuk bebas banjir ini sekarang nampaknya
gagal memenuhi rancangan itu. Yogyakarta sudah terbiasa mengalami
banjir. Hal ini utamanya diakibatkan oleh ulah manusianya sendiri.
Banyak saluran air di berbagai tempat macet karena banyak saluran
air yang digunakan untuk tempat pembuangan sampah. Di samping itu
juga terjadi pendangkalan saluran air di sana-sini akibat tidak
rajinnya warga Yogyakarta sendiri dalam mengontrol dan membersihkan
saluran-saluran tersebut.
Berikut
disajikan beberapa foto dari sungai yang mengaliri Kotamadia Yogyakarta.
Silakan nikmati. Semoga Anda semakin menyayangi Yogyakarta dengan
penuh tanggung jawab.
Sumber:
Suhindriyo, 2001, Anugerah Kali Progo, Yogyakarta: Yayasan Pustaka
Nusatama
Teks:
Sartono Kusumaningrat
Foto: Didit Priya Daladi
    
|