|
Yogya-mu
SELINTAS
TENTANG JURUKUNCI DI YOGYAKARTA
Dalam
masyarakat Jawa tidak terkecuali di Yogyakarta petilasan atau tempat
yang menjadi objek peziarahan masih dapat ditemukan di berbagai
tempat. Hampir semua tempat peziarahan tersebut dijaga oleh satu
atau lebih jurukunci. Dalam naungan keraton golongan jurukunci ini
dibagi dalam beberapa kategori, di antaranya yang berpangkat jajar
dan magang. Bagi yang berpangkat jajar kedudukan mereka sudah diresmikan
sebagai jurukunci. Sedangkan bagi yang masih magang biasanya bertugas
membantu segala pekerjaan jurukunci. Tempat-tempat peziarahan yang
berada dalam perlindungan Keraton Kasultanan Yogyakarta biasanya
memiliki jurukunci-jurukunci yang bergelar Surakso, misalnya Surakso
Tirto, Surakso Puspita, dan seterusnya. Sedang bagi seseorang yang
masih tergolong magang, maka orang tersebut belum beroleh nama gelaran
surakso. Bagi jurukunci di bawah naungan keraton ini diwajibkan
untuk sowan ke keraton dalam waktu-waktu tertentu. Mereka juga mendapatkan
gaji dan jatah beras dari keraton.
Lain
pula halnya dengan jurukunci-jurukunci yang berada di luar sistem
administrasi atau naungan Keraton Yogyakarta, maka para jurukunci
itu tidak mendapatkan nama gelaran dari keraton. Masing-masing nama
mereka biasanya sesuai dengan nama asli atau nama di dalam KTP.
Apabila
dicermati, maka akan tampak bahwa tempat-tempat ziarah yang berada
di bawah naungan keraton tersebut terlihat lebih terawat dan bersih.
Sedangkan tempat-tempat ziarah yang berada di luar naungan keraton
biasanya kelihatan relatif lebih kotor dan kurang terawat.
Berdasarkan
tata cara peziarahan, objek-objek peziarahan di bawah naungan keraton
biasanya juga memiliki sistem birokrasi yang lebih rumit daripada
objek peziarahan yang lain. Objek peziarahan di bawah naungan keraton
biasanya buka resmi pada hari-hari tertentu. Orang yang datang ke
tempat itu pun disarankan untuk mengikuti aturan yang diterapkan
di tempat tersebut, misalnya harus berpakaian adat Jawa lengkap,
membawa kembang telon, minyak wangi, kemenyan, dan sebagainya. Sedangkan
tempat peziarahan di luar naungan keraton biasanya lebih longgar
sifat birokrasinya.
Ada
satu hal yang patut dicatat dari kehidupan para jurukunci tersebut.
Mereka biasanya mendapatkan tugas tersebut secara turun-temurun.
Sekalipun demikian, ada pula beberapa jurukunci yang mendapatkan
jabatannya karena pelimpahan tugas atau bahkan oleh karena wangsit.
Sejauh
pengamatan Tembi di lapangan, hampir semua jurukunci memangku jabatannya
dengan tulus ikhlas. Hampir semua jurukunci tidak pernah mengeluhkan
tugas-tugasnya sekalipun mereka hanya mendapatkan gaji dari keraton
dalam jumlah rupiah yang tidak besar (untuk jurukunci di bawah naungan
keraton). Bagi mereka tugas tersebut lebih ditanggapi sebagai panggilan
atau bagian dari perjalanan nasib yang harus dijalani dengan legawa
atau senang hati. Jabatan atau tugas mereka ditanggapi sebagai apa
yang memang sudah sepantas dan seharusnya.
Sedangkan
bagi jurukunci di luar naungan keraton, mereka menjalankan tugasnya
dengan senang hati karena menurut mereka pekerjaan itu menenteramkan
hati mereka. Imbalan yang berupa uang tips atau dalam istilah Jawanya
wajib,bagi mereka bukan merupakan tujuan utama mereka. Demikian
menurut pengakuan mayoritas jurukunci. Mereka lebih mengharapkan
sawab ‘semacam berkah’ dari leluhur yang dimakamkan
di tempat tersebut atau bahkan dari yang mbaureksa tempat tersebut.
Secara
langsung maupun tidak keberadaan para jurukunci ini sebetulnya telah
menjadi semacam penjaga bagi kelestarian suatu tempat peziarahan
atau situs yang dalam kadar tertentu sebetulnya merupakan bagian
yang sangat penting dari peninggalan sejarah masa lalu.
Berikut
ini ditampilkan beberpa wajah para jurukunci yang pernah ditemui
Tembi.
Foto:
Sartono K & Didit PD
Teks: Sartono K
   
|