|
Yogya-mu
YOGYAKARTA
DAN HURUF JAWA
Jika
orang berjalan-jalan di Yogyakarta orang akan menemukan banyak nama
jalan yang dituliskan dengan dua macam sistem huruf, yakni huruf
Latin dan huruf Jawa. Bagi orang yang berasal dari etnik lain dan
belum pernah menginjakkan kakai di kota Yogyakarta hal seperti itu
mungkin akan sedikit menimbulkan rasa heran. Akibat dari hal tersebut
sangat mungkin menimbulkan semacam dugaan atau tuduhan bahwa Yogyakarta
bersifat Jawa sentris. Dugaan atau tuduhan semacam itu tidak dapat
disalahkan. Belum lagi kalau orang melihat salah satu jenis bis
kota di Yogyakarta, salah satu bis kota di Yogyakarta juga diberi
nama dengan tulisan berhuruf Latin dan Jawa.
Tidak dapat dipungkiri kota Yogyakarta, seperti kota-kota lainnya
tentu ingin juga menonjolkan identitas dirinya. Salah satu ciri
yang kental di Yogyakarta di samping kota Surakarta barangkali adalah
pada sisi kejawaannya itu. Setidak-tidaknya pada penggunaan bahasanya.
Nampaknya sosok bahasa yang diwakili oleh visualisasi yang berupa
sistem huruf inilah yang dicoba ditampilkan melalui media yang salah
satunya berupa papan nama jalan dan juga body bis kota. Upaya ini
barangkali memang tidak sia-sia. Artinya, dengan demikian orang
Yogyakarta sendiri akan disadarkan/diingatkan pada keberadaan sistem
huruf yang selama ini telah merekam dan mewadahi bahasa ibu mereka,
yakni bahasa Jawa. Ingatan seperti itu dimaksudkan pula untuk menggugah
mereka agar kemudian mempunyai perhatian yang memadai terhadap sistem
huruf mereka sendiri yang dalam arti luas telah banyak merekam bahkan
hampir semua aspek kehidupan nenek moyang mereka.
Hanya saja, sistem huruf seperti termaksud di atas sampai sekarang
relatif kurang dikenal oleh masyarakat Yogyakarta sendiri khususnya
pada generasi mudanya. Hal demikian terjadi mungkin karena semakin
gencarnya penggunaan bahasa di luar bahasa Jawa (bahasa ibu) oleh
masyarakat Yogyakarta sendiri dalam kehidupan sehari-harinya. Barangkali
juga karena intensitas mereka yang mengharuskan mereka untuk selalu
berkomunikasi dengan orang yang tidak berbahasa ibu bahasa Jawa
menyebabkan mereka harus menggunakan bahasa yang lebih luas penggunaannya
seperti bahasa Indonesia, Inggris, maupun bahasa lainnya. Intensitas
semacam ini sering tidak disadari menghapus ingatan mereka pada
bahasa ibu dan juga sistem hurufnya yang beberapa dekade lampau
merupakan alat komunikasi yang cukup vital bagi masyarakatnya. Pencantuman
tulisan berhuruf Jawa di sekian papan nama jalan, body bis kota,
dan tempat-tempat lain mungkin merupakan salah satu wujud keprihatinan
masyarakat Jawa akan keterasingan bahasa dan huruf Jawa di kampung
halamannya sendiri.
Berikut ini TeMBI menyajikan beberapa contoh nama jalan, body bis
kota yang dituliskan dengan dua sistem huruf yakni Jawa dan Latin.
Silakan menikmati Yogyaku-Yogyamu.
Teks:
Sartono Kusumaningrat
Foto: Didit Priya Daladi
  
  
|