| Yogya-mu
KIOS-KIOS
HELM DI YOGYAKARTA
Wajib
menggunakan helm pengaman nampaknya sudah tidak lagi mendapatkan
perlawanan dari masyarakat. Ketika aturan berlalu lintas tersebut
digulirkan untuk pertama kalinya, mula-mula memang mendapatkan pertentangan
yang lumayan keras dari masyarakat. Ada beberapa argumen yang dikemukakan.
Salah satu argumen yang dikemukakan adalah bahwa urusan keselamatan
berkendara adalah urusan pribadi si pengendara. Argumen lain menyatakan
bahwa keselamatan pengendara tidak terletak pada sebuah helm.
Apa
pun argumen yang dikemukakan pada akhirnya peraturan berlalu lintas
khususnya bagi pengendara sepeda motor, kewajiban mengenakan helm
tetap diberlakukan. Apabila hal itu tidak dilaksanakan oleh para
pengendara sepeda motor, maka pengendara tersebut akan dikenai sanksi-sanksi
yang cukup berat. Akhirnya, para pengendara sepeda motor pun tidak
bisa berkutik. Dalam hati kecil enggan mengenakan helm, apa daya
ada ancaman sanksi yang sewaktu-waktu dapat menimpa dirinya. Mau
tidak mau helm pun dibeli untuk dikenakan jika sedang mengendarai
sepeda motor. Pembelian helm ini sangat sering tidak didasari oleh
kesadaran demi pengamanan anggota badan dari benturan, tetapi lebih
didasari oleh rasa takut kena tilang atau kena sanksi. Oleh karena
itu pula banyak pengendara sepeda motor yang mengenakan helm yang
tidak dapat dijamin standar atau kemampuan pengamanannya. Tidak
aneh banyak bermunculan helm-helm murah dengan kualitas yang sangat
buruk. Banyak istilah untuk helm-helm yang tidak dianggap memenuhi
standar keselamatan ini, di antaranya adalah helm ember, helm krupuk,
helm topi, dan sebagainya.
Kota
Yogyakarta memiliki transportasi umum yang masih terbatas baik jumlah,
rute, maupun jam operasinya mendorong orang untuk menyediakan kendaraan
pribadi. Kendaraan pribadi yang paling praktis dan relatif untuk
wilayah Yogyakarta adalah kendaraan jenis sepeda motor. Salah satu
alasan kepraktisan sepeda motor adalah karena bentuknya yang kecil
ramping sehingga dapat menyusup kemana-mana. Alasan lainnya adalah
karena Yogyakarta banyak dihuni pemuda pendatang yang notabene belum
bekerja sehingga penghasilannya juga relatif kecil sehingga jika
dipaksakan untuk memiliki kendaraan jenis mobil dipandang masih
kurang mampu.
Kondisi-kondisi
semacam di atas mendorong bisnis perhelman di Yogyakarta cukup maju
pesat. Tidak aneh kalau kemudian banyak bermunculan kios atau toko
yang khusus menjual berbagai jenis/model helm dengan berbagai macam
asesorinya. Toko atau kios helm tersebut dapat ditemui di hampir
semua ruas jalan besar di Yogyakarta. Dilihat dari sisi tersebut
dapat diduga bahwa bisnis perhelman di Yogyakarta cukup menjajikan.
Bahkan helm-helm bekas pun laku diperjualbelikan. Hal ini dapat
dilihat di warung-warung klitikan/tukang loak di Yogyakarta.
Sekalipun
hampir di semua ruas jalan di Yogyakarta terdapat kios atau toko
helm, tetapi dapat dikatakan bahwa pusat perhelman di Yogyakarta
terletak di kawasan Kotabaru, khususnya di Jl. Abu Bakar Ali. Di
ruas jalan ini khususnya lagi di sisi selatan Gereja Santo Petrus
Kotabaru ke barat sampai di tikungan Jembatan Kewek, berderet-deret
pedagang helm menjual dagangannya. Mulai dari berbagai macam/model
helm sampai ke asesorisnya. Bahkan kios-kios itu juga memberikan
layanan jasa berupa servis helm (bongkar pasang helm dengan segala
kelengkapannya).
Berikut
ini TeMBI menyajikan hasil jepretan berkaitan dengan perdagangan
helm di Yogyakarta. Silakan menikmati.
Teks:
Sartono K.
Foto: Didit PD.
   
|