|
Yogya-mu
GONDOLAYU DAN JEMBATANNYA DI MASA LALU
Masyarakat Yogyakarta tentu
tidak asing dengan yang namanya Jembatan Gondolayu. Jembatan ini
membentang di atas Kali Code. Jalan di atas jembatan ini dinamakan
Jalan Jendral Sudirman. Jembatan ini menghubungkan wilayan
Gondolayu/Jetis Pasiraman di sisi barat dengan Terban/Kotabaru di
sisi timur.
Banyak orang yang sudah lupa
atau bahkan tidak tahu bahwa nama Gandalayu pernah memiliki banyak
tafsir. Versi yang pertama menafsirkan bahwa nama Ganadalayu berasal
dari kata ganda ‘aroma, bau’ dan layu yang berasal dari kata layon
‘mayat, jenazah’. Jadi versi ini menyatakan bahwa nama Gandalayu
berasal dari fenomena teciumnya bau mayat di tempat ini. Bau ini
tercium oleh warga sekitar dengan jangka waktu yang demikian lama.
Oleh karena itu masyarakat sekitar sering bergumam atau berkata
dalam hati,”ngganda layon, ngganda layon”. Dari fenomena inilah
kemudian muncul nama Gandalayu yang kemudian dijadikan sebagai nama
kampung. Layon atau mayat itu sendiri tercium baunya dari sekitar
Gandalayu yang sekarang karena di sisi utara kampung Gandalayu pada
masa lalu memang terdapat kuburan (bong) Cina.
Versi lain lagi menyatakan
bahwa Gandalayu berasal dari kata nggondhol ‘melarikan, membawa’ dan
ayu ‘cantik, ayu’. Versi yang kedua ini menyatakan bahwa pada masa
lalu jembatan ini sering digunakan untuk bunuh diri para gadis yang
putus asa (biasanya karena persoalan asmara). Jadi, versi ini
cenderung menyatakan bahwa jembatan ini pada masa lalu sering
menggondol nyawa para gadis cantik.
Ada pula versi lain yang
menyatakan bahwa nama Gondolayu berasal dari nama Bandalayu. Nama
Bandalayu ini sudah ada jauh sebelum Jembatan Gondolayu didirikan.
Nama Bandalayu digunakan untuk menamakan tempat pemandian atau taman
air yang dibangun oleh Sultan Hamengku Buwana I. Pemandian ini dulu
dibangun di sisi barat sungai di sebelah utara jembatan yang
sekarang. Hanya saja bekas bangunan taman air ini sekarang sudah
tampak lagi alias lenyap. Menurut laporan Majalah Mekarsari No. 8
Taun KA XXII, 15 Juni 1978, 9 Rejeb, Je 1910, halaman 15, pada tahun
1900-an bekas kolam dan bangunan balekambang di Pemandian Bandalayu
ini masih kelihatan. Bahkan oleh Mekarsari disebutkan bahwa bangunan
Balekambang itu memiliki hiasan berupa arca garuda pada bagian
atapnya.
Pemandian dalam bahasa Jawa
sering disebut dengan istilah pasiraman. Untuk melestarikan nama
pemandian raja dan kerabatnya itu istilah pasiraman kemudian
digunakan untuk menamakan kampung yang letaknya berada di sebelah
utara kampung Gondolayu yang sekarang. Nama lengkap kampung tersebut
adalah Jetis Pasiraman. Nama Jetis Pasiraman berimpit dengan nama
kampung di sisi utaranya lagi yang juga menggunakan nama Jetis,
namun kampung Jetis di sebelah utara Jetis Pasiraman ini bernama
lengkap Jetisharjo.
Bagi Anda yang sedang atau
tinggal di Yogyakarta, kenangan akan masa lalu kota Yogyakarta
seperti yang disebutkan di atas barangkali bisa lebih mengikat hati
Anda pada kota ini. Barangkali.
Teks: Sartono K
Foto: Didit PD
   
|