| Yogya-mu
GELAR
SASTRA JAWA FKY XVI DI PENDAPA TEMBI
BERLANGSUNG MERIAH
FKY
XVI diadakan mulai 15 sampai akhir bulan Juli 2004. FKY diharapkan
menjadi ajang para kreator/seniman Yogyakarta. Dengan FKY diharapkan
para seniman atau kreator seni di Yogya bisa bertambah giat dalam
kreasi/berkarya
Pada
tahun-tahun lampau sastrawan Jawa sering merasa dianaktirikan karena
konon porsi untuk sastra Jawa sering dirasa tidak mencukupi. Panitia
sendiri tentunya tidak pernah bermaksud demikian. hanya karena keterbatasan
di sana-sini baik meliputi dana ataupun tenaga dan waktu memang
sering tidak mudah diatasi.
Di
dalam FKY XVI (2004) ini Sastra Jawa dapat atau boleh berlega hati
karena Sastra Jawa lebih bisa ditampilkan dengan dengan semangat
yang lebih gres dan hangat. Panitia FKY XVI seksi Sastra Jawa bekerja
sama dengan Rumah Budaya TeMBI bisa bersama-sama mementaskan Gelar
Sastra Jawa pada hari Senin, 28 Juni 2004. Gelar Sastra Jawa ini
berhasil menampilkan acara baca geguritan, crita cekak, dan pangunandikan
(monolog Jawa). Pembaca geguritan adalah Handoyo Wibowo (Koh Wat)
yang membawakan karya-karya sendiri yang serba jarwa dhosok. Agus
Kencrot dan Broto keduanya membaca geguritan dengan judul Nyedhot
Klembak Menyan. Abbas CH membaca cerkak dengan judul Nggon Teles
karya Rita Nuryanti. Monolog Jawa dilakukan Susilo Nugroho (Den
Baguse Ngarso) dengan judul Sarwa Samadya. Acara ini dipergelarkan
di pendapa Rumah Budaya TeMBI dengan iringan gendhing di bawah pimpinan
Tri Andono Topo.
Agus
Kencrot selaku ketua seksi Sastra Jawa dalam FKY XVI mengakui bahwa
pentas hiburan Sastra Jawa seperti di atas apabila dipergelarkan
dikota, dapat dipastikan tidak akan banyak didatangi penonton. Oleh
karenanya Agus Kencrot juga mengaku bahwa dirinya merasa sangat
bangga karena penonton Gelar Sastra Jawa di Tembi Bantul demikian
banyak. Dengan demikian, apa yang diupayakan oleh paniti FKY tidak
sia-sia. Kebetulan juga tema-tema dalam geguritan, monolog, dan
cerkak yang dipergelarkan juga tidak jauh dari keadaan sosial masyarakat
Jawa pada umumnya. Banyak dan antusiasnya penonton dalam Gelar Sastra
Jawa memang menumbuhkan rasa bangga. Pada sisi ini terlihat bahwa
sastra Jawa bisa juga dikemas dengan penataan panggung modern (lighting,
dramatisasi, musik, lan liya-liyane). Jadi, sastra Jawa bisa tampil
modern tanpa harus kehilangan nuansa dan rasa sastra Jawanya itu
sendiri. Monolog Jawa sendiri termasuk terobosan baru dalam jagad
sastra Jawa. Jadi sastra Jawa tidak hanya meliputi cerkak, geguritan,
jagading lelembut, tembang, dan cerbung.
Boleh
dikatakan bahwa selama ini acara sastra Jawa yang digelar oleh FKY
hanya mampu menghadirkan penonton yang relatif sedikit. Akan tetapi
di Tembi, gelar sastra Jawa ini dikunjungi banyak penonton. Ada
sekitar 200-300 orang penonton. Banyaknya penonton dalam gelar Sastra
Jawa ini mau tidak mau menumbuhkan pertanyaan. Mengapa hal ini terjadi.
Barangkali jawabannya bisa diduga karena adanya tokoh Susilo Nugroho
(Den Baguse Ngarso) yang sudah demikian terkenal di Yogyakarta,
khususnya dalam program siaran Mbangun Desa sing disiarkan oleh
stasiun TVRI Yogyakarta.
Den
Baguse Ngarso juga terkenal sebagai anggota inti dari Teater Gandrik.
Jadi, dapat diduga bahwa sebagian besar penonton hadir di pendapa
Tembi karena salah satunya terpikat keterkenalan Den Baguse Ngarso
yang identik dengan seloroh yang penuh kelucuan, nylekit, sengak,
sinis, dan nakal. Para penggemar siarann radio khususnya siaran
dalam bahasa Jawa juga bisa menuntaskan rasa penasarannya pada pembaca
cerita Jawa yang juga terkenal, yakni Abbas CH. Banyaknya penonton
dapat juga disebabkan oleh karena masyarakat Dusun Tembi sudah terlanjur
terbiasa dengan berbagai tontonan yang sudah biasa dilaksanakan
di pendapa Tembi. Jadi, apa pun yang dipergelarkan di Tembi kemudian
ditonton begitu saja.
Materi
yang dipergelarkan oleh Sastra Jawa dalam FKY XVI ini pun terbilang
cukup bagus. Selain materinya sarat dengan kritik sosial semua aktor
dapat menyampaikan karya yang dibacanya dengan penuh penghayatan.
Seluruh tokoh bisa menjiwai apa yang dibacanya. Dengan demikian
penonton menjadi terpikat serta antusias mengikuti Gelar Sastra
Jawa yang diakhiri dengan monolog oleh Den Baguse Ngarso. Dalam
monolog tersebut Den Baguse memperagakan diri sebagai paranormal/dukun
yang dipercaya oleh pasien-pasiennya. Setiap ada pasien yang datang
dan meminta jamu/pengobatan pasti diberi oleh Den Baguse ini dan
sembuh. Akan tetapi ketika Den Baguse yang di dalam monolog tadi
menjadi dukun malah meminta obat kepada seorang dokter ketika penyakit
jantungnya kumat. Akan tetapi ketika ketika ada orang meminta nomor
togel orang tersebut disuruh pergi.
“Lunga,
lunga ayu lunga kana !” Demikian kata Den Baguse Ngarso (Sarwa
Samadya). Kata lunga tadi malah diramal oleh pasien yang datang
menjadi nomor telu sanga ‘tiga’, ‘sembilan’.
Ketika dibeli ternyata memang keluar. Demikian sampai berkali-kali.
Den Baguse yang menjadi dukun Sarwa Samadya demikian jengkel kepada
pasien-pasien ngeyel itu. Saking jengkelnya Den Baguse ikut membeli
hasil ramalan para pasien itu berdasarkan omongannya. Ternyata blong
alias nomor yang dibelinya tidak keluar. Pada sisi inilah Den Baguse
ingin memberikan pesan atau nasihat kepada semua orang bahwa sebenarnya
paranormal ya cuma orang biasa saja. Paranormal hendaknya disikapi
sebagai profesi seperti profesui tukang atau guru.
FKY
XVI itu sendiri seperti kebiasaan disebar di berbagai tempat kegiatan
seperti di Monumen Satu Maret, PPPG Kesenian Sleman, Nitiprayan
Bantul, Parangtritis Bantul, Gedung Sositet TBY Yogyakarta, Lembaga
Indonesia Perancis Yogyakarta, Concert Hall TBY, Purna Budaya Sleman,
Rumah Budaya Tembi Bantul, IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Benteng
Vredeburg Yogyakarta, Gramedia Yogyakarta, dan Perempatan Kantor
Pos Gedhe Yogyakarta. Tujuannya supaya kegiatan FKY XVI dapat merata
ke segenap sudut kota Yogyakarta.
Sartono
Kusumaningrat
    
|