| Yogya-mu
PAK
KASAN, 38 TAHUN SETIA PADA SATU PROFESI
Apabila
Anda melintas di Jl. Abubakar Ali persisnya di sisi utara Hotel
Garuda, maka Anda akan melihat sosok laki-laki kurus duduk terbungkuk-bungkuk
di bawah pohon tanjung yang barangkali umurnya sudah setua laki-laki
tersebut. Laki-laki renta ini setiap harinya duduk di tempat tersebut
menunggu pelanggan yang akan mencukurkan rambutnya. Laki-laki tua
ini mengaku bernama Kasan dan usianya sudah 75 tahun. Pak Kasan
sudah menjalani profesi sebagai tukang cukur selama 38 tahun. Sebelum
itu ia adalah seorang jongos ‘pembantu umum’ di sebuah
sekolah swasta di daerah Kranggan.
Di
bawah pohon tanjung tua itulah Pak Kasan tua membuka kiosnya yang
sesungguhnya tidak bisa disebut sebagai kios. Apa yang dinamakan
sebagai kios Pak Kasan itu hanya terdiri atas satu bangku kecil,
satu tas kulit butut berisi alat-alat cukur rambut, sebuah cermin
kaca yang dicantolkan pada pagar Hotel Garuda, sehelai handuk kecil
lusuh, dan selembar kain pelindung punggungdari rontokan rambut.
Jadi sebenarnya bangunan kiosnya tidak ada sama sekali. Apabila
hujan tiba, tempat usaha Pak Kasan ini pun tidak ada. Oleh karena
itu pulalah kios Pak Kasan ini sering mendapat julukan Kios Cukur
Ngisor Tanjung. Beratap langit berdinding udara.
Menurut
Pak Kasan ia menjalani profesi sebagai tukang cukur sejak zaman
pendudukan Jepang (1942). Sejak awal mula sampai sekarang Pak Kasan
memang mengambil tempat di sisi utara Hotel Garuda yang terletak
di ujung utara Jalan Malioboro. Alasannya adalah karena dia memang
terlanjur menyukai tempat tersebut.
Pak
Kasan yang asli penduduk Jogoyudan dan sudah demikian tua itu dalam
menjalani profesinya tidak semata-mata demi uang. Ada yang lebih
penting daripada materi. Dengan terus bekerja Pak Kasan merasa hidup
ini menjadi lebih punya arti. Dengan bekerja pula sesungguhnya ia
merasa mendapatkan semacam hiburan, mendapatkan dunianya. Hal ini
penting untuk memupuk kesegaran suasana batinnya. Jadi pendapatan
dari layanan jasa cukurnya, khususnya untuk sekarang ini tidak begitu
diperhatikannya benar. Yang penting adalah terus melakukan kegiatan.
Buktinya dengan semuanya itu ia mengaku tidak pernah merasa sakit
yang demikian parah.
Oleh
karena tidak terlalu memburu uang, maka setiap jam 12.00 WIB siang
Pak Kasan sudah menutup usahanya yang biasanya dibukanya pada jam
09.00 WIB. Di samping karena tidak terlalu memburu uang, putra Pak
Kasan juga melarang dirinya untuk berlama-lama membuka jasa layanan
cukurnya. Cukup asal bisa refreshing saja, demikian usul putra Pak
Kasan. Terlalu lama berada di ruang terbuka dan sepanjang hari terpanggang
matahari tidak baik untuk kesehatan, terlebih-lebih bagi orang seusianya.
Inilah alasan yang sering dikemukakan. Baginya membuka usaha itu
bila ada rejeki ya disyukuri, tidak ya disyukuri. Demikian pedoman
Pak Kasan. Katanya hidup ini hanya sekadar nglakoni peran. Hidup
hanya mampir ngombe. Believe it or not, sumangga.
Foto
dan Teks: Sartono Kusumaningrat
 
|