|
Yogja-mu
KEUNIKAN
SPAKBOR BECAK YOGYA
Kebutuhan
untuk mengaktualisasikan/mengekspresikan diri termasuk kebutuhan
hakiki manusia. Tidak mengherankan apabila masing-masing orang berusaha
mengaktualisasikan diri melalui segala kemampuan yang dimilikinya.
Dengan kemampuan mengaktualisasikan diri itu manusia merasa menjadi
ada di tengah-tengah manusia lainnya. Jadi, pengaktualisasian diri
identik dengan meng-ada di tengah kancah kehidupan.
Pada
segolongan orang yang berkemampuan tinggi, baik keterampilan, kecerdasan,
kekuasaan, dan finansialnya, kemampuan meng-ada itu sering mengejawantah
dalam bentuk-bentuk hasil karya/kreasi yang luar biasa. Gedung pencakar
langit, arsitektur yang unik, teknologi yang canggih, dan karya
seni yang mengundang kekaguman merupakan bagian dari cara manusia
mengaktualisasikan dirinya.
Pada
segolongan orang yang berkemampuan sedang-sedang saja atau rendah
pun kemampuan meng-ada pun bisa mengejawantah dalam berbagai wujud.
Salah satunya adalah spakbor becak. Spakbor becak sering dijadikan
wahana tukang becak/pemiliknya untuk mengaktualisasikan dirinya.
Melalui spakbor becak tersebut pemilik, pengemudi, atau pelukisnya
menjadi merasa ada. Entah itu utuh entah separo, entah sepersekian
dari keseluruhan jati dirinya. Melalui spakbor itu tertuang sebagian
isi hati pemilik, pengemudi, atau pelukisnya.
Jika
kita amati spakbor-spakbor becak yang berseliweran di kota Yogyakarta,
maka akan kita temukan gambar-gambar yang unik, lucu, indah, bahkan
norak yang di dalamnya sering pula disertai tulisan yang mengutarakan
harapan, rasa keprihatinan, kebersahajaan, nerima, dan sebagainya.
Melalui spakbor itu pemilik, pengemudi, dan pelukis becak ingin
mewakilkan dirinya, menunjukkan dirinya kepada orang lain. Di samping
itu, lukisan dan tulisan yang menarik tentu saja diharapkan akan
dapat memikat penumpang yang daripadanya rejeki bisa teraih.
Jika Anda mengunjungi Yogya, jangan lupa perhatikan baik-baik spakbor-spakbor
becak Yogyakarta. Di sana Anda akan menemukan keunikan, kelucuan
yang selama ini barangkali tidak pernah menyentuh hati Anda.
Naskah:
Sartono K.
Foto: Didit PD., Sartono K.
     
|