|
Yogya-mu
MENYIASATI
MUSIM KEMARAU
Musim
kemarau merupakan musim yang tidak diharapkan oleh sebagian besar
petani. Tentu saja, karena andalan petani dalam pengolahan lahan
pertaniannya mendasarkan diri pada air di samping pupuk. Air merupakan
kebutuhan mutlak bagi tanaman. Jika air tidak ada sama artinya dengan
gagalnya pertumbuhan tanaman. Hal semacam ini jelas menyulitkan
petani. Mereka sering harus mencari pekerjaan lain. Di samping banyak
yang mencari pekerjaan di kota, entah sebagai tenaga tukang atau
pembantu tukang, banyak juga petani yang mencari pekerjaan di sekitar
wilayahnya sendiri. Salah satu bidang pekerjaan itu adalah kerajinan
batu bata.
Pembuatan batu bata pada musim kemarau memang sangat ideal sebab
pada musim ini batu bata yang selesai dicetak bisa dikeringkan di
bawah sinar matahari langsung. Proses pengeringan ini tentu saja
bisa berlangsung cepat karena ditunjang oleh keadaan musim yang
demikian itu. Setelah proses pengeringan, maka batu bata 'mentah'
ini siap dibakar sehingga menjadi batu bata yang 'matang' (siap
digunakan).
Dengan bekerja sebagai pengrajin/buruh pembuatan batu bata, maka
masa penantian akan turunnya hujan (masa bercocok tanam kembali)
menjadi tidak sia-sia. Dari pekerjaan pembuatan batu bata ini para
petani yang menantikan masim penghujan masih tetap dapat mendapatkan
penghasilan. Di beberapa wilayah di Jawa, pada musim kemarau seperti
sekarang ini sawah-sawah banyak yang berubah menjadi lahan pembuatan
batu bata. Seperti sudah menjadi kelaziman jika pada musim kemarau
di areal-areal persawahan ada tumpukan batu bata. Baik batu bata
yang baru dicetak, dikeringkan, maupun batu bata yang telah jadi
dan siap dijual. Di wilayah Yogyakarta hal itu pun sudah nampak
lazim.
Tanah-tanah sawah yang sering digunakan sebagai tempat penambangan
tanah galian untuk keperluan pembuatan batu bata sering rusak kondisi
tanahnya. Baik rusak dari segi kontur maupun kesuburan tanahnya.
Lebih-lebih bila hal ini dilakukan secara serampangan dan dalam
produksi yang luar biasa banyak. Tidak mustahil lahan-lahan pertanian
yang sering digunakan untuk penambangan-pembuatan batu bata dalam
jangka panjang berubah menjadi lubang-lubang lebar seperti kolam.
Untuk lebih menikmati suasana kemarau dengan pemandangan produksi
batu bata berikut ini TeMBI menyajikan foto-foto berkenaan dengan
hal tersebut. Objek foto diambil di seputar wilayah Kabupaten Bantul,
Daerah Istimewa Yogyakarta.
   
Teks
& Foto : Sartono Kusumaningrat
|