|
Yogya-mu
BARANG
ANTIK DI YOGYAKARTA
Pada
era 1990-an secara mengejutkan bisnis barang antik di wilayah Yogyakarta
berkembang sangat drastis. Tidak mengherankan bila perburuan barang
antik menjadi fenomena baru yang demikian menggebu. Perburuan ini
mengakibatkan barang-barang yang semula dianggap kurang bergaya
oleh pemiliknya sendiri menjadi lepas dan berada di tangan para
kolektor/pedagang barang antik. Contohnya adalah benda-benda semacam
gebyog, almari, dipan, rana, dan lain-lain yang ada di pelosok-pelosok
desa berpindah tangan karena pemiliknya sendiri merasa/menganggap
ketinggalan zaman kemudian menggantikannya dengan benda-benda yang
dipandang modern.
Aneka
jenis dan bahan serta gaya dari barang antik diburu orang. Mulai
dari patung batu, patung kayu, alat-alat dari logam sampai mebel
seperti: gebyog, rana, almari, meja-kursi, dipan, dan dan lain-lain
yang dipandang antik-kuna menjadi incaran banyak orang. Sekalipun
harga-harga barang tersebut tidak bisa dikatakan murah, tetapi pada
era tersebut ada semacam nafsu untuk memiliki barang-barang antik
yang kuat di kalangan orang-orang berduit. Lebih-lebih bagi konsumen
mancanegara.
Akibatnya
secara tiba-tiba bertumbuhanlah banyak toko barang antik di kota
Yogyakarta. Bila diamati, toko-toko barang antik ini tidak hanya
memusat di kantong-kantong pariwisata yang sering diamsusikan menjadi
titik tujuan wisata orang-orang mancanegara. Toko-toko barang antik
ini bahkan untuk saat ini (2002) nampak tidak lagi terlalu memilih
tempat usaha sejauh tempat tersebut tidak terlalu jauh dari jalan
raya.
Oleh
karena omsetnya yang besar, toko-toko semacam ini pada saat sekarang
tidak lagi semata-mata menjual barang yang murni antik dan kuna.
Barang-barang yang dijual menjadi lebih variatif. Di samping barang-barang
antik, mereka juga membuat reproduksinya. Reproduksi ini pun nampaknya
menarik minat konsumen. Lebih-lebih barang repro tersebut wujud
penampilannya tidak jauh berbeda dibandingkan dengan barang antik-kuna
yang asli. Semua itu karena faktor keterampilan tenaga perajin/seniman/tukangnya.
Oleh karena wujud penampilannya sering sangat mirip dengan barang/benda
antik-kuno aslinya, barang-barang repro ini sering mengecoh para
pembeli yang awam atau kurang jeli. Kepiawaian pembeli untuk mendapatkan
barang asli memang sangat diperlukan di sini.
Berikut
ini TeMBI menyajikan hasil buruannya tentang tempat-tempat penjualan
barang antik yang ada di wilayah Yogyakarta. Dengan sengaja tembi
menyajikan tempat-tempat penjualan yang tidak berada di lokasi tujuan
wisata. Bila Anda tertarik untuk membeli barang-barang tersebut
sebaiknya Anda jeli, teliti, dan kritis. Silakan menikmati.
   
   
Teks:
Sartono K
Foto: Didit PD & Sartono K
|