|
Yogya-mu
NAMA/ISTILAH
KEJEPANG-JEPANGAN
DI YOGYAKARTA
Pergaulan bangsa-bangsa
yang kemudian berkembang akhir-akhir ini dengan tren globalisasi
telah membawa dampak tertentu pada masyarakat Indonesia. Hubungan
antara bangsa Indonesia dan Jepang salah satunya berdampak pada
latahnya bangsa/masyarakat Indonesia khususnya Yogyakarta untuk
menggunakan istilah yang berbau kejepang-jepangan. Penggunaan istilah
ini di Yogyakarta secara kebetulan banyak digunakan untuk menamakan
warung/rumah makan, toko, dan tempat-tempat yang digunakan untuk
transaksi jual beli. Bagi yang tidak peka pada gaya guyon ala Yogyakarta,
nama-nama yang berbau Jepang yang bahklan dituliskan dalan gaya
kaligrafi Jepang, akan mengira bahwa nama-nama itu adalah nama Jepang
asli.
Nama-nama yang
berbau kejepang-jepangan itu misalnya takasi murah (tak kasih murah),
isaku iki (bisa saya cuma ini), niki eco (ini enak), numani (membikin
ketagihan) niki sae (ini bagus), niki murah (ini murah). Nama atau
istilah yang berbau kejepang-jepangan ini memang menimbulkan kesan
main-main. Main-main karena bagi orang yang tahu bahasa Jawa istilah
tersebut jelas berasal dari kosa kata dalam bahasa Jawa. Hanya saja
ketika dirangkai-rangkaikan kedengarannya menjadi seperti bahasa
Jepang. Main-main ini jelas mempunyai tujuan menarik minat khalayak.
Ketertarikan ini menimbulkan perhatian, perhatian menimbulkan rasa
ingin tahu, rasa ingin menimbulkan rasa ingin mencoba. Mencoba dan
menjadi langganan inilah nampaknya yang menjadi tujuan dari si pembuat
istilah untuk toko/warung/tempat transaksi jual belinya. Menariknya
lagi, tempat-tempat yang menggunakan istilah itu juga menyediakan
barang dagangan yang tidak jauh-jauh benar dari dagangan atau apa-apa
yang ada di negeri Jepang, misalnya makanan yang berbahan dasar
ikan, mie, atau sayur.
Jika Anda ke
Yogya jangan kaget atau terkecoh kalau menemukan tempat transaksi
jual beli yang menggunakan nama yang berbau Jepang ini. Perhatikan
dulu, ini Jepang betul apa bukan. Barangkali hal ini tidak lepas
dari kebiasaan orang Yogya yang suka plesetan itu.
Teks:
Sartono Kusumaningrat
Foto: Didit Priya Daladi
 
|