| Figur Wayang
PUNTADEWA
MASUK NERAKA?
Dalam
Gandhengan Batara Dharma, Puntadewa mengikuti langkah sang penjaga
gerbang yang tak lain adalah Batara Indra. Mereka berjalan melalui
padang rumput hijau segar dipenuhi taman aneka bunga nan asri. Tak
beberapa lama sampailah mereka di sebuah pintu gerbang, berukir
indah, memancarkan cahaya berkilau. Tiba-tiba pintu itu terbuka
dengan sendirinya, tanpa mengalami kesulitan Puntadewa masuk ke
dalamnya.
"Betapa indahnya surga, lebih indah dari yang aku dibayangkan.
Belum pernah aku merasakan kebahagiaan seperti saat ini."
Oleh
karena kepenuhan kebahagiaan yang sempurna, Maka tidaklah mengherankan,
decak kagum dan pujian penuh syukur hampir tak pernah berhenti terucap
dari mulut Puntadewa. Pada saat yang membahagiaakn itu, Puntadewa
teringat keempat adiknya, teringat akan sumpahnya untuk bersama-sama
merasakan pahit manisnya kehidupan. Maka dicarinya keempat adiknya
diantara orang-orang yang ada, namun tidak diketemukan.
Tiba-tiba
mata Puntadewa terbelaklah melihat beberapa orang yang sedang melintas
di depannya. Benarkah itu Duryudana, Dursasana dan para Kurawa lainnya.
Mengapa mereka yang berperilaku tidak terpuji berada ditempat ini.
Benarkah tempat ini adalah surga kebahagiaan nan abadi? Jika benar,
mengapa masih ada perasaan tidak mengenakan, sehingga mengurangi
kebahagiaanku. Perasaanku mengatakan, bahwa tempat ini bukan surga
yang sebenarnya. Ada surga sejati yang abadi, surga kebahagiaan
kekal dan tak berubah-ubah. Pasti keempat adikku berada di sana.
Aku akan menyusul mereka.
"Jangan
lakukan itu, Puntadewa"
"Mengapa Hyang Indra"
"Tempatmu di sini Puntadewa. Di surga."
"Berada disurga bersama Para Kurawa?"
"Itu adalah urusan Hyang Padha Wenang."
"Aku mengerti Hyang Indra. Bukankah surga adalah wujud kelimpahan
rahmat yang dianugerahkan ketika manusia telah 'menyelesaikan'
tugasnya sesuai dengan panggilan dharma."
"Itu Benar Puntadewa, dan engkau telah mendapatkan surga
itu. Tetapi mengapa rahmat itu akan kau tinggalkan.?"
"Aku ingin setia akan sumpahku, seperti halnya aku setia
akan panggilan darma."
"Tetapi Puntadewa, engkau tidak boleh menemui keempat adikmu"
"Mengapa Hyang Indra"
"Mereka ada di Neraka."
"Di Neraka!"
Puntadewa
tersentak hatinya. Ia tidak dapat membayangkan betapa sakit dan
sengsara keempat adiknya. Tanpa berpikir panjang, Puntadewa bergegas
meninggalkan surga. menuju neraka, tempat adik-adiknya berada. Karena
belum tahu jalannya, Puntadewa memohon kepada Hyang Darma menjadi
penunjuk jalan. Dalam sekejab, mereka telah sampai di jalan setapak,
dengan jurang menganga di kanan-kiri. Di jurang-jurang itulah tampaklah
pemandangan yang mengenaskan dan mengerikan. Banyak orang terpanggang
dalamkobaran nyala api abadi. Mereka menggeliat kesakitan tanpa
dapat berbuat sesuatu. Ketika Puntadewa dan Bhatara Dharma lewat
di jalan setapak itu, mereka berebut minta tolong dengan tangan
terjulur, agar dientaskan dari jurang yang dipenuhi nyala api abadi.
Puntadewa
tidak dapat membendung air matanya, tatkala melihat diantara kerumunan
orang-orang yang minta tolong tersebut terdapat Bimasena, Harjuna,
Nakula dan Sadewa. Nalurinya sebagai saudara tua terusik, Puntadewa
menjulurkan tangannya hendak menolong keempat adiknya. Namun niat
itu tidak pernah kesampaian. Jurang itu berada jauh di bawah dari
jangkauan tangannya. Niat Puntadewa telah bulat, ia ingin berada
diantara keempat adiknya. Maka kemudian ia meloncat turun di jurang
api abadi. Api neraka. Apa yang dilakukan merupakan wujud kesetiaan
abadi. Kesetiaan yang senantiasa dipelihara, diperjuangkan dan bahkan
membutuhkan pengorbanan. Dan Puntadewa percaya, dalam kesetiaan
yang demikian, ia tetap selalu ada di garis rahmatNya, walupun harus
dibakar oleh panasnya api.
Melihat
kejadian itu, Batara Indra dan Batara Darma kebingungan. Mereka
tidak tahu apa yang mesti dilakukan. Tugas mereka adalah untuk mengantar
Puntadewa ke dalam Surga. Tetapi yang terjadi kemudian bahwa Puntadewa
memaksakan diri masuk ke neraka. Maka segera mereka menghadap Hyang
Pada Wenang, melaporkan apa yang telah terjadi.
"Ampun
Hyang Pada Wenang, kami berdua siap menerima murkaMu, karena tidak
dapat mencegah ketika Puntadewa meloncat ke api neraka."
"Aku tidak akan murka. Itu semua memang berada dalam rencanaku.
Aku sendirilah yang telah mengujinya. Dan ia telah selesai dan
lulus. Puntadewa sungguh 'manusia sempurna,'. Surga Abadi Aku
anugerahkan kepadanya."
Bersamaan
dengan Sabda Hyang Pada Wenang, tempat di mana Puntadewa berada
berubah menjadi Surga Abadi. Semua bersorak penuh syukur. Puntadewa
telah menyelamatkan banyak orang. Dalam waktu yang bersamaan, tempat
di mana Duryudana berada, berubah menjadi Lautan Api Abadi. Semua
orang berteriak kepanasan. Duryudana telah menyengsarakan banyak
orang.
(herjaka) |