|
Figur Wayang

Aswatama lahir dari
seekor Kuda jelmaan Batari Wilutama (karya herjaka HS)
Kidung Malam 24
Aswatama
Aswatama sakit
hati melihat haknya direbut oleh orang lain. Bagaimana tidak?
Bukankah ia adalah anak semata wayang, satu-satunya pewaris dari
sang Guru Durna, tetapi mengapa dengan enaknya, tanpa pembicaraan
dan pemberitahuan lebih dulu, bapanya telah mewariskan mustikaning
pusaka Gandewa pemberian Dewa Indra itu kepada Harjuna. Siapakah
Harjuna itu? Bukankah ia hanyalah salah satu murid Sokalima? Tidak
ada hubungan darah sama sekali dengan Sang Guru Durna?
“Dhuh Dewa!!!”
Aswatama merebahkan diri di lantai, air matanya akan menetes, namun
tiba-tiba ditahannya, ketika ia mendengar langkah kaki yang tidak
asing di telinga mendekati dirinya. Dengan segera ia bangkit. Panas
hatinya telah mengeringkan air di matanya. Sebelum suara langkah
kaki tersebut sampai ditempat itu, ia lari menembus kegelapan malam.
Langkah Durna dipercepat agar dapat mengetahui kemana Aswatama
mengarahkan larinya.
Di tanah lapang
ujung dusun Aswatama menghentikan larinya. Ia berbaring terlentang
dirumput yang mulai dibasahi embun malam. Walaupun malam itu bulan
sedang tidak bertahta, langit tidak menjadi gelap-pekat karena
bertaburnya berjuta bintang. Aswatama membiarkan rasa dingin mulai
menyentuh kulit, merambat ke aliran darah menuju ke jantung dan
meyebar ke hati, ke otak dan ke seluruh tubuh.
Proses
pendinginan itulah yang kemudian membuat Aswatama tidak mampu lagi
membendung air matanya. Ia menagis tersedu-sedu bukan karena pusaka
Gandewa, tetapi lebih kepada bahwa keberuntungan tidak pernah
berpihak padanya. Dhuh Sang Hyang Tunggal, tidakah Engkau cabut saja
nyawaku, dari pada hidupku hanya akan menambah cacatan buruk bagi
sejarah manusia.
Dalam keadaan
seperti itu biasanya Aswatama mulai berimajinasi tentang ibunya yang
adalah seorang bidadari bernama Wilutama. Dengan cara demikian maka
semua persoalan hidup akan terlupakan. Yang ada adalah sebuah
kerinduan untuk berjumpa dengan seorang ibu yang pernah
melahirkannya.
Dicarinya wajah
ibunya diantara bintang-bintang yang berserakan, namun tidak pernah
ditemukan. Bahkan senyumnyapun tidak.
Malam mulai
merambat pagi. Matanya mulai lelah, dan selanjutnya tertidurlah ia.
Ketika hari telah berganti pagi, sebelum fajar merekah, Aswatama
dikejutkan oleh datangnya sepasang manusia, yang sungguh sempurna
sebagai manusia. Dengan ramah mereka datang menghampiri Aswatama
untuk menanyakan letaknya padepokan Sokalima. Aswatama tidak segera
menjawab. Dipandanginya ke dua orang tersebut secara bergantian, ia
sangat terpana dengan wanita yang berada di depannya. Cantik sekali!
Seperti inikah Batari Wilutama.
“Maaf kisanak,
dimanakah padepokan Sokalima berada?” Aswatama tersadar. Untuk
menutupi rasa malu, ia segera mengantarkan keduanya ke Padepokan
Sokalima.
“Aku bernama
Ekalaya seorang raja dari Paranggelung, dan ini adalah isteriku
bernama Dewi Anggraeni. Kami berdua datang ke Sokalima untuk berguru
kepada Begawan Durna.”
Berdesir hati
Aswatama mendengar bahwa wanita yang cantik jelita bak bidadari
tersebut akan berguru kepada bapa Durna. Itu artinya bahwa ia akan
sering ketemu. Ah betapa bahagianya. Wajahnya berseri penuh
keceriaan. Rasa sakit hati atas sikap bapanya karena telah
mewariskan pusaka Gandewa kepada Harjuna untuk sesaat terlupakan.
Di Padepokan
Sokalima Ekalaya dan Anggraeni diterima Pandhita Durna. Sebagai
seorang yang berilmu tinggi Pandita Durna dapat menangkap dan
merasakan bahwa Ekalaya mempunyai kemampuan yang luar biasa, seperti
kemampuan yang dimiliki para dewa. Oleh karenanya jika Durna mau
memerima murid istimewa tersebut maka tentunya Durna dapat berharap
banyak kepadanya. Namun tidaklah sesederhana itu untuk mengangkat
murid baru. Banyak hal yang harus dipertimbangkan. Maka dalam
menunggu keputusan Pandita Durna, Ekalaya dan Dewi Anggraeni
dipersilakan untuk tinggal sementara di Sokalima.
Itulah
kesempatan yang paling diharapkan Aswatama. Karena dengan demikian
ia dapat menjalin hubungan yang lebih akrab dengan Dewi Anggraeni.
Bagi Aswatama kehadiran mereka berdua terlebih Dewi Anggraeni,
merupakan magnet yang sangat kuat sehingga mampu menyedot seluruh
budi, pikiran yang ada dalam pribadi Aswatama.
Anggraeni,
Anggraeni, mengapa aku menjadi tak berdaya karenamu? Sungguh
kecantikanmu melebihi semua wanita yang pernah aku jumpai.
Selayaknya engkau tidak hidup di bumi yang kotor dan jelek ini,
tetapi hidup di kahyangan yang indah mulia.
Seperti itukah
wajah seorang bidadari?
Seperti itukah
ibuku Bidadari Wilutama?
Jika benar,
beruntunglah aku.mempunyai ibu secantik Anggraeni.
Sepekan berlalu
Durna belum memutuskan apakah Ekalaya diangkat murid atau ditolak.
Memang pada umumnya seorang Pandita mempunyai kebebasan penuh dalam
hal mengangkat murid. Namun apakah kebebasan tersebut masih di
perolehnya setelah Durna resmi menjadi guru istana.
Memang ketika
aku diangkat menjadi guru istana, Resi Bisma dan Begawan Abiyasa
mengatakan bahwa selama mengajar Para Kurawa dan Pandawa, aku tidak
diperkenankan mengangkat murid baru. Tetapi itu dulu. Sekarang
secara resmi tugasku telah selesai. Semua ilmu telah aku ajarkan
kepada Pandawa dan Kurawa. Walaupun begitu aku masih memberi
kesempatan kepada mereka untuk sewaktu-waktu datang di padepokan
guna menuntaskan, mematangkan dan mengembangkan ilmu yang telah aku
berikan. Dan aku pikir sekarang aku boleh mengangkat murid baru
Kehadiran
Ekalaya dan Anggraeni membuat padepokan Sokalima semarak. Banyak
orang datang ingin menghaturkan sembah kepada Raja Paranggelung
beserta prameswarinya yang sangat cantik jelita. kepada
Disore yang
indah, ketika matahari segera berangkat ke peraduan, Durna memanggil
Ekalaya, Anggraeni dan Aswatama.
Herjaka HS |