|
Figur Wayang
Bocah Bajang dan Semar
Bocah Bajang nggiring
angin
anawu banyu segara
ngon-ingone kebo dhungkul
sa sisih sapi gumarang
Teks empat baris yang
menggambarkan Bocah Bajang (anak yang tidak bisa besar atau cacat)
tersebut merupakan salah satu Jineman atau lagu yang selalu
dikumandangkan pada pegelaran Wayang Purwa, khusus untuk mengiringi
munculnya tokoh Semar pada waktu goro-goro. Hal tersebut tidak
secara kebetulan, tetapi merupakan sebuah ekspresi kreatif untuk
menyampaikan sesuatu makna yang dianggap penting, melalui lagu Bocah
Bajang dan wayang Semar.

Semar dan Dewa Ruci,
keduanya merupakan gambaran Kesempurnaan
yang tinggal dan hidup dalam manusia yang lemah dan cacat.
(lukisan karya: herjaka HS, tahun 2003)
Tokoh Semar mempunyai sifat
pribadi yang mendua. Ia adalah dewa bernama Batara Ismaya, yang
manitis (tinggal dan hidup) pada seorang manusia cebol, berkulit
hitam, bernama Ki Semarasanta. Bentuk wayangnya pun dibuat mendua:
bagian kepala adalah laki-laki, tetapi payudara dan pantatnya adalah
perempuan. Rambutnya dipotong kuncung seperti anak-anak, tetapi
sudah memutih seperti orang tua. Bibirnya tersenyum menggambarkan
kegembiraan dan kebahagiaan, tetapi matanya selalu basah seperti
sedang menangis sedih. Oleh karena serba misteri, tokoh Semar dapat
dianggap dewa, dapat pula dianggap manusia. Ya laki-laki, ya
perempuan, ya orang tua dan sekaligus kanak-kanak, sedang bersedih
tetapi dalam waktu yang sama juga sedang bergembira. Maka tokoh ini
diberi nama Semar asal kata samar, yang berarti tidak jelas.
Sebuah dugaan, tokoh Semar
dalam Pewayangan merupakan perwujudan dari kerinduan manusia dalam
pengembaraannya menyelami yang Ilahi. Dikarenakan Hyang Maha
Sempurna itu tidak kelihatan, tidak bisa diraba, jauh tak terbatas,
dekat tidak bersentuhan, maka sulitlah untuk menggambarkannya. Oleh
karena kekurangannya, kelemahannya dan cacat-cacatnya, manusia hanya
dapat menggambarkan ketidakmampuannya menggambarkan yang Ilahi. Maka
yang muncul kemudian adalah bentuk yang tidak sempurna. Lahirnya
karya yang disengaja tidak sempurnya seperti wayang Ki Semarasanta
atau Semar, merupakan sebuah konsep kerendahan hati, penyadaran diri
dan keterbukaan pribadi akan kelemahannya, kekurangannya,
cacat-cacatnya. Karena dengan sikap tersebut manusia diyakini mampu
nglenggahake (menghadirkan dan mendudukkan) yang Maha Sempurna.
Selain tokoh Semar atau Ki
Semarasanta, manusia cebol berkulit hitam yang dimaksudkan untuk
nglenggahake kesempurnaan yaitu Bathara Ismaya, di pewayangan juga
ada tokoh lain yang dibuat bajang, kerdil, untuk tujuan yang sama
yaitu: Sang Hyang Pada Wenang dan Dewa Ruci.
Untuk menandaskan munculnya
tokoh Semar atau Ki Semarasanta, manusia cacat yang berpribadi
mendua, diiringi dengan lagu Bocah Bajang sedang membawa binatang
piaraan yang mempunyai sifat mendua pula. Yaitu Seekor Kerbau,
binatang yang bodoh dan tumpul otaknya, menggambarkan kelemahan
manusia. Dan seekor Sapi Gumarang, binatang yang cerdas dan
mempunyai tanduk sangat tajam, menggambarkan ketajaman manusia akan
misteri Ilahi.
Dari paparan tersebut tokoh
Semar yang diekspresikan ke dalam bentuk wayang dan tokoh Bocah
Bajang yang di ekspresikan ke dalam lagu jineman, mempunyai inti
makna yang sama. Ke duanya memberikan gambaran bahwa dalam diri
manusia yang serba kekurangan, lemah dan cacat bertahtalah Yang Maha
Sempurna.
Dalam usahanya
mengharmoniskan antara sifat yang serba kurang, lemah dan cacat di
satu sisi dan sifat yang serba sempurna di sisi yang lain, manusia
membutuhkan perjuangan panjang, sepanjang umur manusia itu sendiri.
Seperti Bocah Bajang nggiring angin dan nawu segara.
Herjaka HS |