Figur Wayang

Karna (1)
Karna, wayang kulit purwa koleksi Tembi Rumah Budaya buatan Kaligesing (foto: Sartono)

Karna (1)

Aku dilahirkan dari seorang ibu yang bernama Dewi Kunthi atau Dewi Prita, anak Prabu Basukunti alias Kuntiboja raja negara Mandura. Menurut cerita yang aku terima dari ramanda Batara Surya, aku dilahirkan melalui telinga, oleh karenanya aku diberi nama Karna yang artinya telinga. Aku sendiri juga heran dan bertanya-tanya, benarkah aku dilahirkan melalui telinga Ibu Kunti? Sungguh ajaib. Bagaimana hal itu bisa terjadi? untuk memenuhi rasa ingin tahuku, Ramanda Batara Surya menceritakan peristiwa seputar kelahiranku. Diceritakan bahwasanya Ibu Kunthi adalah sosok wanita yang cantik jelita, cerdas, luwes, patuh dan sabar. Oleh karena kelebihannya, Eyang Prabu Basukunti mempercayakan kepada Ibu Kunti untuk melayani tamu-tamu negara.

Pada suatu waktu Negara Mandura kedatangan tamu seorang Begawan sakti yang bernama Begawan Druwasa. Ia sangat puas atas pelayanan Kunti. Sebagai tanda terimakasihnya Begawan Druwasa memberikan kepada Kunti sebuah mantra sakti yang bernama Aji Adityar Hedaya atau Aji Dipamanunggal atau disebut juga Aji Pameling. Mantra sakti tersebut berdayaguna untuk mendatangkan dewa sesuai dengan yang diinginkan.

Selain hal-hal positif yang ada pada sosok Kunthi, ada hal-hal negatif yang dimilikinya, salah satunya adalah kebiasaan bangun siang. Pada suatu hari ketika Kunti bangun tidur, ia tidak dengan serta merta meninggalkan pembaringannya. Ia ingin merasakan keindahan dan merasakan kehangatan sinar matahari yang masuk di kamarnya. Melihat sinar matahari yang mengenai tubuhnya, Kunti membayangkan sosok Batara Surya, dewa rupawan yang menguasai matahari. Tiba-tiba Kunti teringat mantra sakti Aji Pameling pemberian Begawan Druwasa. Sebagai dara belia, ia tergoda untuk mencoba mengetrapkan ajian tersebut. Maka kemudian dibacanya mantra sakti tersebut. Hasilnya sungguh luar biasa. Pada saat selesai membaca mantra Aji Pameling, seusai Kunti mengerdipkan matanya, tiba-tiba di tilamsari tempat Kunti berbaring telah hadir Dewa Surya, Dewa penguasa matahari.

Sosok yang diangankan telah hadir disampingnya, tidak ada lagi yang membedakan antara angan dan kenyataan. Ketika ke duanya hadir dalam waktu yang bersamaan, tidak ada lagi yang menghalangi, keduanya akan menjadi satu. Angan yang menguasai pikiran dan kenyataan yang menguasai raga saling berpuletan erat. Keduanya berada antara alam mimpi dan alam nyata.

Namun pada kenyataan setelah kejadian tersebut Dewi Kunti mengandung. Atas kejadian tersebut Prabu Basukunti marah luar biasa. Ia memanggil Begawan Druwasa untuk meminta pertanggungjawabannya atas pemberian Aji Pameling kepada Kunti yan masih belia. Sesungguhnya yang dilakukan Begawan Druwasa tersebut untuk menolong Kunti. Karena menurut pesan gaib yang diterima Begawan Druwasa, bahwa pada suatu saat nanti Kunti sangat membutuhkan Aji Adityar Hedaya. Namun sayang belum tiba waktunya Kunti telah mencoba mantra aji Pameling kepada Dewa Surya.

Begawan Druwasa tahu resikonya jika seorang dara belia mempunyai aji Pameling. Maka dari itu ia bertanggungjawab atas resiko yang terjadi. Maka ketika usia kandungan Kunti sudah berumur sembilan bulan lebih sepuluh hari, dengan kesaktiannya Begawan Druwasa membantu kelahiran bayi. Dengan mantra saktinya yang menyatakan bahwa Aji Adityar Hedaya yang pada mulanya masuk melalui telinga menuju ke angan Kunti, meresap di hati, di tubuh dan kemudian menggumpal menjadi sosok bayi, akan dikeluarkan melalui telinga pula. Itulah keajaiban. Begawan Druwasa membopong kelahiran bayi yang keluar melalui lobang yang sama seperti ketika pada mulanya benih itu masuk. Dan dinamakan bayi itu Karna, yang berarti telinga.

Upaya melahirkan bayi melalui telinga adalah perwujudan tanggung jawab Begawan Druwasa untuk memulihkan keperawanan Kunti, bahwa Kunti masih gadis, belum beranak. Maka keberadaan bayi tersebut dianggap aib, Oleh karena harus di buang dilarung ke sungai Gangga agar jauh meninggalkan negara Mandura, demikian perintah Prabu Basukunti.

Sebelum Karna dihanyutkan di sungai, ada satu hal yang masih diingat oleh Kunthi bahwa bayi Karna memakai Anting Mustika dan Kotang Kerei Kaswargan pemberian Dewa Surya.

Sejak bayi yang tidak berdosa tersebut dihanyutkan di sungai Gangga nama Karna sengaja dihapus dari negara Mandura. Terbukti Prabu Basukunti menggelar sayembara, bagi siapa saja yang dapat memenangkan sayembara berhak memboyong putri kedhaton Mandura yaitu Dewi Kunti.

Herjaka HS