Figur Wayang


Puntadewa mengendarai kereta pusaka maju perang melawan Salya (karya : herjaka HS)

Banjaran Pandhawa 41
Persepsi Masyarakat Terhadap Tokoh Pandhawa

Tokoh Pandhawa salah satu kelompok tokoh cerita pewayangan yang digemari masyarakat Jawa. Lebih-lebih dalam kaitannya dengan tokoh-tokoh Korawa. Masyarakat Jawa, terutama dalang dan para penulis cerita mengangkat tokoh Pandhawa sebagai tokoh yang baik. Masing-masing tokoh mempunyai kelebihan, kehebatan yang luar biasa. Demikian hebat dan berlebihan tentang tokoh itu, sehingga kedudukan masing-masing tokoh dianggap sebagai tokoh ideal. Bermacam-macam tanggapan masyarakat terhadap tokoh-tokoh Pandhawa.

Berikut ini beberapa pengamatan melalui beberapa sumber cerita yang melibatkan tokoh-tokoh Pandhawa.

Tokoh Yudhisthira

Dalam cerita kelahiran para Pandhawa yang bersumber kitab Mahabharata pada bagian yang disebut Adiparwa, anak Pandhu yang pertama lahir dari Kunthi, bernama Yudhisthira adalah keturunan Dewa (Adiparwa, 1906: 120). Dalam cerita Jawa kuna Yudhisthira mendapat sebutan Dharmaputra (Bharatayudha: XIV. 3) Dharmasuta (Bharatayudha XVII. 4), Dharmaatmaja (Bharatayudha: XVII. 11) Dharmawangsa (Sudamala: IV. 101; Nawaruci, 1934: 35), Punta (Arjunapralabda: IV. 19).

Ketika Padhawa menyamar dan mengabdi ke kerajaan Wiratha, Yudhisthira mengaku bernama Kangka atau Dwijakangka (Wirataparwa, 1912: 10). Nama Dwija Kangka juga ditemukan dalam kitab Abhimanyuwiwaha (Abhimanyu wiwaha: IV.11)

Dalam cerita pewayangan Jawa baru Yudhisthira mendapat sebutan Darmaputra (Bratayuda 1954: II. 6), Punta (Mayer, 1924:31), Puntadewa (Gembring Baring: LVIII.7), Dremakusuma ( Gembring Baring XXXVI. 27), Prabu Darmakusuma ( Mangkunagara VII Jilid IX, 1932: 19)

Yudhisthira beristeri Drupadi anak Prabu Drupada raja Pancala, kemudian beranak Pancawala. Dalam kitab Adiparwa diceritakan Drupadi menjadi isteri lima anggota Pandhawa (Adiparwa, 1906: 1818), atas perintah Kunthi yang sejak mereka berlima datang memberi tahu hasil kemenangannya mengikuti sayembara. Dikira mereka menyampaikan hasil minta-minta, bukan putri Drupadi. Karena terlanjur diucapkan oleh ibunya, supaya diperuntukkan lima saudara, maka Drupadi diperisteri lima warga Pandhawa. Perkawinan Drupadi dengan Yudhisthira beranak Pratiwindya, dengan Bima beranak Sutasena, dengan Arjuna beranak Srutakarma, dengan Nakula beranak Prasani dan dengan Sadewa beranak Srutasena (Adiparwa, 1906: 205) lima anak Drupadi itu disebut Pancakumara, artinya lima anak laki-laki.

Dalam cerita Kuntul Wilanten (Mangkunagara VII Jilid IX, 1931: 25), Puntadewa kawin dengan Kuntul Wilanten anak raja Gendhing Kapitu, atas permintaan Kresna untuk syarat tolak bahaya wabah negeri Ngamarta. Kuntul Wilanten diperisteri Puntadewa (Yudhisthira ) setelah sayembara dengan mengalahkan empat putra raja Gendhing Kapitu dimenangkan oleh Pandhawa yang diwakili oleh Bima. Setelah perkawinan Kuntul Wilanten merasuk ke tubuh Yudhisthira, menyatu sejiwa raga dengan Yudhisthira.

Cerita yang mengangkat tokoh Yudhisthira atau Puntadewa pada umumnya memberi kesan sebagai tokoh baik. Dikatakan Puntadewa sebagai jelmaan dewa Darma, berdarah putih, berhati sabar dan jujur. Ia sebagai raja yang adil, berhati samodera, tidak sayang akan hidup dan rela mati, berhati suci. Ia mempunyai kesaktian yang luar biasa (Padmosukotjo, 1954: 88)

Pada umumnya orang memberi konotasi, bahwa Yudhisthira berjiwa lemah, tidak dapat berperang. Mau berperang bika didorong oleh Kresna. Mpu Panuluh dalam kakawin Bharatayudha mengatakan, Yudhisthira anak dewa Darma bersikap tenang, karena sifatnya lemah lembut dan dalam pikirannya selalu memberi maaf (Bharatayudha: XL. 10). Ketika Kresna membujuk Yudhisthira untuk berperang melawan raja Salya, mula-mula ragu-ragu, sebab raja Salya dianggap sebagai ayah sendiri. Tetapi karena raja Salya telah terlalu jauh berbuat dan melanggar aturan agama, maka Yudhisthira sanggup menahan serangan raja Salya (Bharatayudha: XLI. 5-6). Kemudian Yudhisthira mau membunuh raja Salya dengan senjata Pustaka yang bernama Kalimahosadha (Bharatayudha: XLII. 8)

Dalam cerita lakon berjudul Lampahan Sindusena (Mangkunagara VII Jilid XIV, 1932: 9) Yudhisthira menyamar menjadi seorang petapa bernama Bagawan Darmakusuma, bertempat di pertapaan Argadumilah. Ia disertai oleh penyamaran empat adiknya. Arjuna bernama Bambang Partakusuma, Nakula bernama Bambang Dewasuyasa, Sadewa bernama Bambang Tasasadewa dan Bima bernama Sindusena.

Hampir dalam setiap lakon penulis cerita mengangkat Yudhisthira sebagai raja Ngamarta yang bijaksana, sebagai anggota Padhawa tertua pengasuh adik-adiknya dengan cintakasih, serta selalu hormat dan menjaga keselamatan Kunthi, ibunya.

R.S. Subalidinata