|
Museum - Kematian
Kematian
Masyarakat
Jawa mempunyai suatu tradisi mengenai tata cara mengelola atau merawat
jenazah, sejak diketahui orang itu meninggal sampai seribu hari
meninggalnya. Tata cara yang dilakukan secara turun temurun ini
masih memasyarakat, dalam arti masyarakat Jawa masih terus menyelenggarakannya,
mulai dari awal upacara sampai upacara yang paling akhir.
Upacara
yang diselenggarakan pada saat kematian ini merupakan suatu bentuk
penghormatan kepada orang yang sudah meninggal. Bahwa orang yang
ditinggalkan masih senantiasa mengingat segala kebaikan yang pernah
diberikan oleh orang yang sudah meninggal sehingga perlu untuk menyelenggarakan
suatu upacara. Selain itu, juga ada kepercayaan bahwa dengan dibantu
doa, maka orang yang meninggal tersebut akan cepat diterima Tuhan
sehingga arwahnya akan tenang.
Upacara
yang dilakukan biasanya berujud kenduri atau kenduren dengan menggunakan
sesaji-sesaji. Kenduri merupakan ujud kebersamaan masyarakat dalam
menangani masalah bersama untuk saling membantu dan memberikan penghiburan
bila ada yang kesusahan. Kenduri tersebut tidak dapat dilepaskan
dari adanya sesaji. Sesaji yang digunakan dalam setiap peringatan
saat meninggalnya seseorang pada dasarnya sama, hanya masing-masing
daerah memiliki kebiasaan masing-masing.
Tradisi
Masyarakat Jawa Saat Kematian Warganya
- Penghiburan
Hal
yang pertama kali dilakukan dalam masyarakat Jawa ketika ada
orang meninggal adalah memberi penghiburan kepada keluarga bahwa
semua ciptaan akan kembali kepada Tuhan Allah.
- Membujurkan
jenazah
Apabila
keadaan keluarga sudah reda, perhatian segera dialihkan ke jenazah.
Jenazah yang baru saja meninggal dunia segera ditidurkan secara
membujur, menelentang, dan menghadap ke atas.
Selanjutnya
mayat ditutup dengan kain batik yang masih baru. Kaki dipan
tempat mayat itu ditidurkan perlu direndam dengan air, maksudnya
agar dipan itu tidak dikerumuni semut atau binatang kecil lainnya.
Tikar sebagai alas tempat jenazah dibaringkan perlu diberi garis
tebal dari kunyit dengan maksud agar binatang kecil tidak mengerumuni
mayat.
- Memandikan
jenazah
Bila
sudah siap jenazah segera dimandikan. Ada ketentuan umum yang
berlaku di masyarakat mengenai jenazah yang tidak perlu dimandikan,
yaitu:
-
Orang meninggal dunia karena gugur dalam peperangan.
-
Bayi lahir sebelum waktunya dan belum ada tanda-tanda hidup,
misalnya belum menangis, belum bernafas dan denyut nadi belum
bergerak.
-
Orang yang meninggal karena kecelakaan yang fatal sehingga
tubuhnya nyaris rusak/hancur.
Bila
jenazah disemayamkan lebih dari 24 jam sebaiknya tidak dimandikan
tetapi cukup dilap dengan kain yang agak basah sampai kering,
kemudian diberi borehan dengan alkohol atau spiritus. Sesudah
itu diberi bedak (talek) dengan maksud agar mayat tetap
kering dan tidak mendatangkan bau yang kurang sedap.
- Pembakaran
dupa wangi
Perlu
juga dibakarkan dupa wangi atau ratus untuk menghilangkan bau
yang kurang sedap. Kesemuanya dimaksudkan agar orang yang datang
melayat tidak merasa kurang enak. Setelah jenazah dibaringkan
secara rapi, keluarga memberitahukan kepada tetangga dekat dan
sanak keluarga yang jauh tempat tinggalnya.
- Pemberitahuan
lelayu
Pemberitahuan
lelayu dapat dilaksanakan secara berantai agar informasi cepat
sampai dan menyebar luas di kalangan keluarga serta rekan-rekan.
Selama menunggu kedatangan pihak keluarga jauh, para ahli waris
dan tetangga dekat mengadakan rundingan untuk merencanakan tata
upacara merawat jenazah sebaik-baiknya sampai paripurna termasuk
pembagian tugas. Pembagian tugas tersebut dapat dibebankan kepada
per orangan atau beberapa orang, meliputi:
-
Seorang tokoh agama sesuai dengan agama yang dianut orang
yang meninggal dunia.
-
Seorang untuk bertugas melapor kepada pamong desa, ketua RT,
RW, kepala kelurahan.
-
Seorang bertugas untuk menghubungi ketua organisasi sosial,
misalnya orang yang meninggal dunia itu menjadi anggota organisasi
sosial atau perkumpulan kematian.
-
Seorang bertugas membeli peti mati (terbelo), pinjam
keranda (bandosa), dan semua peralatan lain yang berhubungan
dengan itu (misalnya mobil jenazah, kereta, dan lain-lain).
-
Seorang bertugas berbelanja, membeli keperluan yang dibutuhkan
seperti bunga, dupa, dan lain-lain.
-
Beberapa orang bertugas mengadakan persiapan memasak, menyuguhkan
hidangan, dan selamatan.
-
Seorang bertugas untuk menghubungi juru kunci dan dinas pemakaman.
-
Seorang bertugas untuk menyambut tamu yang melayat.
-
Seorang bertugas menjadi penata acara.
- Perawatan
Jenazah
Pada
dasarnya perawatan jenazah terdiri dari lima tahapan meskipun
dalam hal ini masing-masing orang, biasanya karena kepercayaan
atau agama, mempunyai tatacara tersendiri. Perawatan tersebut
adalah:
-
Menyucikan (memandikan) jenazah.
Perlengkapan yang perlu dipersiapkan adalah jembangan atau
ember besar yang berjumlah ganjil, dipenuhi air yang ditaburi
kembang setaman disertai gayung yang berjumlah ganjil pula,
b) bangku untuk tempat duduk orang yang bertugas memandikan
mayat diatur sedemikian rupa supaya memperlancar pekerjaan,
c) Meja kecil untuk meletakkan mangkok berisi bakaran merang/tangkai
padi, sabun mandi yang terpotong-potong secukupnya kemudian
dibungkus mori (kain putih) berjumlah lima bungkus, diletakkan
di piring kecil (lepek). Tangkai padi kering yang dipotong-potong
untuk membersihkan kuku. Sobekan mori untuk membersihkan gigi.
d) Beberapa potong kain penutup yang sama panjangnya (biasanya
menggunakan kain batik), agar jenazah tidak dilihat oleh orang
yang tidak berkepentingan selama ia dimandikan. e) Tenda dipasang
di atas jenazah yang akan disucikan (dimandikan) agar tidak
terlihat dari atas (bila perlu).
Setelah perlengkapan itu siap kemudian memanggil ahli warisnya
yang terdekat sebanyak tiga orang yang berkewajiban memangku
jenazah pada waktu dimandikan. Posisinya, yang tertua di bagian
kepala, yang agak tua di tengah-tengah, dan yang paling muda
di bagian bawah (kaki). Selanjutnya memanggil ahli waris yang
terdekat sejumlah tiga orang untuk menggotong jenazah dari
dalam rumah menuju ke tempat penyucian atau pemandian mayat.
Urut-urutan dimulai dari yang tertua di depan dan yang termuda
di belakang, begitu pula pada waktu selesai dimandikan digotong
dari tempat memandikan ke dalam rumah.
Posisi menggotong jenazah adalah: tangan kiri menyanggah sedangkan
tangan kanan merangkul dengan penuh hati-hati jangan sampai
penutup kain jenazah berubah/bergeser. Setelah sampai di tempat
memandikan, jenazah diserahkan kepada tiga orang yang telah
siap memangku jenzah selama dimandikan. Setelah teratur rapi
kemudian mulai dimandikan yaitu lima orang mengguyur air dan
tiga orang membersihkan dengan sabun. Cara mengguyur air perlahan-lahan
dan terus-menerus jangan sampai terputus. Setelah selesai
dimandikan jenazah diserahkan kepada pemuka agama untuk disembahyangkan
dan didandani.
-
Menata dan merapikan jenazah.
Petugas yang merawat jenazah, biasanya berjenis kelamin sama
dengan orang yang sudah meninggal. Biasanya yang merawat jenazah
ini adalah tokoh agama dari agama orang yang meninggal atau
sanak saudara orang yang meninggal.
Dalam merawat jenazah ini perlu beberapa perlengkapan, antara
lain: 1) Mori selebar 7 kacu (kurang lebih satu setengah meter),
dipotong untuk dibuat kain cawat rangkap tiga, baju dan ikat
kepala, bungkus jenazah sepanjang ukuran jenazah tersebut,
tali sebanyak tujuh utas yang dibuat dari mori untuk mengikat
jenazah setelah dibungkus (tradisi ini untuk orang yang beragama
Islam, yaitu dipocong), 2) Sisir untuk menyisir rambut
jenazah, cara menyisirnya harus rapi seperti waktu hidupnya,
3) Bedak, cat bibir untuk merias wajah jenazah agar tidak
kelihatan pucat sehingga tidak menakutkan bagi yang melihat,
4) Kapas yang agak banyak diberi wangi-wangian, misalnya minyak
cendana. Kapas ini dibentuk bulatan-bulatan untuk menutupi
bagian-bagian tubuh yang berlubang, misalnya hidung, pusar,
pantat, telinga, dan kemaluan. Mata dan mulut tidak perlu
ditutupi agar tidak menimbulkan rasa takut bagi yang melihat,
5) Alkohol ataupun spiritus boleh dipakai untuk campuran kembang
boreh guna mengolesi seluruh tubuh jenazah agar harum baunya.
Setelah semua perlengkapan tersedia, jenazah dilap sampai
kering, rambut disisr dengan rapi. Kemudian jenazah diberi
boreh dicampur alkohol agar kelihatan segar dilanjutkan dengan
memberi bedak dengan talek agar jenazah tidak mendatangkan
bau. Setelah siap, lubang-lubang tubuh ditutupi, mulai dari
telinga, hidung, pusar, kemaluan, dan dubur. Baru kemudian
jenazah dicawati, dikenakan baju, disisr rambutnya, dan dirias
wajahnya. Bagi yang beragama Islam, setelah itu mayat dipocong.
-
Jenazah Siap untuk Dikubur
Sebelum jenazah dikuburkan, ada beberapa tahapan yang perlu
dilakukan.
-
Mengadakan upacara doa.
Upacara doa bagi orang yang meninggal dunia disesuaikan
dengan agama orang tersebut, dengan dipimpin oleh tokoh
agama yang bersangkutan. Bila beragama Islam, maka yang
memimpin doa biasanya adalah modin.
Upacara doa ini juga dilakukan pada peringatan hari wafatnya
orang tersebut, yaitu pada hari saat meninggalnya )dina
geblag), hari ketiga, hari ketujuh, hari keempat puluh,
hari keseratus, satu tahun meninggal (mendhak sepisan),
mendhak pindho (dua tahun sesudah meninggal), mendhak
telu/nyewu atau hari keseribu yang dilakukan dengan
kenduri bersama.
-
Penghormatan terakhir kepada jenazah.
Penghormatan dilakukan dengan permohonan maaf dari wakil
keluarga orang yang sudah meninggal atas segala kesalahan
dan kekeliruan yang pernah dilakukan orang yang sudah
meninggal itu. Penghormatan lain dilakukan dengan melakukan
brobosan. Brobosan dilakukan dengan berjalan
di bawah mengelilingi jenazah yang sedang digotong sebagai
penghormatan terakhir keluarga kepada jenazah. Brobosan
ini dilakukan dengan urut, mulai dari yang tertua sampai
ke yang termuda.
-
Upacara pemakaman.
Menurut kepercayaan Jawa, badan manusia terdiri dari air,
angin, api, dan tanah. Bila manusia meninggal, maka manusia
akan kembali ke asalnya, yaitu air kembali menjadi air,
tanah kembali menjadi tanah, semuanya kembali kepada Tuhan.
Maka untuk itu, manusia yang sudah meninggal, hendaklah
dikubur ke dalam tanah secara utuh seluruh badan. Dalam
arti bukan abunya saja yang dikubur, melainkan seluruh
tubuhnya.
Upacara
Kematian
Upacara-upacara
yang diselengggarakan untuk memperingati kematian biasanya dilakukan
dengan mengadakan kenduri. Kenduri ini dilakukan dengan doa bersama
dan dihadiri oleh kerabat dan tetangga terdekat. Kenduri ini menggambarkan
suatu pola gotong royong yeng terjadi dalam masyarakat Jawa. Sikap
saling membantu dan memberi penghiburan bila ada kesusahan merupakan
contoh konkret pola pikir masyarakat Jawa.
Upacara
yang diselenggarakan untuk memperingati kematian adalah sebagai
berikut:
-
Upacara ngesur tanah (geblag)
Upacara
ngesur tanah merupakan upacara yang diselenggarakan pada saat
hari meninggalnya seseorang. Upacara ini diselenggarakan pada
sore hari setelah jenazah dikuburkan. Istilah sur tanah
atau ngesur tanah berarti menggeser tanah (membuat lubang
untuk penguburan mayat). Makna sur tanah adalah memindahkan alam
fana ke alam baka dan wadag semula yang berasal dari tanah akan
kembali ke tanah juga. Bahan yang digunakan untuk kenduri terdiri
atas:
-
Nasi gurih (sekul wuduk)
-
Ingkung (ayam dimasak utuh)
-
Urap (gudhangan dengan kelengkapannya)
-
Cabai merah utuh
-
Krupuk rambak
-
Kedelai hitam
-
Bawang merah yang telah dikupas kulitnya
-
Bunga kenanga
-
Garam yang telah dihaluskan
-
Tumpeng yang dibelah dan diletakkan dengan saling membelakangi
(tumpeng ungkur-ungkuran)
-
Upacara tigang dinten (tiga hari)
Upacara
ini merupakan upacara kematian yang diselenggarakan untuk memperingati
tiga hari meninggalnya seseorang. Peringatan ini dilakukan dengan
kenduri dengan mengundang kerabat dan tetangga terdekat. Bahan
untuk krnduri biasanya terdiri atas:
-
Takir pontang yang berisi nasi putih dan nasi kuning, dilengkapi
dengan sudi-sudi yang berisi kecambah, kacang panjang yang telah
dipotongi, bawang merah yang telah diiris, garam yang telah
digerus (dihaluskan), kue apem putih, uang, gantal dua buah.
-
Nasi asahan tiga tampah, daging lembu yang telah digoreng, lauk-pauk
kering, sambal santan, sayur menir, jenang merah.
-
Upacara pitung dinten (tujuh hari)
Upacara
ini untuk memperingati tujuh hari meninggalnya seseorang. Bahan
yang digunakna untuk kenduri biasanya terdiri atas:
-
Kue apem yang di dalamnya diberi uang logam, ketan, kolak
(semuanya diletakkan dalam satu takir)
- Nasi
asahan tiga tampah, daging goreng, pindang merah yang dicampur
dengan kacang panjang yang diikat kecil-kecil, dan daging
jeroan yang ditempatkan dalam wadah berbentuk kerucut (conthong),
serta pindang putih.
-
Upacara sekawan dasa dinten (empat puluh hari)
Upacara
ini untuk memperingati empat puluh hari meninggalnya seseorang.
Biasanya peringatannya dilakukan dengan kenduri. Bahan untuk
kenduri biasanya sama dengan kenduri pada saat memperingati
tujuh hari meninggalnya, namun ada tambahan sebagai berikut:
-
Nasi wuduk
-
Ingkung
-
Kedelai hitam
-
Cabai merah utuh
-
Rambak kulit
-
Bawang merah yang telah dikupas kulitnya
-
Garam
- Bunga
kenanga
-
Upacara nyatus (seratus hari)
Upacara
ini untuk memperingati seratus hari meninggalnya seseorang.
Tata cara dan bahan yang digunakan untuk memperingati seratus
hari meninggalnya pada dasarnya sama dengan ketika melakukan
peringatan empat puluh hari.
-
Upacara mendhak pisan (setahun pertama)
Upacara
mendhak pisan merupakan upacara yang diselenggarakan
ketika orang meninggal pada setahun pertama. Tata cara dan bahan
yang diigunakan untuk memperingati seratus hari meninggalnya
pada dasarnya sama dengan ketika melakukan peringatan seratus
hari.
-
Upacara mendhak pindho (tahun kedua)
Upacara
mendhak pindho merupakan upacara terakhir untuk memperingati
meninggalnya seseorang. Tata cara dan bahan yang digunakan untuk
memperingati seratus hari meninggalnya pada dasarnya sama dengan
ketika melakukan peringatan mendhak pisan.
-
Upacara mendhak katelu (nyewu)
Merupakan
peringatan seribu hari bagi orang yang sudah meninggal. Peringatan
dilakukan dengan mengadakan kenduri yang diselenggarakan pada
malam hari. Bahan yang digunakan untuk kenduri sama dengan bahan
yang digunakan pada peringatan empat puluh hari. Namun ada beberapa
bahan yang perlu diadakan untuk memperingati seribu hari meninggalnya
ini, yaitu:
-
daging kambing/domba becek. Sebelum dimasak becek, seekor
domba disiram dengan bunga setaman, lalu dicuci bulunya, diselimuti
dengan mori selebar sapu tangan, diberi kalung bunga yang
telah dirangkai, diberi makan daun sirih. Keesokan harinya
domba diikat kakinya lalu ditidurkan di tanah. Badan domba
seutuhnya digambar pola dengan menggunakan ujung pisau. Hal
ini dimaksudkan untuk mengirim tunggangan bagi arwah yang
mati supaya lekas sampai surga. Setelah itu domba disembelih
dan kemudian dimasak becek.
-
Sepasang burung merpati dikurung dan diberi rangkaian bunga.
Setelah doa selesai dilakukan, burung merpati dilepas dan
diterbangkan. Maksud tata cara ini adalah juga untuk mengirim
tunggangan bagi arwah.
- Sesaji,
terdiri atas tikar bangka, benang lawe empat puluh helai,
jodhog, clupak berisi minyak kelapa dan uceng-uceng (sumbu
lampu), minyak kelapa satu botol, sisir, serit, cepuk berisi
minyak tua, kaca/cermin, kapuk, kemenyan, pisang raja setangkep,
gula kelapa setangkep, kelapa utuh satu butir, beras satu
takir, sirih dengan kelengkapan untuk menginang, bunga boreh.
Semuanya diletakkan di atas tampah dan diletakkan di tempat
orang berkenduri untuk elakukan doa.
-
Kol
Kol
merupakan peringatan yang dilakukan untuk orang yang sudah meninggal
setelah seribu hari. Ngekoli diselenggarakan bertepatan dengan
satu tahun setelah nyewu. Saat peringatan ini harus bertepatan
dengan hari dan bulan meninggalnya. Ngekoli dilakukan dengan
kenduri dengan bahan kenduri: kue apem, ketan, dan kolak. Semuanya
diletakkan dalam satu takir. Pisang raja satu tangkep, uang
"wajib", dan dupa.
- Nyadran
Nyadran
adalah hari berkunjung ke makam para leluhur/kerabat yang telah
mendahului. Nyadran ini dilakukan pada bulan Ruwah atau bertepatan
dengan saat menjelang puasa bagi umat Islam.
Makna
Sesaji dalam Unsur Upacara Kematian
-
Sesajen upacara ngesur tanah : bermakna memindahkan roh jenazah
dari alam fana ke alam baka. Kematian tersebut didoakan oleh para
ahli waris dengan berbagai sesajen yang tujuannya mengharap keselamatan
bagi orang yang meninggal dan mendapat ampunan dari Tuhan.
-
Sesajen upacara tiga hari : untuk menyempurnakan 4 perkara yang
disebut anasir yaitu bumi, api, angin, dan air.
-
Sesajen upacara tujuh hari : maksudnya menyempurnakan pembawaan
dari ayah dan ibu berupa darah, daging, sungsum, jeroan (isi perut),
kuku, rambut, tulang, dan otot.
-
Sesajen upacara empat puluh hari : maksudnya untuk menyempurnakan
semua yang bersifat badan wadag (jasad).
-
Upacara Mendhak pertama : maksudnya untuk menyempurnakan
kulit, daging, dan jeroan-nya.
-
Upacara Mendhak kedua : maksudnya untuk menyempurnakan
semua kulit, darah, dan semacamnya yang tinggal hanyalah tulangnya
saja.
-
Upacara Mendhak ketiga : maksudnya untuk menyempurnakan
semua rasa dan bau hingga semua rasa dan bau sudah lenyap.
-
Tumpeng ungkur-ungkuran : bermakna bahwa mayit telah berpisah
antara jasmani dan rohnya.
-
Daun kelor atau dhadhap srep : bermakna bahwa mayit yang
dimandikan hilang dari dosa-dosanya (simbol daun kelor), jalan
menuju Tuhan akan mudah dan akan menjadi damai (simbol daun dhadhap
srep).
-
Menyembelih kambing : bermakna sebagai tunggangan mayat untuk
menuju ke hadapan Tuhan.
-
Burung merpati sepasang : bermakna agar mayat diharapkan saat
menghadap Tuhan dalam keadaan suci bersih tanpa dosa dan beban.
-
Sesajen kenduri : bermakna agar keselamatan selalu mengiringi
orang yang meninggal sampai menghadap Tuhan.
-
Kelapa muda : mempunyai arti toya wening/toya suci (air
yang melambangkan kehingan dan kesucian). Jadi kelapa muda merupakan
simbol yang mengandung harapan agar orang yang barusaja meninggal
dilimpahi kesucian sehingga dapat segera menghadap Tuhan.
-
Payung : Payung merupakan tanda belas kasih cinta sanak keluarga
terhadap orang yang baru saja meninggal. Dimaksudkan agar orang
yang baru saja meninggal itu tidak kehujanan dan kepanasan selama
di liang kubur.
-
Kembang setaman : bermakna penghormatan kepada jenazah dan untuk
mengenang kebaikan-kebaikan yang dilakukannya selama hidupnya
dan juga suatu upaya keluarga untuk mendoakan agar arwahnya diterima
Tuhan.
fotografer:
Didit Priyo Daladi
naskah dari berbagai sumber oleh A. Melati Listyorini
|