Museum - Khitanan

UPACARA KHITANAN

Masyarakat Jawa sampai sekarang masih mempercayai bahwa anak laki-laki pada waktunya harus menjalani salah satu upacara siklus dalam hidupnya, yaitu supitan atau sering juga disebut dengan khitanan.

Menurut konsepsi tradisi lama, khitanan merupakan upacara inisiasi kedewasaan. Dengan demikian, seorang laki-laki setelah menjalani khitanan diakui menjadi anggota masyarakat yang dewasa dan bertanggungjawab. Pada dasarnya, upacara khitanan pada anak laki-laki sama maknanya dengan upacara tetesan pada anak perempuan. Ketika anak laki-laki akan memasuki usia kematangan maka dilakukan upacara untuk memperingatinya, yaitu upacara khitanan. Biasanya anak laki-laki dikhitan ketika berusia 13-15 tahun. Pada usia ini anak laki-laki secara fisik telah matang yang ditandai dengan mulai diproduksinya sperma dan sewaktu-waktu bisa dikeluarkan lewat mimpi yang dikenal dengan istilah mimpi basah. Tanda lain bagi anak laki-laki menginjak dewasa ialah tumbuhnya jakun, berubahnya suara anak-anak ke suara dewasa. Apabila anak telah mencapai fase ini maka segera dilakukan khitan atau sunat (istilah Jawa: tetak).

Fungsi dilakukannya khitan pada anak laki-laki, dari segi kesehatan, ialah untuk menghilangkan kotoran yang menempel di kulit ujung kepala kemaluan sebelah dalam. Kotoran ini biasanya berwarna putih. Dengan dilakukan khitan, maka kulit kepala kemaluan akan dibuka sehingga kotoran yang berasal dari air seni tidak tersumbat di kulit dan bisa keluar lancar.

Tujuan upacara khitanan ini sama dengan upacara tetesan, yaitu untuk mengucapkan rasa syukur kepada Tuhan sebab si anak telah memasuki tahapan baru dalam siklus hidup, yakni memasuki usia kematangan sekaligus meminta perlindungan kepada Tuhan agar dalam menapaki masa remaja mendapatkan keselamatan tanpa aral melintang, tumbuh sebagai remaja yang energik, tampan, dan kuat.

Jalannya Upacara

Jalannya upacara khitanan adalah sebagai berikut.

  1. Siraman. Anak yang akan dikhitan dimandikan dengan air kembang setaman oleh ayah, ibu, kakek dan neneknya.
  2. Si anak mengenakan pakaian khusus untuk khitanan. Biasanya pakaian yang dikenakan adalah sarung dan kemeja yang tidak akan merepotkan bila nanti disunat.
  3. Setelah anak mengenakan pakaian khusus untuk khitanan, si anak siap untuk dikhitan oleh dukun khitan atau juru supit (istilah Jawa: bong supit).
  4. Setelah selesai dikhitan, si anak diberi minum jamu khusus, yaitu minyak kelapa asli dicampur irisan bawang merah, temu ireng, dan temu giring. Bawang merah, temu ireng dan temu giring harus yang masih mentah (bukan olahan atau godhogan) lalu diparut dan diambil air sarinya untuk diminumkan.
  5. Setelah selesai dikhitan, anak harus istirahat agar hasil khitanan cepat sembuh.
  6. Pada malam harinya, diadakan selamatan atau kenduren yang dihadiri bapak-bapak tetangga terdekat.

Sesaji yang Diperlukan dalam Upacara Khitanan

Sesajen untuk upacara khitanan adalah

  1. jenang merah, jenang putih,
  2. jenang baro-baro,
  3. tumpeng robyong,
  4. tumpeng gundhul,
  5. ayam jago seekor,
  6. gula kelapa sepasang (setangkep),
  7. kelapa setangkai (setundhun),
  8. beras,
  9. kemiri,
  10. kemenyan
  11. benang lawe,
  12. kendi, dan
  13. uang secukupnya.

Lambang atau Makna yang Terkandung dalam Unsur Upacara Khitan

Lambang atau makna yang terkandung dalam upacara khitan dapat ditafsirkan sebagai berikut:

  1. Air kembang setaman melambangkan sifat suci dalam tingkatan hidup yang akan dijalaninya.
  2. Kelapa utuh mengandung makna berupa harapan agar selalu hidup mencapai kesempurnaan jasmani.
  3. Tumpeng melambangkan pemuliaan kepada arwah leluhur.
  4. Jenang baro-baro melambangkan bahwa anak adalah milik kedua orangtua (wong loro).

fotografer: Didit Priyo Daladi
naskah dari berbagai sumber oleh A. Melati Listyorini