Kuliner

TONGSENG DAN RICA-RICA MENTHOK

Menu bebek bakar mudah sekali ditemukan di Yogya. Selain bebek bakar, biasanya hanya bebek goreng. Diluar dua masakan yang menggunakan bebek sebagai bahan, jarang –atau bakan tidak ada—ditemukan. Dibanyak tempat, termasuk dipinggir jalan, dua jenis menu yang berasal dari bebek itu mudah sekali ditemukan. Ada jenis bintang yang satu rumpun dengan bebek, namun sangat jarang dagingnya mengisi menu-menu diwarung. Rumpun itu ialah menthok.

Ada satu warung, yang hanya menyediakan tongseng dan rica-rica menthok. Bangunan warungnya sederhana, dan sekaligus sebagai tempat tinggal penjualnya. Jendela warungnya bergaris-garis dari kayu dan dicat warna hijau. Warung ini berada ditepi jalur lambat ringroad selatan. Dari perempatan ringroad jalan Bantul menuju ke barat, sampai perempatan ringroad Madukismo masih kebarat, setelah melewati jembatan: sekitar 200 meter dari jembatan tongseng menthok ini sudah bisa dilihat. Tulisan spanduk warna kuning dengan hurup warna merah, mudah sekali dilihat: ‘Tongseng Menthok Pak Lilik’.

Tidak mudah mencari menthok, setidaknya kalau dibandingkan mencari bebek atau ayam. Untuk mencari menthok seringkali keliling dibeberapa pasar yang ada di Yogya. Kalau sudah ada persediaan 5 ekor menthok, perasaan sudah terasa aman. Artinya tidak perlu setiap hari keliling pasar untuk mencari menthok.

“Saya sering mencari sampai pasar Terbang Yogya’ Kalau di Rumah sudah ada 5 ekor mentho, saya sudah senang.” kata Pak Lilik, yang siang itu, ketika saya mengunjungi warungnya baru saja pulang menjemput anaknya pulang sekolah.

Dalam sehari, warung menthok ini hanya menghabiskan dua ekor menthok. Warung buka dari jam 10 pagi sampai jam 9 malam. Memang tidak selalu padat pembeli yang mengantri di warung menthok ini, tapi bukannya sama sekali tidak laku. Karena, biasanya, pembelinya banyak yang memesan untuk dibawa pulang. Jadi, tidak untuk dimakan ditempat.

Lalu,berapa harga satu porsi tongseng atau rica-rica menthok?

Harganya murah. Hanya Rp 8.500 satu porsi tongseng atau rica-rica menthok yang diwadahi mangkok. Untuk nasi cukup Rp 1500, ini pun bukan satu piring, melainkan disediakan dicething dan pembeli tinggal mengambil, menambah atau tidak, satu orang Rp 1500 untuk nasi.

Sebagaimana umumnya rica-rica. Rica-rica menthok ini memang terasa pedas. Bumbunya terasa. Namun lantaran daun jeruknya habis, sehingga rica-rica yang kebetulan saya pesan tidak disertai daun jeruk. Selain aroma sedapnya sedikit berkurang, rasanya juga tidak semantap kalau menggunakan daun jeruk. Namun umumnya, rasa rica-ricanya terasa enak. Hanya ada yang sedikit mengganggu, setidaknya untuk saya, ialah kubisnya cukup banyak, sehingga rica-rica menthok disertai kubis. Mungkin, bagi orang lain, rica-rica dan kubis adalah hal biasa.

Bagi yang ingin mencoba pilihan lain, selain bebek dan ayam, tongseng atau rica-rica menthok mungkin bisa menjadi alternative. Di Yogya, sulit ditemukan warung yang menyediakan daging menthok. Agaknya, warung menthok tepi ringroad selatan ini, adalah satu-satunya yang masih buka. Karena warung menthok yang lain, misalnya di jalan Parangtritis, sebelah selatan Gabusan sudah jarang buka. Rica-rica menthok di jalan wates, arah jalur lintas ke Sedayu sekarang sudah berganti bukan lagi menyediakan rica-rica menthok.

Mungkin, seperti menthok yang tidak semudah bebek untuk mencarinya, yang membuat warung-warung tidak menyediakan daging menthok dan warung yang khusus menjual tongseng menthok juga tidak banyak dan durasi waktunya seringkali pendek. Belum sempat laris, biasnya sudah menutup diri.

Mudah2an, tongseng menthok tepi ringroad selatan ini durasinya panjang.

Ons Untoro