|
Kuliner
ANEKA KOPI LOKAL DI BAN ANDONG
Adakah
hubungan kopi lokal dengan ban andong? Ada ketika ban andong adalah
nama sebuah warung kopi di bilangan Nitiprayan, tepatnya di RT 01 RW
20. Dari jalan Sugeng Jeroni lurus saja ke arah barat maka ada
sebuah ban andong bertengger di kiri jalan. Di bawahnya, di sisi
jalan menurun, terdapat sebuah warung terbuka yang sederhana,
beratap rumbia dan bertonggak bambu. Di
seberang
warung ini terhampar sawah luas yang menyejukkan mata.
Warung kopi ini menyediakan
empat jenis kopi lokal, yakni kopi Palembang, Jambi, Bengkulu dan
Blora. Alasan pemilik warung pak Hari dan kawan-kawannya memilih
untuk menyediakan empat jenis kopi ini amatlah sederhana. Di empat
daerah ini ada kawan-kawan yang mengirim kopi secara teratur,
sementara di daerah lain belum ada kawan yang menyuplai.
Mengingatkan pada moto ‘mulai dulu dari yang ada’. Karena itulah di
sini kita tidak mendapati kopi lokal lainnya, semacam kopi Aceh,
Toraja atau Timor Leste.
Kita
tinggal memilih kopi sesuai selera. Semuanya nikmat.Mulai dari kopi
Palembang yang ringan dan agak lembut lalu kopi Jambi kemudian kopi
Blora yang agak keras hingga kopi Bengkulu yang paling keras. Kalau
ingin yang mantap dan ‘nendang’ kopi Bengkulu cocok, atau di
bawahnya adalah kopi Blora, meski dari segi warna kopi Blora yang
paling
hitam pekat. Tapi kalau hanya ingin yang sekadar nikmat dengan
sedikit efek ‘tendangan’, kopi Palembang cocok.
Dari keempat kopi ini yang
paling laris di Ben Andong adalah kopi Palembang. Jenis kopi ini
pula yang dibuat untuk kopi jahe ataupun kopi susu. Tapi secara umum
coffee mix ternyata paling banyak peminatnya. Agaknya pengunjung
lebih menyukai
kopi
yang ringan sambil berbincang-bincang.
Empat jenis kopi ini cukup
menjadi teman baik saat bersantai. Menyeruput kopi hangat atau panas
dari cangkir aluminium sembari memandang lepas hijaunya sawah bisa
melepas penat. Atau berpanjang-panjang mengobrol dengan kawan-kawan.
Warung ini karenanya buka hingga jam 12 malam. Pengunjung bisa duduk
di kursi bambu berlama-lama dibelai semilir angin.
Disediakan pula beragam
cemilan, dari kacang hingga krupuk, seharga Rp 500. Harga per
cangkir kopinya hanya Rp 2000. Juga makanan ‘berat’ ala angkringan
semacam sego kucing, kepala ayam, rempela ati, dan sebagainya. Kita
tidak perlu merogoh kantong terlalu dalam.
Seperti laiknya mengendarai
andong yang berjalan lambat, demikianlah mengopi di Ben Andong,
waktu terasa bergerak pelan, dan tak terasa malam kian larut.
a. barata |