|
Suguhan
SATE KUDA
Sate
kuda? Mendengar kuliner ini biasanya orang terperangah dulu, lalu
ada dua macam reaksi, merinding tidak tega atau merinding penasaran,
atau perpaduan keduanya. Di Yogya warung sate kuda kian banyak, yang
menandakan konsumennya juga makin banyak. Khasiat sate kuda biasanya
menjadi daya tarik utama. Selain meningkatkan stamina, juga dikenal
menyembuhkan penyakit asma, diabetes dan rematik. Sate ini diklaim
rendah kolesterol dan tidak menyebabkan darah tinggi.
Sebuah warung sate kuda yang
kondang di Yogya adalah warung Pak Kuncoro di Jalan Kranggan, yang
juga dikenal sebagai perintis sate kuda di kota ini. Warung ini
dibuka oleh Pak Kuncoro (kini 66 tahun) pada April 1997. Sebelumnya
beliau dan istrinya kerap membuat sate kuda tapi hanya untuk
disantap mereka sekeluarga. Anak bungsu Pak Kuncoro, Satrio (28
tahun), mengenang bahwa dulu usai berjalan kaki sekitar 15 kilometer
saat TC (training centre) Taekwondo, ia dan kawan-kawannya selalu
menyantap sate kuda olahan orang
tuanya.
Kini, sejak tahun 2002, warung ini ditangani Satrio, tamatan D3
perhotelan. Dua anak Pak Kuncoro yang lain membuka warung sate kuda
di Godean dan Sleman.
Warung sate kuda umumnya
menyediakan dua macam menu, yakni sate dan tongseng. Tapi warung ini
juga menjual abon, torpedo dan paru kuda. Harga sepuluh tusuk sate
Rp 13.000, sama dengan harga sepiring tongseng.
Sate disajikan dengan sambel
kecap. Seratnya lebih besar dibandingkan kambing. Mmm.. tidak
percuma nama kondang warung ini. Dagingnya sangat empuk, cita
rasanya agak manis mirip dendeng. Rasa daging kuda sendiri dekat
dengan daging kerbau. Di tengah obrolan dengan Satrio, daging demi
daging dikunyah sembari dicecap lidah lalu hilang meluncur ke perut.
Seharinya warung Pak Kuncoro
membutuhkan sekitar lima kilogram daging kuda. Daging ini dipilih
sendiri
oleh
Satrio di tempat pemotongan kuda di Segoroyoso, Pleret, Bantul.
Daging yang diambil adalah has dalam (bagian tengah daerah punggung)
kuda. Pemotongan biasanya dilakukan sekitar pukul tiga sore, setelah
shalat ashar. Sepulang dari sana, daging kuda dipotong-potong dan
direndam dengan bawang merah, bawang putih, kemiri dan jinten,
minimal selama tiga jam.
Menurut penuturan Satrio,
kuda yang dipotong biasanya kuda andong yang sudah cedera, seperti
pernah patah kaki. Mereka tidak lagi bisa menjalankan fungsinya
dengan baik sehingga dijual pemiliknya ke tempat pemotongan. Tapi
tidak berarti tempat pemotongan menerima semua kuda yang ditawarkan,
keputusannya tergantung hasil pemeriksaan Dinas Kesehatan. Kuda-kuda
itu dikandangkan terlebih dulu. Lantas diperiksa Dinas Kesehatan
pada sore hari, esok paginya dan menjelang pemotongan.
Di
dinding warung ini tertempel lembaran mengenai khasiat daging kuda
yakni, selain khasiat yang disebutkan di atas, menyembuhkan gatal,
eksim, ayan, pegal linu, batuk dan flek di paru-paru. Satrio
menambahkan bahwa, selain daging kuda, tulang kuda yang dibakar
hingga menjadi arang manjur untuk menyembuhkan sakit rematik.
Warung lainnya yang
didatangi Tembi adalah warung sate kuda milik Bu Rohmat di Jalan
Parangtritis Km 7 dan warung milik Pak Singgih di Jalan Parangtritis
dekat Pojok Beteng Wetan.
Nama warung Pak Singgih
sungguh atraktif, ‘Full Joss Resto’. Di tembok dalam warung
tertulis: ‘Anti Loyo. Sate Yes, Darah Tinggi No’. Di bawahnya ada
promosi khasiat daging kuda, antara lain menurunkan kolesterol dan
mengharmoniskan pasangan suami istri. Tembi juga merasakan efeknya.
Sepulang dari sini, lebih bertenaga saat menggenjot sepeda.
Harga
sate dan tongsengnya Rp 15.000. Satenya sepuluh tusuk seperti di
Kranggan tapi ditambahkan hati. Cita rasanya biasa, malah sedikit
potongan dagingnya agak alot.
Porsi tongsengnya cukup
banyak. Seperti juga sate, disajikan bersama irisan bawang merah,
cabe merah, tomat, kubis dan mentimun. Meski dinamakan tongseng tapi
kuahnya sangat sedikit. Yang mencolok adalah taburan merica yang
cukup banyak. Selesai menyantap, dijamin ‘gemrobyos’ bermandi peluh.
Dalam satu harinya Pak
Singgih memerlukan daging kuda dari Segoroyoso sebanyak lima
kilogram. Bagian yang dipilih adalah daerah paha dan punggung.
Biasanya berasal dari kuda berusia tiga tahun.
Warung ini sudah buka selama
empat tahun. Kenapa memilih berjualan sate kuda? Alasan pertama,
kata
Pak
Singgih, karena daging lain sudah banyak yang menjual sementara
daging kuda masih jarang. Alasan lainnya diawali dari pengalaman
kakak Pak Singgih yang sakit asmanya membaik setelah makan sate
kuda.
Warung Bu Rohmat tanpa nama,
hanya bertuliskan ‘sate kuda’ saja. Dindingnya juga bersih dari
tulisan tentang khasiat daging kuda. Sebelumnya pekerjaan Bu Rohmat
membuat rempeyek tapi peralatannya diporakporandakan gempa bumi
tahun 2006. Ia kemudian mencoba berjualan sate kuda dengan
pertimbangan masih jarangnya warung jenis ini. Pertimbangannya tidak
meleset. Warungnya terus disambangi orang hingga sekarang. Meski jam
resmi bukanya pukul 9 hingga 19 tapi warung ini kerap tutup lebih
awal karena dagangannya sudah habis.
Harga sate di sini, sama
dengan tongseng, Rp 8.000 untuk lima tusuk. Dagingnya empuk. Cita
rasanya
masih
di bawah warung Pak Kuncoro tapi di atas warung Pak Singgih. Satenya
juga disajikan dengan sambel kecap bersama irisan timun, tomat,
kubis, bawang merah dan cabe hijau. Tongsengnya cukup berkuah.
Minuman andalan warung ini adalah rempah-rempah instan, yang menjadi
pasangan serasi dengan daging kuda, sama-sama memicu keringat.
Daging kuda di warung ini
juga diperoleh dari Segoroyoso. Yang diambil adalah bagian punggung.
Seharinya Bu Rohmat menghabiskan daging sekitar 3- 4 kg.
Ketiga pemilik warung sate
kuda ini orang asli Yogya. Mereka terkesan sudah mantap dengan
pilihan menu ini. Terbukti dagangan mereka kerap habis sebelum jam
tutup. Resminya, warung Pak Kuncoro buka pukul 11.00 hingga 20.00,
Bu Rohmat pukul 9.00-19.00, dan Pak Singgih pukul 9.00-21.00.
Dari segi tampilan, ketiga
warung ini kurang menarik, terkesan seadanya. Tapi agaknya ajakan
lidah serta pertimbangan kesehatan dan kebugaran senantiasa
mendahului mata.

a. barata |