Situs-Situs

MAKAM WOTGALEH:
MAKAM BANTENG MATARAM

Keletakan:
Salah satu makam dari dinasti Mataram adalah Makam Panembahan Purubaya I (lazim disebut dengan nama Purbaya saja). Panembahan Purubaya II, dan Panembahan Purubaya III berada di Dusun Karangmoncol, Kelurahan Sendangtirta, Kecamatan Berbah, Kabupaten Sleman, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Untuk memasuki kompleks Makam Panembahan Purubaya I, II, dan III ini pengunjung harus melalui empat buah pintu gerbang dan satu pintu gerbang utama yang menghubungkan halaman kompleks makam dan masjid dengan jalan utama menuju lokasi. Setelah memasuki gerbang utama pengunjung harus memasuki gerbang kedua yang sekaligus menyatu dengan bangunan yang difungsikan untuk tempat tunggu/jaga para juru kunci. Bangunan berupa balai terbuka ini menempati posisi di belakang gapura/pintu pada sebelah kanan dan kiri gapura/pintu. Melalui beberapa pintu tersebut barulah pengunjung dapat sampai pada makam Pangeran Purbaya I, II, dan III.

Dua Versi tentang Tokoh Banteng Mataram

Versi Pertama
Tokoh yang terkenal dengan sebutan atau gelar Banteng Mataram ini memiliki nama lengkap Kanjeng Panembahan Purubaya II Senapati Agung Banteng Mataram. Demikian menurut nama yang diterakan dalam silsilah Ki Ageng Giring yang ditempelkan pada ruang juru kunci kompleks makam Wotgaleh. Ayah Kanjeng Panembahan Purbaya II bernama Kanjeng Panembahan Purbaya I yang memiliki nama kecil/muda Jaka Umbaran. Sedangkan kakek Kanjeng Panembahan Purbaya II adalah Kanjeng Panembahan Senapati (1582-1601) yang dimakamkan di Kotagede. Sedang nenek dari Kanjeng Panembahan Purbaya II bernama Kanjeng Ratu Giring/Niken Purwasari (putri dari Ki Ageng Giring III/RM Kertanadi) yang juga menurunkan trah Wanakusuma serta Panembahan Rama di Kajoran.

Versi Kedua
Akan tetapi menurut makalah yang berjudul Cukilan Sejarah Perjuangan Kanjeng Panembahan Puruboyo I yang disusun pada tahun 1976 oleh Panitia Pisungsung Pembangunan Pasarean Masjid Kagungan Dalem Wotgaleh, yang disebut dengan gelar atau julukan Banteng Mataram adalah Panembahan Purubaya I yang memiliki nama kecil Jaka Umbaran. Ia adalah putra Panembahan Senapati dengan ibu bernama Rara Lembayung (putri Ki Ageng Giring III).

 

Cerita Lisan Berkaitan dengan Keberadaan Kompleks Makam Wotgaleh.

Menurut penuturan salah satu penjaga (perabot) kompleks makam Wotgaleh yang bernama Bapak Mohammad Ngabdan (65 tahun), tidak ada pesawat dari dan ke Yogyakarta yang berani melintas di atas kompleks makam ini. Konon, pesawat yang berani melintas di atasnya pasti akan mengalami bencana. Bahkan menurut salah satu penjaga makam tersebut pada zaman dulu banyak bangkai burung di seputar batu nisan di kompleks makam tersebut, khususnya batu nisan Panembahan Purubaya Senapati Agung Banteng Mataram.

Menurut informasi yang didapatkan TeMBI dari Bapak Mohammad Ngabdan tersebut disebutkan bahwa setiap kali ada pergantian pucuk pimpinan Lanud Aducipto Yogyakarta (kompleks makam ini berlokasi sangat dekat dengan Lanud Adisucipto), pasti diadakan acara selamatan di kompleks makam tersebut.

Masjid Sultoni Wotgaleh
Masjid Wotgaleh yang juga dikenal dengan nama Masjid Sultoni terletak di sebelah utara makam. Kedua bentuk bangunan tersebut hanya dibatasi oleh tembok. Bangunan masjid ini memiliki panjang muka 18,60 meter dan lebar 10,80 meter. Masjid ini dilengkapi dengan 5 buah pintu yang terbuat dari kayu. Tiga buah pintu menghadap ke timur, satu buah menghadap ke selatan, dan satu buah menghadap ke utara. Daun-daun pintu masjid tersebut becat warna putih dan hijau. Cat-cat tersebut pada saat tim TeMBI berkunjung ke sana masih tampak baru. Lebar pintu adalah 125 cm dan ketinggiannya 190 cm.

Untuk kelengkapan data ini silakan hubungi TeMBI

Tim TeMBI: Herjaka HS, Didit Priya Daladi, Sartono Kusumaningrat
Teks: Sartono Kusumaningrat
Foto: Didit Priya Daladi