Situs-Situs

MAKAM KYAI AGENG PRAWIRO PURBO

Keletakan

Makam Kyai Ageng Prawiro Purbo terletak di Dusun Taunan, Kalurahan Semaki, Umbulharjo, Yogyakarta tepatnya di sisi timur kompleks makam pahlawan Kusumanegara. Makam ini juga terkenal dengan nama Karang Kabolotan. Kompleks makam ini sesungguhnya merupakan satu kesatuan dengan makam dusun, Dusun Taunan. Makam ini berada di tepi sisi selatan Jl. Kusumanegara Yogyakarta atau lebih tepatnya berada di sisi selatan pertigaan Jl. Kusumanegara dan Jl. Cendana (sekitar 2-3 kilometer).

Fisik Bangunan

Kompleks makam Kyai Ageng Prawiro Purbo ini ditutup dengan tembok keliling dan beratap seperti layaknya bangunan cungkup/rumah. Pintu utama/ gerbang makam terletak di sisi timur. Gerbang ini dilengkapi dengan daun pintu bergaya kupu tarung (dua daun pintu berbentuk kembar). Di atas pintu gerbang ini diterakan tulisan berhuruf Jawa. Tulisan tersebut pada larik pertama bila dibaca berbunyi Kyai Ageng Prawiro Purbo. Sedang larik berikutnya berbunyi Tri Roso Ngesthi Tunggal. Tulisan pada larik kedua ini dapat diartikan sebagai angka tahun yang menunjukkan 1863 tahun Jawa atau 1933 Masehi. Pintu dicat dengan warna hijau dan dipelisir dengan warna kuning. Tinggi daun pintu adalah 190 Cm, lebar pintu 136 Cm. Lebar tembok bangunan adalah 5,5 meter. Panjang tembok bangunan adalah 23,60 meter.

Lantai makam ini telah dikeramik. Lantai bagian bawah dikeramik berwarna abu-abu dengan berukuran 30 Cm x 30 Cm. Sedangkan lantai bagian atas dikeramik dengan warna hijau tua dengan ukuran 30 Cm x 30 Cm. Komplek makam ini dilengkapi pula dengan sumur, WC, kamar mandi, dan gudang. Selain itu kompleks makam ini juga dilengkapi dengan tempat parkir kendaraan roda dua di sisi timur (di depan pintu gerbang).

Secara keseluruhan bangunan makam dapat dibagi menjadi dua kelompok yakni bangunan cungkup utama dan bangunan cungkup biasa. Panjang lantai cungkup utama adalah 8,50 meter, lebar 4 meter. Lantai cungkup utama ditinggikan 60 Cm dari lantai makam. Di samping itu, khusus untuk nisan Kyai Ageng Prawiro Purbo dilengkapi juga dengan kelambu berwarna putih yang disematkan pada 4 buah tiang beratap yang membentuk semacam kotak tanpa dinding. Kotak tempat penyematan kelambu tersebut memiliki ukuran panjang 203 Cm, lebar 70 Cm, tinggi 186 Cm.

Cungkup utama ini merupakan bangunan tertutup dengan dengan pintu menghadap ke selatan. Pintu di cungkup utama ini juga memiliki daun pintu bergaya kupu tarung. Lebar daun pintu adalah 180 Cm, tinggi 190 Cm. Pintu ini juga dicat dengan warna hijau dan pelisir berwarna kuning.

Nisan

Kompleks makam Kyai Ageng Prawiro Purbo berisi 20 batu nisan. Batu nisan tersebut ada yang terletak di dalam cungkup utama dan sebagian besar terdapat pada cungkup bagian luar (bukan utama). Batu nisan yang terdapat di cungkup utama adalah batu nisan dari Kyai Ageng Prawiro Purbo beserta 3 buah batu nisan lain.

Batu nisan Kyai Ageng Prawiro Purbo memiliki ukuran panjang 186 Cm, lebar/tebal 53 Cm, tinggi 95 Cm. Batu nisan ini ditinggikan 13,5 Cm dari lantai cungkup utama. Batu nisan ini terbuat dari batu andesit.

Silsilah

Menurut silsilahnya Kyai Ageng Prawiro Purbo adalah putra dari Gusti Pangeran Haryo Suryometaram I dengan permaisuri yang bernama Raden Ayu Suryometaram. Kyai Ageng Prawiropurbo lahir pada tahun Dje1797 atau 1869 Masehi dan meninggal pada Minggu Kliwon, 15 Dulkangidah Tahun Dal 1863 (5 Mei 1933). Ia merupakan putra ke-4 dari 9 bersaudara. GPH Suryometaram I adalah putra dari Sultan Hamengku Buwana VI. Dengan demikian, Kyai Ageng Prawiro Purbo adalah cucu dari Sultan Hamengku Buwana VI.

Menurut cerita tutur Kyai Ageng Prawiropurbo adalah salah satu bangsawan yang kemudian hidup dengan cara menggelandang. Hal ini dilakukannya karena konon ia pernah mendapatkan amarah dari Sultan Hamengku Buwana VIII (ada versi yang menyatakan bahwa ia bersalah kepada Sultan Hamengku Buwana VII). Pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwana VIII ini ia pernah melakukan tindakan yang dianggap tidak sepantasnya oleh pihak keraton. Perlu diketahui bahwa pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwana VIII ini ia menjadi salah satu abdi dari Keraton Yogyakarta.

Menurut salah satu versi cerita tutur konon ia pernah disuruh menata kursi untuk sebuah pertemuan antara bangsawan Keraton Yogyakarta dengan tamu-tamu dari Negeri Belanda. Akan tetapi Kyai Ageng Prawiropurbo merasa tidak suka dengan bangsa Belanda. Oleh karena itu perintah untuk menata kursi itu tidak dilaksanakannya dengan sewajarnya. Ia bahkan hanya menjentik-jentikkan jari. Konon dengan menjentikkan jari-jari itu kursi-kursi yang seharusnya ditatanya bisa menata diri dengan otomatis (bergerak sendiri).

Melihat kejadian ini Sultan Hamengku Buwana VIII merasa tersinggung. Oleh karena itu Sultan Hamengku Buwana VIII mengeluarkan kata-kata yang bersifat kutukan bahwa apa yang dilakukan oleh Kyai Ageng Prawiropurbo adalah tindakan yang mirip dengan tindakan orang gila. Konon seketika itu juga Kyai Ageng Prawiropurbo menjadi sakit ingatan. Sekalipun demikian, banyak orang meyakini bahwa apa yang dialami oleh Kyai Ageng Prawiropurbo bukanlah gila betulan, tetapi ia memang sengaja melakukan ngedan ‘berbuat seolah-olah gila’.

Dalam cerita tutur dikatakan bahwa kehidupan Kyai Ageng Prawiropurbo setelah keluar dari keraton demikian eksentrik (ngedan). Ia hampir tidak pernah mengenakan baju. Kemana-mana hanya mengenakan kain. Menurut sebagian besar masyarakat Jawa cara hidup yang demikian itu mirip dengan cara hidup yang dilakukan oleh Semar dalam tokoh pewayangan, yakni cara hidup sederhana namun penuh kebijakan.

Satu versi cerita tutur yang begitu terkenal berkaitan dengan Kyai Ageng Prawiropurbo adalah pemberian sanepa ‘simbol’-nya bagi kaum pedagang. Konon apabila ada pedagang yang dagangannya diambil sebagian oleh Kyai Ageng Prawiropurbo, maka dagangannya akan laris. Apabila dagangannya diacak-acak olehnya, maka dagangan tersebut akan tidak laku atau bangkrut.

Waktu dan Syarat Berziarah

Hari yang ideal bagi pengunjung untuk berziarah ke tempat ini adalah hari Selasa dan Jumat Kliwon. Akan tetapi hari yang dianggap paling baik bagi kunjungan peziarahan adalah hari Mingu Kliwon malam Senin Legi. Hari tersebut merupakan hari haul Kyai Ageng Prawiropurbo.

Dalam kesehariannya kompleks makam ini dijaga oleh tiga orang jurukunci yang keempat-empatnya merupakan keturunan (trah) Gusti Pangeran haryo Suryometaram I. Ketiga orang tersebut adalah: Kanjeng Raden Tumenggung Hastono Negoro (70 tahun), Raden Mas Daroessalam (65 tahun), Kanjeng Raden Tumenggung Purbowijoyo (66 tahun), Raden Mas Kusyutardono, BSC (60 tahun).

Tim TeMBI: Agus P Herjaka, Didit PD, dan Sartono K.