Situs-Situs

MELACAK NAMA KAMPUNG PEDAMARAN
DARI SEJARAH KYAI DAMAR, SEMARANG

Keletakan

Makam Kyai Damar terletak di Pedamaran, Sumeneban, Kauman, Semarang Tengah, Semarang, Jawa tengah. Makam ini tepatnya berada di belakang kompleks Pasar Johar Semarang.

Data Fisik:

Makam Kyai Damar terletak dalam sebuah cungkup berukuran sekitar 4,5 m x 7 m. Keletakannya berimpitan dengan rumah penduduk setempat. Kondisi ini tidak terhindarkan mengingat penduduk di jantung Kota Semarang itu memang amat sangat padat.

Kompleks makam ini hanya terdiri atas tiga buah batu nisan, yakni batu nisan dari Kyai Damar dan Nyai Damar beserta nisan makam dari keponakannya. Sayangnya, nama dari keponakan Kyai Damar ini tidak pernah diketahui. Nisan Kyai dan Nyai Damar memiliki ukuran panjang sekitar 170 Cm, lebar 60 Cm, dan tinggi sampai kepala jirat sekitar 65 Cm. Sedangkan nisan makam keponakan Kyai Damar berukuran relatif lebih kecil. Cungkup di kompleks makam ini juga dilengkapi dengan sebuah pintu besi dengan ukuran lebar sekitar 1 meter, dan tinggi sekitar 170 Cm. Pintu besi ini berbentuk jeruji.

Pemugaran atas makam ini pernah diresmikan oleh Walikota Madya Dati II Semarang, Kolonel Infanteri Soetrisno Soeharto pada 26 Februari 1998.

Latar Belakang

Silsilah Kyai Damar hingga sekarang memang tidak jelas. Sekalipun demikian, menurut Kyai Masruh Budiono Abdul Kholib (75) yang menjadi sesepuh desa setempat dikatakan bahwa Kyai Damar adalah salah satu abdi punakawan dari Kerajaan Demak Bintara. Tokoh ini mempunyai nama lain yakni Raden Dipa Pamulya. Ia dipercaya masih merupakan keturunan raja-raja Demak.

Sumber setempat juga menyatakan bahwa Kyai Damar pernah menyiarkan agama Islam berbarengan dengan Syeh Jangkung. Akan tetapi Kyai Damar kemudian menetap di tempat yang sekarang dikenal dengan nama Kampung Sumeneban ini. Di tempat inilah agama Islam kemudian secara lambat laun berkembang. Apa yang dilakukan oleh Kyai Damar ini menurut sumber setempat merupakan amanah dari Keraton Demak untuk mengembangkan agama Islam, melanjutkan kinerja para Walisanga.

Versi lain menyebutkan bahwa Kyai Damar adalah salah satu pengikut Pangeran Dipanegara dengan tugas sebagai telik sandi atau mata-mata. Perlu diketahui bahwa di kala itu Sumeneban merupakan sebuah perkampungan yang berada di pinggiran sungai besar yang dapat dilayari kapal atau perahu berukuran sedang. Bahkan kapal-kapal tersebut bisa sampai ke pusat pemerintahan Belanda yang sekarang berada di Kawasan Kota Lama Semarang. Dengan begitulah Kyai Damar dapat mengamati lalu lalang kapal-kapal Belanda.

Nama Damar yang disandang Kyai Damar menurut sumber setempat bukan hanya berdiri sebagai nama tanpa arti. Damar dalam bahasa Jawa berarti lampu, lentera, atau dian. Jadi, ia adalah tokoh yang memiliki tugas untuk memberikan pepadhang atau penerangan.

Semula Kampung Sumeneban merupakan kampung tempat pemukiman orang-orang Madura yang berasal dari Sumenep. Berdasarkan hal itu, maka warga di luar kampung itu mengatakan bahwa tempat itu adalah Sumeneban. Artinya, tempat atau pemukiman orang-orang Sumenep. Akan tetapi ada pendapat yang menyatakan bahwa tempat itu dulunya merupakan penjara bagi orang-orang Madura yang ditangkap oleh Belanda. Orang-orang setempat pada zaman dulu mengatakan bahwa Madura tidak beda dengan Sumenep. Oleh karena itulah tempat tersebut kemudian dikenal dengan nama Kampung Sumeneban.

Kampung Sumeneban juga tidak jauh dari Kampung Sedogan/Sedokan/Sodogan. Nama kampung itu cukup menarik bila dilihat secara etimologis karena mungkin bagi telinga awam tidak begitu lazim. Menurut sumber setempat nama kampung ini lahir dari sebuah peristiwa dibunuhnya orang-orang Bugis oleh Belanda. Pembunuhan itu dilakukan dengan cara disodok (ditombak). Berdasarkan peristiwa itu tempat tersebut lantas diberi nama Kampung Sodogan.

Masing-masing kampung ini sekarang kelihatan begitu padat dan apabila dilihat dengan mata telanjang akan sulit ditentukan batas-batasnya. Keberadaan Kampung Sumeneban dan Sodogan ini tidak jauh dari aliran Kali Semarang yang juga disebut sebagai Kali Banger karena kandungan limbahnya yang luar biasa padat sehingga menimbulkan bau banger ‘tidak sedap’.

foto dan teks: sartono