Situs-Situs

MAKAM EYANG DIPAKUSUMA:
SALAH SATU PETILASAN DI DERETAN BUKIT PARANGTRITIS

Pada Perbukitan Parangtritis terdapat banyak petilasan. Salah satu petilasan tersebut adalah Petilasan Eyang Dipakusuma. Menurut sumber setempat Eyang Dipakusuma merupakan salah satu putra Brawijaya IV. Ia pergi dari Majapahit dan kemudian menetap di wilayah perbukitan Parangtritis. Bukit yang kemudian menjadi tempat tinggal dan makamnya itu dikenal dengan nama bukit atau Pasareyan Tegalreja, Parangtritis, Kretek, Bantul, Yogyakarta.

Kompleks makam hanya terdiri atas lima buah batu nisan. Batu nisan Eyang Dipakusuma terletak di bagian tengah di antara empat nisan yang lain. Kompleks makam dibuat datar dengan lapisan-lapisan lantai yang bertingkat-tingkat yang semakin ke atas tampak semakin mengecil atau memuncak. Lapisan lantai terdiri atas tiga bidang dengan ukuran yang berbeda-beda. Kompleks makam ini sampai sekarang dibiarkan terbukan tanpa cungkup.

Cerita Tutur (mitos)

Menurut Sadiyo (61) yang menjadi jurukunci setempat, umumnya peziarah yang datang ke makam Dipakusuma mempunyai niat untuk mendoakan arwah Eyang Dipakusuma sekaligus memohon keselamatan, laris dalam berdagang, sukses menaikkan drajat-pangkat, gampang jodoh, dan ketenteraman

Pada masa mudanya Eyang Dipakusuma yang mempunyai nama kecil Raden Sahid itu pernah mengutuk salah satu pimpinan vasal Majapahit yang bernama Adipati Wirasamodra. Oleh karena kelancangan dan keberaniannya menentang Prabu Brawijaya, Adipati Wirasamodra dikutuk menjadi binatang. Hanya saja dalam cerita tersebut tidak dijelaskan apakah dia menjadi ayam atau kambing. Eyang Dipakusuma juga pernah bertapa selama 95 hari dengan cara bersandar pada sebatang kayu cendana sari. Pada hari ke-95 Eyang Dipakusuma mendapatkan wahyu/cahaya serta mendapat jimat yang dinamakan Mukjijat, Sapu Jagat, dan Wasiyat Jati. Sejak itu pula Eyang Dipakusuma ditetapkan untuk bermukim di Bukit Tegalreja. Padahal di dalam cerita disebutkan bahwa ia mempunyai jatah kapling kerajaan di Pengging. Kerajaan Pengging tersebut malah diberikan kepada saudaranya yang bernama Damarmoyo yang kelak menurunkan tokoh legendaris bernama Jaka Bandung atau Pangeran Bandung. Jaka Bandung ini dalam legenda diceritakan mengutuk Rara Jonggrang menjadi arca di Prambanan.

Setelah menjadi pendeta Eyang Dipakusuma dikenal sebagai juru sembuh, dan orang sakti mandraguna Sebagai pendeta atau begawan ia bergelar Begawan Minang Samodra atau Begawan Minang Samudana.

Teks dan Foto: Sartono K.