Situs-Situs

SENDANG PONCITAN TRIHARJO, SLEMAN

Keletakan

Sendang Poncitan atau Sendang Jembirit terletak di antara Dusun Poncitan dan Dusun Ngangkrik, Kalurahan Triharjo, Kecamatan Sleman, Kabupaten Sleman, Propinsi DIY.

Data Fisik

Sendang Poncitan memiliki keluasan sekitar 12 m x 8 m. Sendang ini berada di bawah tebing Sungai Jembirit yang menjadi batas alamiah antara Dusun Poncitan dan Dusun Ngangkrik. Untuk menuju lokasi sendang tidak ada jalan lain kecuali jalan setapak yang berada di kedua tebing sungai, yakni tebing Dusun Poncitan maupun tebing Dusun Ngangkrik.

Latar Belakang

Hampir semua mata air/sumber air entah itu dikatakan sebagai sendang, telaga, beji, belik, dan sebagainya sering dikaitkan dengan legenda dan mitologi. Salah satu cerita yang populer berkaitan dengan terjadinya mata air di Tanah Jawa biasanya dihubungkan dengan kisah hidup atau perjalanan syiar Islam Sunan Kalijaga atau para wali yang lain. Sekalipun demikian, Sendang Poncitan tidak memiliki kaitan cerita dengan itu semua.

Sampai sekarang pun tidak ada yang tahu siapa yang membuat, atau menemukan sendang ini untuk yang pertama kali. Setahu Mohadi (55) warga Ngangkrik, Triharjo, Sleman, sendang ini sudah ada sejak dulu kala. Ketika ia kanak-kanak sumber atau mata air sendang ini cukup besar. Air berasal dari sebuah rong (liang/lubang) di dalam cadas di tebing sungai. Saking besarnya debit air, maka air yang keluar dari dalam cadas itu terdengar menggemuruh.

Sendang ini kecuali digunakan untuk mandi dan mencuci juga sering menjadi tujuan para pelaku spiritual. Menurut sumber setempat sendang ini ditunggui oleh makhluk gaib berupa ikan pelus yang berwarna putih. Ikan pelus adalah ikan sebangsa belut dengan ukuran yang sangat besar. Bahkan diameter ikan pelus ini ukurannya bisa sebesar betis orang dewasa.

Cerita mitologis atau legenda tersebut secara langsung ataupun tidak menjadikan tempat seperti Sendang Poncitan ini relatif terjaga. Baik kebersihan maupun kelestariannya. Pasalnya cerita mitologis yang melatarbelakanginya menjadikan warga setempat merasa sayang dan sekaligus hormat pada tempat tersebut. Hormat dan sayang tidak selalu bisa diartikan sebagai kultus atau pengkeramatan.

a. sartono