Situs-Situs

MASJID SELA, MASJID KECIL KARYA
SULTAN HAMENGKU BUWANA I

Kelatakan :

Masjid Sela terletak di RT 41, RW II, Kampung Panembahan, Kelurahan Panembahan, Kecamatan Keraton, Propinsi DIY. Masjid ini terletak di tengah pemukiman penduduk yang cukup padat. Keletakannya tidak begitu jauh dari kompleks atau pusat produksi Gudeg Wijilan (sekitar 350 meter). Akses jalan untuk menuju ke Masjid Sela merupakan gang kampung yang sempit. Bahkan pengendara kendaraan beroda dua pun harus menuntun kendaraannya untuk memasuki wilayah ini.

Kondisi Fisik

Bangunan Masjid Sela memiliki ukuran luas sekitar 6 m x 6 m. Sedangkan ukuran tanah yang ditempatinya sekitar 7 m x 8 m. Atap pada masjid ini masih merupakan bangunan lama dengan motif atap berupa wajik. Kemuncak dari masjid ini juga masih merupakan bangunan lama. Kemuncak masjid berbentuk kerucut dengan ornamen yang kucup kaya di semua sisi dan sudutnya. Kemuncak semacam ini agak umum terdapat pada masjid-masjid Jawa di masa lalu.

Masjid ini dulunya juga dilengkapi dengan kolam di bagian depan (halamannya). Sama seperti masjid-masjid di Jawa masa lalu. Kolam yang difungsikan untuk mencuci kaki bagi siapa pun yang akan memasuki masjid dan sebagai lambang pensucian diri ini sekarang sudah tidak ada lagi. Keberadaan kolam ini telah tergantikan oleh lantai yang diperkeras dengan ubin batu.

Pada tahun 1960-an kompleks masjid ini tidak terawat. Ruang di dalam masjid digunakan untuk tempat penyimpanan keranda (alat pengusung jenazah). Bahkan kolam di depan masjid ini digunakan untuk lokasi pembuangan sampah. Akhirnya pada tahun 1965-an dilakukan rehabilitasi masjid ini. Kemudian setelah bersih dan menjadi baik, masjid difungsikan sebagai masjid umum (tidak dikhususkan lagi untuk keluarga tertentu). Demikian menurut keterangan takmir masjid setempat yang bernama Sunarwiyadi (50).

Latar Belakang

Masjid Sela dibangun pada zaman Sultan Hamengku Buwana I (1755-1792) dan dilanjutkan oleh Sultan Hamengku Buwana II (1792-1810). Akan tetapi pada bagian atas pintu utama masjid ini tercantum angka tahun pembangunan masjid tersebut, yakni 1709 Caka atau sekitar 1787 Masehi. Masjid ini sebenarnya pada awalnya merupakan masjid panepen yang dibuat di dalam kompleks rumah (dalem) pangeran. Jadi fungsinya lebih sebagai masjid keluarga pangeran. Ada pun pangeran yang memiliki masjid ini adalah Pangeran (GRM) Sundoro yang kemudian bergelar sebagai Sultan Hamengku Buwana II.

Sebagai masjid panepen yang berasal dari kata nenepi dan bermakna menyendiri atau semadi ini Masjid Sela memang lebih difungsikan untuk hal yang demikian. Artinya, pada waktu-waktu tertentu masjid ini memang digunakan untuk bertafakur oleh pangeran atau keluarga yang memilikinya.