Situs-Situs

MAKAM ISTRI PANJI INU KERTAPATI DI SLEMAN

Keletakan:

Makam Dewi Anggraeni terletak di Dusun Blambangan, Kalurahan Jogotirto, Kecamatan Berbah, Kabupaten Sleman, Propinsi DIY. Letak makam ini berada di tengah-tengah pemukiman penduduk yang berdiri di perbukitan di wilayah itu.

Kondisi Fisik:

Makam Dewi Anggraeni telah diberi pagar tembok keliling sekalipun tidak beratap. Akan tetapi tembok keliling telah mengalami kerusakan di beberapa bagian. Tembok dari susunan batu bata ini juga tidak diplester. Lumut telah menyelimuti hampir seluruh permukaan temboknya. Pada sisi utara pagar tembok ini terdapat sebuah pintu yang terbuat dari kayu. Pintu kayu ini juga dalam kondisi rusak.

Di dalam pagar tembok yang juga disebut cungkup ini hanya terdapat sebuah nisan yang terbuat dari batu andesit, yakni nisan Dewi Anggraeni. Nisan ini juga kelihatan berlumut. Nisan dari Dewi Anggraeni ini berukuran panjang sekitar 140 Cm, lebar 40-an Cm, dan tinggi 65-an Cm. Sedangkan ukuran pagar tembok atau cungkup tersebut sekitar 2,5 m x 2 m. Ketinggian cungkup sekitar 1,5 m.

Latar Belakang:

Cerita Panji sampai sekarang masih melegenda. Cerita ini setidaknya melibatkan tokoh utama Panji Asmarabangun atau Panji Inu Kertapati, Dewi Galuh Candrakirana (Dewi Sekartaji), dan Dewi Anggraeni. Ketiga tokoh ini pada akhirnya terlibat cinta segitiga. Cerita ini juga berkembang dalam berbagai varian. Keong Emas, Ande-Ande Lumut adalah beberapa contoh varian dari kisahan tentang Panji.

Cerita cinta antara Dewi Anggraeni dengan Raden Panji Inu Kertapati dan kemudian antara Panji dengan Galuh Candrakirana tidak bisa dilepaskan dari palihan nagari yang dilakukan Raja Airlangga (1028-1035) atas kerajaannya yang semula bernama Kahuripan. Kerajaan yang dibagi dua atas jasa Empu Barada ini kemudian menjadi Kerajaan Jenggala dan Panjalu (Kediri). Airlangga terpaksa melakukan palihan negari karena ia khawatir anak-anaknya akan berseteru dan berperang memperebutkan warisannya jika kelak ia wafat. Palihan nagari ini dilakukan Airlangga pada tahun 1045. Kedua wilayah ini dibatasi oleh Sungai Brantas dan Gunung Kawi. Diperkirakan wilayah Jenggala meliputi Malang, Surabaya, Rembang, Pasuruhan dan beribukota di Kahuripan. Sedangkan wilayah Panjalu (Kediri) meliputi Kediri, Madiun, Ngawi, dan sekitarnya.

Sesungguhnya hak waris kerajaan yang dimiliki Airlangga jatuh kepada Dewi Kilisuci selaku anak dari permaisuri. Akan tetapi Dewi Kilisuci ternyata lebih memilih menjadi pertapa dan mengundurkan diri dari urusan dunia ramai. Dewi Kilisuci kemudian bertapa di Gunung Klotok (Gua Selomangleng), sebelah barat Kediri. Pada akhirnya Janggala ini dipimpin oleh raja Jayantakatunggadewa. Sedangkan Kadiri kemudian diperintah Jayawarsyatunggadewa.

Jayantaka berputra Raden Panji Inu Kertapati/Asmarabangun. Dalam cerita tutur Jayantakatunggadewa ini juga sering dikenal dengan nama Prabu Amiluhur. Sedangkan Jayawarsyatunggadewa kemudian memiliki putri bernama Galuh Candrakirana/Dewi Sekartaji. Kedua anak ini kemudian diperjodohkan. Dalam perjalanan waktu Raden Panji justru terpikat pada seorang gadis yang bernama Dewi Anggraeni.

Akhirnya atas suruhan Jayantaka, Dewi Anggraeni dibunuh oleh Panji Braja Nata. Sementara itu Raden Panji Inu Kertapati telah terikat perkawinan pula dengan Dewi Galuh Candrakirana. Hanya saja cintanya kepada Dewi Anggraeni tidak bisa pupus. Ketika ia mencari Dewi Anggraeni, ia hanya dapat menemukan mayatnya di tengah hutan. Mayat itu pun dikuburkan di tempat itu yang kemudian menjadi Dusun Blambangan, Jogotirto, Berbah, Sleman. Demikian jurukunci setempat, Pademo Pawiro (71) menerangkan.

teks dan foto: a sartono