3 Juli 2008, Situs
KYAI DAN NYAI JOPATI PENDIRI DUSUN JOPATEN,
PONCOSARI, SRANDAKAN, BANTUL
Sejarah terjadinya Dusun Jopaten menurut sumber setempat berkait erat dengan keberadaan tokoh yang bernama Kyai dan Nyai Jopati. Diceritakan bahwa pada masa lampau (yang tidak pernah diketahui ketepatan angka tahunnya)

3 Juli 2008, Pasinaon basa Jawa
RAGAD SEKOLAH TANSAYA LARANG Ngancik sasi Juli, wong tuwa sing duwe bocah umur sekolah padha direpotake golek sekolahan wiwit saka TK, SD, SMP, SMA, nganti tekan pawiyatan luhur (perguruan tinggi). Yen wis ngrembug golek sekolahan, ateges siap-siap ngetokake ragad. Ragad sekolahan saiki ora sethithik.

2 Juli 2008, Kabar Anyar
“ANAK MUDA DIPASUNG” DI PADEPOKAN BAGONG Seorang anak muda tidur di ranjang tanpa kasur dan hanya beralaskan tikar. Kakinya dijepit dengan kayu, sehingga anak muda itu tidak bisa menggerakan kakinya. Hari-harinya hanya tertidur dan sesekali duduk di tempat tidur.

2 Juli 2008, Yogjamu
PEDAGANG KASET BEKAS DI BERINGHARJO Pada tahun 1980-an dagangan kaset bekas mudah ditemui di Shopping Centre dan sepanjang jalan sisi selatan Pasar Beringharjo. Sejak pemugaran pasar ini pada awal 1990-an para pedagang di sisi pasar dipindahkan ke trotoar sebelah timur Jalan Ahmad Yani.

2 Juli 2008, Primbon
Wuku Kuningan Untuk mencegah agar terhindar dari celaka perlu mengupayakan slametan. Caranya adalah membuat sega punar atau nasi kuning sapitrah (3,5 kg) dengan cara diliwet/dimasak dengan cara di-dang (memakai kukusan), Lauknya rancapan daging kerbau dimasak basah, disertai doa keselamatan.

2 Juli 2008, Perpustakaan
DAFTAR BUKU PERPUSTAKAAN RUMAH BUDAYA TEMBI (NOMOR 27)

2 Juli 2008, Djogdja Tempo Doeloe
PIJAT ALA JAWA DI JOGJA TEMPO DOELOE Teknik pemijatan untuk melemaskan, menetralkan, dan menyembuhkan berbagai keluhan yang bersangkutan dengan otot atau urat telah dikenal manusia sejak entah kapan. Pada berbagai masyarakat di berbagai belahan dunia hal itu bahkan dikenal sejak jauh sebelum tahun Masehi.

1 Juli 2008, Kabar Anyar
LOGO RADEN ANTASENA DALAM FESTIVAL KESENIAN YOGYAKARTA 2008 Raden Antasena dalam pewayangan gaya Yogyakarta adalah anak dari Raden Wrekudara (Bimasena) dengan istri yang bernama Dewi Urang Ayu, anak Dewa Baruna selaku penguasa lautan (air). Dalam pewayangan gaya Yogyakarta Raden Antasena ini digambarkan sebagai anak bungsu dari Wrekudara.

30 Juni 2008, Kabar Anyar
PAMERAN LUKISAN ‘JAWA BARU’ ‘Jawa Baru’ dalam pameran lukisan di Sri Srasanti Gallery, 6-20 Juni 2008, adalah Jawa dalam pusaran modernisasi dan globalisasi. Perspektif tersebut mewarnai sebagian besar perupa dalam pameran ini. Tapi dari framing realita seperti ini bagaimana para perupa menyikapinya?

30 Juni 2008, Klangenan
REINTERPRETASI SIMBOL WAYANG Manusia tidak dapat dipisahkan dari simbol. Wayang adalah simbol, mulai dari tokoh, adegan dan lakon sampai –dalam wayang kulit-- peralatan pentas (kelir, blencong, dsb), pembabakan waktu dan deretan wayang di sisi kiri-kanan kelir.

30 Juni 2008, Suguhan
SATE KUDA Sate kuda? Mendengar kuliner ini biasanya orang terperangah dulu, lalu ada dua macam reaksi, merinding tidak tega atau merinding penasaran, atau perpaduan keduanya. Di Yogya warung sate kuda kian banyak, yang menandakan konsumennya juga makin banyak. Khasiat sate kuda biasanya menjadi daya tarik utama.

29 Juni 2008, Jaringan Museum
WORKSHOP KONSERVASI KOLEKSI MUSEUM Koleksi museum akan lebih tahan awet apabila ditangani dengan cara yang benar. Sebab tanpa penanganan yang benar, tentu justru akan dapat merusak dan memperpendek umur suatu koleksi.

28 Juni 2008, Kabar Anyar
STREET ART DALAM JOGJA ART FAIR Pameran seni rupa yang diberi tajuk Jogja Art Fair dalam rangkaian Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) ke-20 yang diselenggarakan 15 Juni sampai 7 Juli 2008 di Taman Budaya Yogyakarta, dari segi disain ruang pameran berbeda dari pameran yang selama ini dilakukan di Taman Budaya.

28 Juni 2008, Adat Istiadat
UPACARA RUWATAN SETENGAH KELIR DI NGENTAK, BANGUNJIWA, KASIHAN, BANTUL Asap kemenyan hampir memenuhi seluruh ruangan yang dijadikan tempat upacara ruwatan di Dusun Ngentak, Bangunjiwa, Kasihan, Bantul, Yogyakarta. Bau harum kemenyan demikian menyengat.

27 Juni 2008, Kabar Anyar
MENUNGGU KEHADIRAN PROGRAM STUDI MUSEOLOGI DI UGM Tampaknya dunia permuseuman Indonesia masih harus menunggu saat-saat yang tepat menjadi suatu lokasi yang representatif bagi publiknya. Sebab hingga saat ini, keberadaan museum di Indonesia, (mayoritas pandangan publik) masih dianggap sebagai tempat atau gudang menyimpan benda-benda kuno, rongsok, antik, dan kesan-kesan termarjinalkan lainnya.

 

PERINGATAN SATU TAHUN WAFATNYA MAS SUR

Raden Panji Anom (RPA) Suryanto Sastroatmodjo wafat pada Selasa Kliwon, 17 Juli 2007 pukul 10.00 dalam usia 60 tahun akibat serangan jantung. Peringatan satu tahun wafat beliau diselenggarakan pada 27 Juni lalu di Hotel Inna Garuda Yogyakarta yang diselenggarakan The Dipawita Foundation. Acara ini dilaksanakan bersama acara macapatan di Hotel Inna Garuda yang rutin dilakukan setiap malam Sabtu Pahing. Acara macapatan ini dirintis dan diasuh Mas Sur --panggilan akrab Suryanto Sastroatmodjo—sejak tahun 1995, pada setiap malam Selasa Kliwon.

Mas Sur dikenal sebagai pejuang kebudayaan yang total dan konsisten. Ia juga dikenal sebagai ‘ensiklopedi berjalan’ perihal budaya Jawa. Ia pernah memperoleh anugerah Bintang Emas Bhakti Budaya dari Pusat Kebudayaan Jawa Surakarta (1995) dan Rancage Award (2005). Para kenalannya juga mengenang beliau sebagai orang yang sederhana.

Acara malam itu dibuka dengan tarian karya Bambang Nur Singgih, yang dibawakan penciptanya dengan halus dan anggun. Terasa suasana sakral. Beberapa hadirin mengaku merasakan kehadiran Mas Sur dalam tarian tersebut.

Sahabat Mas Sur, KH Abdul Muhaimin yang juga pemimpin Pondok Pesantren Nurul Umahat dan pendiri Forum Persaudaraan Umat Beriman DIY, menyampaikan ceramah mengenang Mas Sur. Kyai Muhaimin mengawalinya dengan membagi tiga tingkatan kecerdasan bagi orang Jawa, yakni wasis, lantip dan waskita. Wasis sekadar pandai tapi akhlaknya tak dijamin sehingga mudah korupsi. Sedangkan lantip, orang mengolah rasa, bukan dari rasio, sehingga mampu membaca rasa orang lain. Dalam istilah Kyai Muhaimin, orang lantip cukup disemoni, tidak perlu “didupak”. Yang tertinggi waskita, yakni insan kamil, atau dalam istilah Hamengku Buwono V, ‘jasmaningrat’.

Waskita, kata Kyai Muhaimin, tidak bisa dicapai dengan hidup glamour. Waskita inilah tingkatan Mas Sur, yang lebih menyukai sepi dan kesederhanaan, menghindari keglamouran. Saat Mas Sur meninggal, tambahnya, tidak ada pejabat yang hadir.

Kyai Muhaimin juga mengatakan, godaan sekarang serba materialistis dan entertainment. Tapi Mas Sur, kenangnya, terus mengasah ketajaman intelektual, rasa dan spiritualnya. Karya-karyanya intuitif dan mencapai esensi simbol, dan terjiwai dalam kehidupan. Kyai Muhaimin menyimpulkan bahwa Mas Sur mampu menjangkau esensi kehidupan dan mengaktualisasikannya.

Acara ini meluncurkan buku Mas Sur yang berjudul ‘Bung Sultan: Bunga Rampai Esai tentang Lelaku Priyayi Jawa’ terbitan Adi Wacana. Buku ini merupakan cetakan ulang dari terbitan awal yang berjudul ‘Pada Sebuah Musim: Rangkuman Tulisan tentang dan dari Dunia Priyayi’. Yang dimaksud dengan ‘Bung Sultan’ adalah Sinuhun Sultan Hamengku Buwono IX. Mas Sur, saat masih kecil, memanggil Sinuhun dengan ‘Bung Sultan’. Judul baru tersebut memang bisa disalahpahami calon pembaca bahwa buku ini mengenai kehidupan Sri Sultan.

Sejumlah buku ‘Bung Sultan’ diberikan oleh pimpinan Adi Wacana, Sitoresmi Prabuningrat, kepada sebagian undangan, termasuk Rumah Budaya Tembi.

Kata pengantar yang ditulis R Toto Sugiharto (kolega Mas Sur di Harian Bernas) dan Dewanto (salah satu pendiri The Dipawita Foundation) mengenang Mas Sur sebagai tokoh yang total dan sederhana. Toto melihat bahwa filsafat hidup Mas Sur tercermin dalam kiprah almarhum. Totalitas penampilan dan gaya hidup Mas Sur merupakan cerminan dari pandangan hidup yang diyakininya secara konsisten.

Kebudayaan yang diperjuangkan Mas Sur, menurut Toto, adalah kebudayaan rakyat. Mas Sur melihat estetika sebagai nonsense karena keindahan tiada terukur sehingga deskripsi atasnya tidak lebih sebagai abstraksi dan rasionalitas. Maka Mas Sur selalu melibatkan setiap orang, apa pun profesi formalnya. Ia memandang orang dari apa yang dikatakan dan dikerjakannya.

Toto juga menunjukkan bahwa meski Mas Sur menerima gelar dan nama Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Surya Puspa Hadinegara dari Keraton Surakarta Hadiningrat (1997) namun ia merupakan seniman yang mewarisi nilai dan gaya hidup bohemian, sekaligus seniman rendah hati yang melakukan tapa ngrame.

Dewanto mengenang Mas Sur sebagai orang yang bersahaja, bahkan penampilannya mungkin terkesan agak ‘njembel’. Sebagai wartawan Harian Bernas, setiap hari Mas Sur mengendarai sepeda jengki ke kantor dengan membawa tas kresek hitam yang berisi alat-alat kerjanya. Dewanto juga mengisahkan bagaimana Mas Sur berbulan-bulan termenung di teras rumah kontrakannya, memikirkan nasib masyarakat bangsanya yang sedang terbuai hiruk-pikuk reformasi tanpa agenda cinta bangsa dan tanah air. Hari-hari kepiluan itu, kata Dewanto, menjadi hari-hari terakhirnya.

Acara malam itu diakhiri dengan kegiatan rutin macapatan. Aktivitas yang masih terus berjalan meski Mas Sur telah tiada. Sebuah langkah yang meneruskan dan menghidupkan semangat dan inspirasi almarhum.

a. barata & herjaka

Untuk dapat melayani kebutuhan informasi pada Anda dengan lebih baik, segera daftarkan diri Anda pada kami lewat e-mail tembi@tembi.org dan Anda akan mendapatkan fasilitas mengakses informasi-informasi dengan lebih leluasa.

Terima kasih atas partisipasi Anda.

nb: jangan lupa sebutkan identitas diri Anda saat mendaftar pada kami, GRATIS!

buku tamu