Primbon
Serial Primbon 109
Selamatan Tingkep (3)
Di dalam Serat Pustakaraja Madya yang diterbitkan oleh Tanaya pada tahun 1938, menceritakan bahwa upacara Tingkeban dimulai pada jaman pemerintahan Prabu Jayapurusa di Negara Widarba. Diceritakan bahwa di wilayah kekuasaan negara Widarba, hiduplah pasangan suami isteri yang bernama Ki Sadya dan Nyi Tingkeb. Mereka sudah menjalani hidup berumah tangga selama dua puluh lima tahun. Tetapi setiap kali Nyi Tingkep melahirkan, anaknya mati, tidak mau diemong.
Dengan kematian anaknya yang beruntun tersebut Ki Sadya lan Nyi Tingkeb sangat bersedih. Siang malam mereka memohon agar diberi ampunan dan keselamatan. Seruan Ki Sadya dan Nyi Tingkep didengar oleh Hyang Girinata, dewa penguasa tiga dunia. Karena iba dan belaskasihnya kepada pasangan yang malang, Hyang Girinata memberikan wisik atau pesan secara gaib, bahwa Ki Sadya dan Nyi Tingkeb disuruh menghadap raja Prabu Jayapurusa, karena raja Widarba tersebut adalah titisan atau jelmaan Batara Wisnu, yang tentu saja dapat memberikan jalan keluar kepada derita yang dialamai Ki Sadya dan Nyi Tingkeb.
Segera Ki Sadya dan Nyi Tingkep menghadap raja Widarba. Sesampainya dihadapan raja, Ki Sadya dan Nyi Tingkep menceritakan apa yang dideritanya selama ini, hingga mendapat pesan gaib yang diberikan oleh Hyang Girinata, agar dirinya berdua menghadap sang raja. Mendengar penuturan Ki Sadya dan Nyi Tingkep, Sang Prabu Jayapurusa besar rasa belas kasihnya. Selanjutnya Sang Prabu berkenan memberikan jalan supaya Ki Sadya dan Nyi Tingkep terhindar dari bebendu atau kutukan. Syaratnya adalah, Ki Sadya lan Nyi Tingkeb mau menjalani empat hal yaitu:

Dengan hati mantap pasangan tersebut melakukan apa yang telah di perintahkan Sang Prabu. Keajaiban terjadi, setelah melakukan empat hal sesuai dengan perintah Prabu Jayapurusa, Nyi Tingkeb hamil dan kemudian melahirkan anaknya dengan selamat. Bahkan selanjutnya Nyi Tingkep berulang-ulang hamil dan melahirkan anak-anaknya dengan selamat hingga jumlah anaknya mencapai 26. Sang Prabu gembira hatinya mendengar kabar bahwa Ki Sadya dan Nyi Tingkeb telah terhidar dari kutukan
Sampai pada usia senja Sang Prabu selalu mendapat laporan atas pasangan Ki Sadya dan Nyi Tingkep. Pada suatu hari sang Prabu memerintahkan agar Ki Sadya dan Nyi Tingkep menghadap raja. Nama Ki Sadya dan Nyi Tingkep diganti menjadi Ki Brayut dan Nyi Brayut. Dikarenakan anaknya yang jumlahnya mencapai dua puluh enam tersebut pating brayut.
Selanjutnya sang Prabu Jayapurusa menyerukan kepada seluruh kawula negara Widarba, khususnya bagi para calon ibu dan para ibu yang sedang hamil, untuk menjalani empat hal seperti yang telah dijalani Nyi Tingkep, agar supaya dapat melahirkan dengan lancar sehat dan selamat baik ibunya dan juga anakanya.
Selain empat hal yang dijalani Nyi Tingkep, ada ubarampe atau sesaji yang diadakan pada setiap bulannya untuk memohon keselamatan bagi bayi dalam kandungan seperti yang ditulis dalam Serat Pustakaraja Madya yaitu:
Dalam perjalanan selanjutnya selamatan dipusatkan pada bulan ketujuh, dengan pertimbangan karena selamat tujuh bulan adalah selamatan yang paling komplit, sebagai tanda syukur karena ujud bayi telah mendekati sempurnya. Tradisi selamatan yang berhubungan dengan kehamilan awal mulanya dilakukan oleh Nyi Tingkep, maka selamatan yang dipusatkan pada bulan ke tujuh disebut dengan Tingkepan yang artinya mengikuti jejak Nyi Tingkep.
Herjaka HS