Primbon

Calon Ibu yang mengandung tujuh
bulan (karya Herjaka HS)
Serial Primbon 107
Selamatan Tingkep
Selamatan Tingkep, Tingkepan atau disebut
mitoni adalah selamatan untuk usia kandungan tujuh bulan. Hari dan
tanggal yang dipilih untuk upacara Tingkepan adalah hari Rabu atau
Sabtu, tanggal ganjil sebelum tanggal 15. yang perlu disiapkan dalam
upacara Tingkepan adalah:
- Racikan air di pengaron atau jambangan
kecil. Air tersebut diambil dari tujuh sumber mata air dari
tempat-tempat keramat, satu diantaranya adalah sumber mata-air
setempat. Kemudian, tujuh sumber mata air yang sudah dijadikan
satu tersebut diberi bunga mawar, bunga melati, bunga kanthil
dan bunga kenanga
- Cidhuk atau gayung yang dipakai untuk
menyiram dibuat dari tempurung kelapa yang masih ada kelapanya
- Tujuh macam konyoh (penggosok badan
dari tepung beras dan kencur dicampur mangir sejenis lulur, daun
pandan wangi dan daun kemuning) yang masing-masing diberi warna
yaitu: merah, hitam, putih, kuning (makna nafsu manusia), merah
muda (campuran dari warna merah dan putih. Warna merah adalah
symbol dari sel telur Ibu dan warna putih menyimbolkan sperma
bapak), biru (melambangkan langit atau awang-uwung), dan ungu (kehidupan
sempurna).
- Dingklik di beri alas klasa bangka (tikar
kecil ukuran 40 x 40 cm yang dibuat dari anyaman daun mendhong)
Dedauan yang terdiri dari : Daun apa-apa, adalah merupakan doa
harapan agar tidak terjadi apa-apa yang mencelakakan. Daun kara,
agar terhindar dari sakara-kara segala mara bahaya. Daun kluwih,
agar linuwih, mempunyai kemampuan lebih, daun dadapsrep, agar
sejuk damai, dan daun alang-alang, agar tidak mendapatkan
halangan satupun. Beberapa jenis kain ukuran kira-kira 40 cm
persegi yaitu: letrek (kain kuning) jingga (kain merah),
bango-tulak, (kain putih tepinnya biru) sindur (kain putih
tepinya merah), sembagi (kain bermotif bunga), slendhang lurik
puluh watu (slendhang lorek putih hitam) yuyu sekandang (kain
lurik tenun berwarna coklat ada garis-garis benang kuning) dan
mori putih
- aneka sesaji yang terdiri dari : 1.
jajan pasar, 2. jenang abang, 3. jenang putih, 4. jenang
baro-baro, 5. jenang procot, 6. nasi kering, kedhele, wijen dan
kacang digoreng sangan (tanpa minyak), 7. emping ketan digoreng
sangan dan dicampur rautan gula Jawa.
- Tumpeng Robyong: yaitu nasi putih yang
dibentuk kerucut, dililiti kacang panjang dari bawah
melingkar-lingkar sampai atas dan di atasnya diberi telor ayam
kampung, terasi dan cabai merah panjang. Nasi kerucut yang
dinamakan tumpeng tersebut. dikelilingi aneka sayuran yang sudah
direbus ; bayam, kobis, kecambah, wortel dan buncis, serta
lauk-pauk; tempe, teri, telur, dan bumbu gudangan yang dibuat
dari parutan kelapa diberi bumbu dapur dan dikukus. Bumbu dan
lauk-pauk tersebut dicampur menjadi satu dengan aneka sayuran.
Rangkaian Tumpeng robyong yang dikelilingi campuran sayuran,
bumbu dan lauk-paulnya merupakan manifestasi dari pengadukan
samodra yang dilakukan oleh para dewa, dalam upaya mencari tirta
amerta atau air hidup abadi. Dikarenakan Tirta Amerta berada
didasar samodra, maka untuk mengambilnya laut perlu diaduk agar
Tirta Amerta naik ke permukaan. Yang dipakai mengaduk adalah
gunung Mandara atau ada yang menyebut Gunung Meru, digambarkan
nasi putih dibentuk kerucut. Cabai merah panjang menggambarkan
api yang keluar dari kawah gunung Mandara. terasi menggambarkan
racaun yang terangkat dari dasar samodra. telor adalah gambaran
tirta amerta. Kacang panjang menggambarkan Dewa Naga Basuki yang
sedang melilit dan memutar gunung untuk mengaduk samodra. Aneka
sayuran, lauk pauk dan bumbu gudangan adalah isi bawah laut.
Tumpeng robyong menggambarkan bahwa proses pengadukan dalam
upaya mencari tirta amerta sedang berlangsung. seluruh isi dasar
laut bercampur terangkat ke permukaan digambarkan dengan
gudangan. bersamaan dengan terangkatnya seluruh isi lautan
terangkat pula kotoran atau racun yang mematikan. Para mengira
bahwa cairan kental berwarna kecoklatan tersebut adalah tirta
amerta dan ingin segera meminumya. Mengetahui para dewa dalam
bahaya, Batara Guru dengan cepat menyambar racun tersebut dengan
mulutnya. para dewa selamat dari racun yang mematikan. namun
akibatnya racun yang masuk sampai ke leher membuat leher Batara
Guru berwarna ungu. sejak saat itu Batara Guru diberi sebutan
Sang Hyang Nilakantha. Setelah racun diamankan, para dewa
melajutkan pengadukan samodera dan pada akhirnya membuahkan
hasil yaitu tirta amerta. para dewa meminumnya dan mereka hidup
abadi dan tak akan mati.
- Penyon : dibuat dari tepung beras di
adoni dengan santan kelapa, diberi macam-macam warna : kuning
hitam putih merah hijau orange, di lentreng-lentreng
bersap-sapan. lalu dikukus dan di iris-iris.
- Sampora : tepung beras diadoni dengan
santan, dibentuk tempurung tengkurep seperti bulus, di dalamnya
diberi gula Jawa, lalu di langseng (nama peralatan untuk megukus)
- Pring sadhapur : tepung beras diliwet
matang dan dibuat tumpeng-tumpengan sebanyak 9 buah, lalu diberi
roda-roda kecil sebesar ibu jari dari tepung beras dan diberi
aneka warna.
Setelah ubarampe yang dibutuhkan siap,
upacara Tingkepan dapat segera dimulai.
Herjaka HS